📑 Daftar Isi

Ilustrasi data center AI dengan pasokan listrik dan koneksi grid sebagai penentu lokasi

AI Butuh Listrik, Waktu Koneksi Grid Jadi Penentu Lokasi Data Center

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Time to power jadi ukuran baru kesiapan infrastruktur AI, bukan sekadar ketersediaan listrik
  • Investor butuh kepastian izin dan koneksi grid sesuai jadwal agar listrik tetap terjangkau
  • China investasi sekitar US$295 miliar untuk jaringan komputasi AI nasional
  • 2.500GW kapasitas pembangkit menunggu antrean koneksi grid global
  • Data center di FLAP-D bisa menunggu hingga satu dekade untuk koneksi grid
  • Fleksibilitas 30 jam per tahun bisa gandakan kapasitas grid data center Eropa
  • Schneider Electric serahkan sekitar 150 solusi data center modular untuk Compass

Telset.id – Perlombaan kepemimpinan AI selama ini dinilai sebagai kontestasi chip, model, dan talenta terbaik. Namun di balik setiap algoritma, model, dan terobosan, ada energi yang menggerakkan semuanya. Akses terhadap listrik yang andal dan kecepatan data center terhubung ke grid—yang dikenal sebagai time to power—kini menjadi faktor penentu di mana data center atau AI factory dibangun dan siapa yang menuai manfaat ekonominya.

Pandangan tersebut disampaikan FrĂŠdĂŠric Godemel, EVP Energy Management Schneider Electric. Menurutnya, bagi investor, janji sebuah negara soal melimpahnya listrik di masa depan tidak lagi cukup. Daya harus dapat diakses, terprediksi, berharga kompetitif, dan tersedia sesuai tenggat waktu yang sejalan dengan kecepatan pasar AI.

Koneksi yang tertunda beberapa tahun bisa berarti kehilangan satu siklus teknologi penuh. Karena itu, time to power menjadi ukuran baru kesiapan infrastruktur AI, bukan sekadar ketersediaan pasokan listrik secara umum.

Tiga Fondasi Keputusan Investasi Data Center

Operator data center mengambil keputusan investasi berdasarkan tiga hal mendasar: lingkungan regulasi, ketersediaan energi, dan harga energi tersebut. Namun menurut Godemel, investor kini makin mencari kepastian—keyakinan bahwa izin akan diperoleh dan koneksi grid terpenuhi sesuai jadwal, serta listrik tetap terjangkau.

Dalam konteks global, China dan Amerika Serikat mendominasi kapasitas tetapi menempuh jalur berbeda. China menginvestasikan sekitar US$295 miliar untuk jaringan komputasi AI nasional, disertai infrastruktur energi dan energi terbarukan. Di Amerika Serikat, permintaan listrik yang tumbuh dan tenggat koneksi grid yang terus berubah meningkatkan minat pada pembangkit dan penyimpanan energi di lokasi (on-site).

Eropa menghadirkan gambaran lebih terfragmentasi. Sebagian pasar menawarkan kapasitas tersedia dan kondisi investasi menarik; sebagian lain menghadapi antrean grid dan perizinan yang rumit. Meski demikian, Eropa dinilai memiliki banyak bahan yang tepat: kombinasi tenaga nuklir dan energi terbarukan, infrastruktur mapan, serta keahlian industri yang dalam. Eropa mungkin melewatkan sebagian besar gelombang pertama pembangunan data center AI, tetapi masih berpeluang menangkap manfaat ekonomi gelombang berikutnya.

Barisan rak server di dalam data center modern

Tekanan pada infrastruktur energi ini juga terasa di rantai pasok komponen. Permintaan dari AI data center turut memperebutkan kapasitas produksi, seperti tergambar dalam laporan soal harga PCB naik yang berdampak pada pasar PC.

Tiga Tuas yang Harus Ditarik Sekarang

Godemel menyebut ada tiga tuas yang perlu ditarik dunia untuk memanfaatkan dampak AI secara maksimal.

Pertama, dalam ekonomi AI, kecepatan adalah daya. Sistem energi di seluruh dunia kesulitan mengakomodasi pertumbuhan permintaan listrik yang cepat. Banyak grid saat ini tidak dibangun untuk mengelola beragam sumber energi sekaligus permintaan daya yang makin intens dan terkonsentrasi. Diperkirakan 2.500GW kapasitas pembangkit menunggu dalam antrean koneksi di seluruh dunia.

Di pusat data center Eropa yang sering disebut FLAP-D (Frankfurt, London, Amsterdam, Paris, dan Dublin), data center bisa menunggu hingga satu dekade untuk koneksi grid, sementara pembangunan fasilitas mungkin hanya butuh empat tahun. Pemerintah dan operator grid diminta mempercepat proses perizinan dan koneksi, dengan transparansi tenggat waktu yang disertai tonggak pencapaian dan pelaporan rutin. Pergeseran dari “first come, first served” ke “first ready, first connected” juga diperlukan, memprioritaskan proyek yang layak dan mendukung grid dibanding aplikasi spekulatif. Upaya Inggris menghapus “zombie projects” disebut memperpendek waktu tunggu yang sebelumnya mencapai 15 tahun untuk sejumlah proyek.

Kedua, fleksibilitas adalah sumber kapasitas baru tercepat. Modernisasi grid penting, tetapi peningkatan besar bisa memakan waktu hingga 15 tahun. Selama ekspansi grid berlangsung, fleksibilitas dapat membebaskan kapasitas yang ada lebih cepat. Teknologi manajemen energi memberi operator visibilitas dan kendali untuk mengoptimalkan penggunaan energi di gedung, transportasi, dan industri, termasuk menggeser permintaan non-kritis seperti pemanasan, pendinginan, dan pengisian daya EV dari periode puncak. Penyimpanan baterai melengkapinya dengan menyimpan listrik berbiaya rendah atau berlebih.

Data center sendiri dapat menjadi aset grid aktif melalui manajemen energi cerdas. Jika data center Eropa menawarkan fleksibilitas hanya 30 jam per tahun, kapasitas grid yang tersedia bagi mereka bisa lebih dari dua kali lipat. Teknologi yang dibutuhkan sudah ada, termasuk sistem manajemen energi digital, penyimpanan baterai, dan microgrid.

Compass Data centers disebut sebagai contoh awal. Schneider Electric telah menyerahkan sekitar 150 solusi data center modular prefabrikasi untuk Compass, sementara pemeliharaan berbasis kondisi yang terhubung membantu mengurangi intervensi manual di lokasi sebesar 40% dan biaya operasional sebesar 20%. Sejalan dengan kontrol microgrid yang diterapkan di kampus Phoenix, ini menunjukkan data center dapat berkembang lebih terprediksi sekaligus memperoleh visibilitas dan kendali untuk mengelola daya secara dinamis saat grid tertekan. Negara kini membutuhkan insentif dan mekanisme pasar yang tepat untuk menghargai fleksibilitas.

Ketiga, jadikan fleksibilitas sebagai jalur menuju listrik termurah. Teknologi dapat membuat energi fleksibel, tetapi ekonomi yang menentukan apakah fleksibilitas itu berskala. Di kawasan seperti Prancis, Jerman, Italia, dan Nordik yang memiliki fleksibilitas grid, rumah tangga dan bisnis dapat diberi imbalan karena menggunakan daya saat energi terbarukan melimpah dan mengurangi permintaan pada waktu puncak. Fleksibilitas di data center bisa berarti tarif lebih rendah atau koneksi bertahap yang lebih cepat dengan imbalan penyimpanan baterai, respons permintaan otomatis, dan partisipasi di pasar fleksibilitas. Pemantauan waktu nyata dan kontrol otomatis dapat mengelola penyesuaian ini tanpa mengorbankan kinerja.

Menurut Godemel, cadangan terbesar grid yang belum tergarap mungkin bukan pembangkit listrik baru, melainkan jutaan aset terhubung yang sudah ada.

Pembangkit angin dan panel surya di atas bukit berumput

Infrastruktur AI Akan Mengikuti Listrik

Infrastruktur AI akan bergerak ke tempat listrik tersedia, terjangkau, dan tangguh. Godemel mengutip laporan Reuters yang menemukan bahwa pengembang data center Eropa mulai bergerak menjauh dari kota-kota besar menuju lokasi dengan energi lebih murah dan koneksi lebih cepat. Negara yang tidak mampu menyediakan kondisi tersebut berisiko kehilangan lebih dari sekadar data center—termasuk investasi, lapangan kerja, ekosistem industri, dan inovasi yang tumbuh di sekitarnya.

Negara yang ingin memanfaatkan ledakan AI, menurutnya, harus sepenuhnya mengandalkan listrik: memperluas pembangkit bersih, memperkuat dan mendigitalkan grid, memperjelas regulasi, serta membuka fleksibilitas di rumah, gedung, transportasi, dan industri. Masa depan AI akan dibentuk oleh data center, tetapi akan dimenangkan di tempat listrik melimpah, tangguh, dan terjangkau. Di era AI, akses terhadap listrik menjadi akses terhadap keunggulan ekonomi.

Kebutuhan daya skala besar ini juga membawa implikasi lain. Seperti halnya isu Starlink disadap yang menyoroti kerentanan data pengguna, ekspansi infrastruktur AI menuntut perhatian pada keamanan dan tata kelola, bukan hanya pasokan energi.

[ META_DESCRIPTION]
Akses listrik dan kecepatan koneksi grid atau time to power kini jadi penentu lokasi data center AI. Simak tiga tuas yang harus ditarik sekarang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.