Telset.id – China mencatat lonjakan ekspor sirkuit terpadu (IC) yang luar biasa pada semester pertama 2026. Data dari General Administration of Customs China menunjukkan nilai ekspor IC mencapai USD 177,28 miliar dari total 179,44 miliar unit chip, melesat lebih dari 96% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Angka fantastis ini menjadikan semikonduktor sebagai salah satu kontributor utama pertumbuhan ekspor China yang mencapai dua digit. Meskipun pemerintah China mengaitkan lonjakan ini dengan permintaan global akan perangkat keras AI, analisis lebih mendalam mengungkapkan faktor utamanya adalah ledakan harga memori global yang meningkatkan nilai chip komoditas yang diekspor China.
Dengan nilai rata-rata sekitar USD 0,99 per chip, ekspor China didominasi oleh memori, power management, mikrokontroler, dan chip node matang lainnya, termasuk chip yang hanya melalui proses pengemasan dan pengujian (packaging and testing) di China sebelum diekspor kembali. Bukan chip prosesor canggih buatan dalam negeri.
Data bea cukai sebelumnya memperkuat analisis ini. Pada Januari dan Februari 2026, nilai ekspor IC naik 72,6% year-on-year (YoY), sementara volumenya hanya tumbuh 13,7%. Pada April, nilai ekspor bahkan mencapai rekor pertama dengan pertumbuhan 100,1% YoY. Pola ini menunjukkan pertumbuhan didorong oleh kenaikan harga, bukan volume pengiriman.

Kenaikan harga memori dipicu oleh aksi Samsung, SK hynix, dan Micron yang mengalihkan kapasitas produksi DRAM mereka ke High-Bandwidth Memory (HBM) untuk akselerator AI. Produsen raksasa ini juga secara bertahap menghentikan produksi DDR4, sehingga memperketat pasokan memori konvensional dan mendorong harga spot serta kontrak melonjak tajam sejak akhir 2025 hingga 2026.
Produsen memori China seperti CXMT (DRAM) dan YMTC (NAND) menjual chip ke segmen komoditas yang sama, sehingga harga ekspor mereka ikut terkerek oleh tren global. Pertumbuhan ekspor IC China yang berada di angka 24,7% pada 10 bulan pertama 2025, lalu melesat ke 70-100% per bulan di 2026, persis mengikuti siklus harga memori.
Volume Ekspor Nyata dan Dominasi Chip Node Matang
Meskipun pertumbuhan nilai lebih menonjol, volume ekspor juga mencatat kenaikan riil. China memproduksi 484,3 miliar IC pada tahun 2025 dan mencatatkan 3.901 perusahaan desain chip domestik dengan total penjualan naik hampir 30% YoY. Hal ini menunjukkan pembangunan kapasitas fabrikasi node matang dalam skala besar selama bertahun-tahun mulai membuahkan hasil, dan ekspor menjadi jalan keluar bagi kelebihan pasokan yang melebihi permintaan domestik.
Namun, perlu dicatat bahwa sebagian besar ekspor IC China adalah perdagangan pengolahan (processing trade). Dalam skema ini, chip diimpor, kemudian melalui proses pengemasan atau pengujian di fasilitas OSAT China, lalu diekspor kembali. Nilai yang tercatat dalam data bea cukai adalah nilai kotor yang melintasi perbatasan, bukan nilai tambah dari desain dan fabrikasi domestik.
Sektor terkait juga menunjukkan pola serupa. Ekspor mesin dan perangkat pengolahan data otomatis (mencakup komputer, server, dan modul memori) naik 41,3% YoY menjadi USD 138,08 miliar pada semester pertama 2026. Ekspor robot industri juga tumbuh 18,6% menjadi 6,29 miliar yuan (USD 927,7 juta) ke 141 negara dan wilayah.
Dampak Kebijakan AS dan Respons Beijing
Di tengah rekor ekspor China, kebijakan AS terus berubah. Aturan Bureau of Industry and Security (BIS) yang berlaku sejak 16 Januari 2026 mengubah proses pengajuan lisensi untuk chip Nvidia H200 menjadi peninjauan kasus per kasus bagi pelanggan China. Nvidia sendiri telah mencatatkan pesanan lebih dari 400.000 unit dari ByteDance, Alibaba, dan Tencent, meskipun belum mengakui pendapatan dari pesanan tersebut per Maret 2026. Hal ini semakin memperkuat persaingan ketat di pasar China.
Pemerintah China tentu menyajikan data ekspor ini sebagai bukti kekuatan industrinya. “Pertumbuhan ekspor pada dasarnya didorong oleh kecocokan yang tepat antara produk ‘Made in China’ dengan beragam permintaan global,” ujar Wang Jun, Wakil Menteri General Administration of Customs, dalam konferensi pers Selasa lalu seperti dikutip South China Morning Post.
Lonjakan ekspor chip China ini mencerminkan dinamika kompleks antara permintaan AI global, siklus harga memori, dan geopolitik semikonduktor. Meskipun angka pertumbuhan 96% terlihat spektakuler, realitas di baliknya adalah dominasi chip komoditas dan efek harga, bukan lompatan teknologi di segmen chip canggih. Namun, volume produksi yang terus meningkat menunjukkan bahwa China tetap menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan dalam rantai pasok semikonduktor global.
Ikuti terus berita terbaru seputar industri teknologi dan semikonduktor hanya di Telset.id.





Komentar
Belum ada komentar.