Diduga Manfaatkan Data Pengguna, Avast Akhirnya Buka Suara

Data Pengguna Avast

Telset.id, Jakarta – Aplikasi anti virus gratis, Avast AVG diduga telah mengumpulkan data pengguna dan menyalahgunakannya. Menanggapi hal tersebut, pihak Avast memberikan penjelasannya.

Dalam pernyataan resmi, Avast mengkonfirmasi bahwa mereka tidak lagi memanfaatkan data pengguna dari ekstensi browser yang mereka miliki.

“Pada saat yang sama, kami telah sepenuhnya berhenti menggunakan data ekstensi browser untuk tujuan selain mesin keamanan utama,” jelas Avast, seperti dikutip Telset.id dari GizChina, Kamis (30/01/2020).

{Baca Juga: 7 Aplikasi Antivirus Paling Ampuh untuk Smartphone}

Terkait data yang dimanfaatkan untuk kepentingan anak perusahaan mereka, Jumpshot, perusahaan ini menegaskan bahwa mereka tidak memberikan informasi terkait data pribadi penggunanya kepada Jumpshot.

“Kami memastikan bahwa Jumpshot tidak memperoleh informasi identifikasi pribadi, termasuk nama, alamat email, atau detail kontak. Pengguna selalu memiliki opsi untuk menolak berbagi data dengan Jumpshot,” tegasnya.

Masih dalam keterangannya, Avast menyatakan bahwa sejak Juli 2019, mereka telah menyediakan pilihan kepada penggunanya untuk menerima atau menolak berbagi data dengan mereka.

“Kami mengundang semua pengguna gratis kami saat ini untuk membuat pilihan menerima atau menolak berbagi data, yang prosesnya akan selesai pada Februari 2020,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Avast AVG dilaporkan telah mengumpulkan data pengguna dan memanfaatkannya. Hal ini diketahui dari hasil penyelidikan bersama oleh PCMag dan Motherboard yang fokus pada kinerja aplikasi anti virus gratis itu.

{Baca juga: Pengumuman! Segera Uninstall Avast AVG atau Terima Akibatnya}

Avast dan anak perusahannya, AVG mengumpulkan data secara anonim. Pengumpulan tersebut memungkinkan Avast AVG untuk melacak semua aktivitas pengguna selama berselancar di dunia maya menggunakan internet.

PCMag dan Motherboard telah melakukan proses penyelidikan bersama mengenai kasus ini. Mereka menemukan bahwa data-data yang dikumpulkan justru digunakan untuk perusahaan teknologi besar lain seperti Microsoft, Amazon atau Google. (HR/MF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here