📑 Daftar Isi

Logo General Motors sebagai simbol penyelesaian gugatan privasi data Smart Driver senilai USD 220 juta

GM Bayar Rp3,5 Triliun Usut Data Privasi Pengemudi ke 35 Negara Bagian

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:
  • GM membayar USD 220 juta untuk menyelesaikan gugatan privasi data dari 35 negara bagian AS dan District of Columbia
  • Program Smart Driver (2016–2024) melacak pengereman mendadak, mengemudi larut malam, dan pelanggaran kecepatan
  • Data dijual ke data broker untuk asuransi tanpa izin pelanggan, memicu kenaikan premi
  • Lebih dari 370.000 pengemudi salah diberi tahu status pendaftaran
  • GM wajib membatasi pengumpulan data dan menjalani penilaian privasi; FTC melarang berbagi data lima tahun

Telset.id – General Motors (GM) sepakat membayar USD 220 juta atau sekitar Rp3,5 triliun untuk menyelesaikan gugatan privasi data yang diajukan jaksa agung 35 negara bagian Amerika Serikat dan District of Columbia. Kesepakatan ini menutup kasus penyalahgunaan program OnStar Smart Driver yang menjual data kebiasaan mengemudi pelanggan ke perusahaan asuransi tanpa izin.

Kasus ini menjadi salah satu penyelesaian privasi data konsumen terbesar yang melibatkan pabrikan otomotif. Sebelumnya, The New York Times pada 2024 melaporkan bahwa GM mendaftarkan jutaan pelanggan ke Smart Driver sepanjang 2016 hingga 2024, lalu melacak kebiasaan mengemudi mereka.

Data yang dikumpulkan mencakup pengereman mendadak, mengemudi larut malam, dan pelanggaran batas kecepatan. Informasi tersebut kemudian dijual ke data broker untuk kepentingan asuransi. Akibatnya, sejumlah perusahaan asuransi menaikkan premi berdasarkan data dari program tersebut.

GM logo

Pelanggaran Izin dan Notifikasi ke Pelanggan

Para jaksa agung menyatakan GM tidak memberi tahu pelanggan bahwa data mereka akan dijual untuk tujuan asuransi. Sebagian pengemudi bahkan tidak pernah diberi tahu bahwa mereka terdaftar dalam program Smart Driver.

GM disebut memberikan bonus kepada dealer untuk mendaftarkan sebanyak mungkin pelanggan ke Smart Driver. Dalam sejumlah kasus, karyawan dealer diduga menyetujui syarat dan ketentuan atas nama pelanggan tanpa izin tegas dari mereka.

Selain itu, GM tidak selalu memberi tahu pelanggan soal status pendaftaran mereka. Lebih dari 370.000 pengemudi diberi tahu bahwa mereka tidak terdaftar, padahal sebenarnya terdaftar. GM akhirnya mengeluarkan mereka dari program, tetapi tidak memberi tahu soal kesalahan tersebut dan tetap menjual data mereka.

Jaksa agung menilai data yang dikumpulkan GM bersifat “personal, identifiable and specific” atau pribadi, dapat diidentifikasi, dan spesifik. Sifat data inilah yang membuat pelanggaran privasi semakin serius di mata para penuntut.

Kewajiban Baru dan Sanksi Lanjutan

Sebagai bagian dari kesepakatan, GM diwajibkan membatasi data mengemudi yang dikumpulkan dari pelanggan dan melindungi informasi pribadi mereka ke depan. Perusahaan juga akan menjalani penilaian program perlindungan dan privasi data internal maupun eksternal yang diwajibkan, pengawasan, serta pelatihan tambahan di jaringan dealernya.

Kasus ini bukan satu-satunya sanksi yang diterima GM. Sebelumnya pada tahun yang sama, Federal Trade Commission (FTC) melarang GM berbagi data konsumen tertentu dengan pihak ketiga selama lima tahun akibat persoalan ini.

Pada Mei, GM juga mencapai penyelesaian terpisah dengan California senilai USD 12,75 juta. Penyelesaian dengan 35 negara bagian dan District of Columbia ini melengkapi rangkaian konsekuensi hukum atas praktik pengumpulan data Smart Driver.

Bagi pelanggan, keputusan ini menegaskan bahwa data kebiasaan mengemudi termasuk informasi pribadi yang dilindungi. Kewajiban pembatasan pengumpulan data dan pengawasan program privasi menjadi batas baru bagi cara GM dan jaringan dealernya menangani informasi konsumen ke depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.