📑 Daftar Isi

Pesawat penumpang mendarat di bandara

FlightAware Gugat Kalshi atas Penggunaan Data Tanpa Izin

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • FlightAware menggugat Kalshi di New York atas penggunaan data dan merek dagang tanpa izin untuk pasar prediksi
  • Kalshi juga menghadapi gugatan dari Jaksa Agung New York Letitia James atas dugaan operasi perjudian ilegal
  • FlightAware menuntut ganti rugi dan perintah permanen yang melarang Kalshi menggunakan data mereka
  • Kalshi mulai menawarkan taruhan pembatalan penerbangan pada Juli 2026 dengan klaim verifikasi data dari FlightAware
  • FlightAware mengklaim tidak pernah diinformasikan dan telah mengirim surat penghentian dan penghentian
  • Industri penerbangan khawatir pasar prediksi mendorong gangguan massal perjalanan udara

Telset.id – FlightAware, layanan pelacakan penerbangan dan penyedia data, resmi menggugat Kalshi karena diduga menggunakan “data dan namanya untuk menjalankan pasar judi” tanpa izin. Gugatan ini diajukan di New York, di mana Kalshi juga tengah menghadapi tuntutan dari Jaksa Agung New York Letitia James atas dugaan operasi perjudian ilegal.

Dalam gugatannya, FlightAware mengklaim bahwa mereka “tidak pernah diberitahu” bahwa Kalshi akan menggunakan data atau merek dagang mereka. Perusahaan pelacakan penerbangan ini juga menyatakan bahwa Kalshi terus menggunakan data tersebut meskipun telah menerima surat penghentian dan penghentian (cease-and-desist) dari FlightAware.

Atas pelanggaran ketentuan, penggunaan merek dagang, dan kerusakan reputasi yang ditimbulkan, FlightAware menuntut ganti rugi dari Kalshi serta meminta pengadilan mengeluarkan perintah permanen yang melarang Kalshi menggunakan data mereka. Engadget telah menghubungi Kalshi untuk meminta komentar terkait gugatan ini dan akan memperbarui artikel jika ada tanggapan.

Sebuah pesawat penumpang mendarat di bandara.

Latar Belakang Sengketa Data Penerbangan

Kalshi mulai menawarkan fitur taruhan pada persentase pembatalan penerbangan di sebuah bandara dalam jangka waktu tertentu pada Juli 2026. Saat itu, perusahaan mengklaim bahwa mereka memverifikasi pembatalan penerbangan dengan data dari FlightAware dan Departemen Transportasi AS, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal.

Menariknya, dalam pernyataan kepada publikasi tersebut, FlightAware dengan tegas menyatakan bahwa hal itu tidak diizinkan. “Tidak ada perusahaan yang — atau akan — diizinkan menggunakan data yang dikumpulkan melalui jaringan FlightAware untuk tujuan ini,” kata perusahaan. “Pelanggan mana pun yang menggunakan FlightAware dengan melanggar ketentuan penggunaan akan dinonaktifkan akunnya.”

FlightAware baru mengetahui bahwa Kalshi menggunakan data mereka ketika media mulai menghubungi untuk meminta komentar, menurut isi gugatan tersebut. Setelah mengetahui bahwa perusahaan berencana menawarkan pasar prediksi yang “diverifikasi dari FlightAware,” FlightAware kemudian mengirimkan surat penghentian dan penghentian.

Kekhawatiran Industri Penerbangan

Selain dugaan pelanggaran aturan dan merek dagang, FlightAware juga menyuarakan kekhawatiran industri penerbangan bahwa pasar prediksi untuk penerbangan dapat mendorong “gangguan massal perjalanan udara” bagi siapa pun yang ingin menghasilkan uang di platform tersebut.

Kalshi sendiri telah berupaya mencegah sebagian perilaku tersebut dengan menerapkan aturan perdagangan orang dalam, seperti memverifikasi pemberi kerja pengguna untuk beberapa taruhan, serta mencegah politisi dan atlet bertaruh pada pemilu dan pertandingan masing-masing.

Status Hukum Kalshi di AS

Banyak negara bagian masih menganggap Kalshi sebagai perjudian dan ingin platform tersebut diperlakukan demikian. Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC), regulator yang ditugaskan untuk Kalshi, telah berhasil melawan beberapa upaya untuk mengendalikan platform tersebut. Namun, gugatan dari New York akan menjadi ujian lain bagi masa depan platform prediksi ini.

Kasus ini menjadi sorotan penting bagi industri data dan platform prediksi. Jika gugatan FlightAware berhasil, hal ini dapat menjadi preseden bagi penyedia data lain untuk melindungi aset mereka dari penggunaan yang tidak sah. Di sisi lain, Kalshi menghadapi tantangan hukum berlapis yang dapat menentukan arah regulasi platform prediksi di Amerika Serikat.

Bagi pengguna layanan pelacakan penerbangan, kasus ini menunjukkan pentingnya kejelasan mengenai siapa yang berhak menggunakan data penerbangan dan untuk tujuan apa. Sementara bagi pengamat industri, gugatan ini menjadi contoh bagaimana perusahaan teknologi berupaya menegakkan hak kekayaan intelektual mereka di tengah maraknya inovasi platform digital.

Perkembangan gugatan ini tentu akan menarik untuk diikuti, mengingat implikasinya yang luas bagi industri penerbangan, platform prediksi, dan perlindungan data. Keputusan pengadilan nantinya akan menentukan batas-batas penggunaan data pihak ketiga dalam pengembangan layanan baru.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.