Telset.id – Di tengah tantangan global penurunan penjualan kendaraan listrik dan hambatan regulasi fitur otonom, Elon Musk kembali melontarkan visi futuristik yang kontroversial. CEO Tesla tersebut mengisyaratkan bahwa proyek robot Optimus akan menjadi pilar utama perusahaan, bahkan berpotensi membuat publik melupakan sejarah Tesla sebagai produsen mobil.
Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap dinamika pasar yang menekan bisnis inti otomotif Tesla. Musk kini tampak agresif mengarahkan narasi perusahaan menuju pengembangan robotika canggih, sebuah langkah pivot yang dinilai banyak pengamat sebagai upaya “menciptakan ulang masa depan” bagi raksasa teknologi tersebut.
Dalam laporan terbaru, Musk sesumbar bahwa transformasi ini akan melambungkan valuasi Tesla hingga mencapai angka fantastis, yakni USD 25 triliun (sekitar Rp 174.490 triliun). Ia bersikeras bahwa sebagian besar nilai kapitalisasi pasar tersebut nantinya akan disumbangkan oleh divisi robotika, bukan lagi dari penjualan Model 3 atau Cybertruck yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan.
Ambisi Mengubur Sejarah Mobil Listrik
Keyakinan Musk mengenai dominasi robot humanoid ini mencapai titik ekstrem dalam sebuah interaksi dengan investor Jason Calacanis. Dalam sebuah konferensi baru-baru ini, Calacanis melontarkan prediksi provokatif bahwa di masa depan, tidak ada yang akan mengingat Tesla pernah memproduksi mobil.
Menurut Calacanis, warisan terbesar perusahaan tersebut adalah keberhasilan memproduksi 10 miliar unit robot Optimus. Menanggapi prediksi tersebut, Musk memberikan jawaban singkat namun penuh arti: “Sangat mungkin benar.”
Respons ini menegaskan betapa seriusnya Musk mempertaruhkan masa depan Tesla pada kesuksesan robot humanoid tersebut. Hal ini sejalan dengan paket kompensasi fantastis senilai USD 1 triliun untuk Musk, yang salah satu syarat pencairannya mewajibkan Tesla berhasil menyebarkan 1 juta unit robot Optimus. Musk sendiri sebelumnya telah menjanjikan bahwa target ambisius ini bisa mulai terealisasi paling cepat pada tahun 2030.
Baca Juga:
Realita Teknis yang Belum Matang
Meski narasi yang dibangun terdengar menjanjikan bagi para pemegang saham, realitas di lantai produksi menunjukkan cerita yang berbeda. Proyek Optimus masih dihadapkan pada segudang masalah teknis yang belum terpecahkan. Laporan lapangan menunjukkan bahwa kemajuan pengembangan robot ini jauh lebih lambat dari jadwal agresif yang ditetapkan Musk.
Salah satu indikator ketertinggalan tersebut adalah kegagalan Tesla mencapai target produksi internal. Perusahaan sebelumnya menargetkan produksi 5.000 unit robot Optimus pada tahun lalu, namun angka tersebut gagal tercapai akibat berbagai hambatan dalam pembangunan lini produksi.
Selain masalah kuantitas, kualitas fungsional robot juga masih menjadi tanda tanya besar. Materi demonstrasi resmi yang dirilis Tesla kerap kali dinilai kurang meyakinkan oleh para ahli robotika. Dalam salah satu video, gerakan robot terlihat masih kesulitan untuk sekadar berjalan stabil di lorong kantor yang datar dan tanpa hambatan.
Kritik tajam juga mengarah pada ketergantungan Tesla terhadap operasi jarak jauh (teleoperation). Hingga saat ini, demonstrasi kemampuan robot Optimus sering kali masih melibatkan kendali manusia di balik layar. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan otonom penuh—di mana robot dapat beroperasi mandiri tanpa intervensi manusia—masih jauh dari kata matang.
Kesenjangan antara janji manis valuasi puluhan triliun dolar dengan kemampuan teknis robot yang masih tertatih-tatih ini menjadi sorotan tajam. Apakah Optimus benar-benar akan menjadi revolusi industri berikutnya, atau sekadar alat untuk mendongkrak harga saham di tengah lesunya pasar mobil listrik? Waktu yang akan menjawab.

