Cerita Dibalik Keberhasilan iPhone Gusur BlackBerry

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
CEO RIM Jim Balsillie dan Mike Lazaridis di tahun 2006
CEO RIM Jim Balsillie (kiri) dan Mike Lazaridis di tahun 2006 (Bloomberg)

JAKARTA – Tidak banyak yang tahu bagaimana kisah awalnya keterpurukan BlackBerry seperti saat ini. Sebuah buku yang baru dirilis berjudul “Losing the Signal” sedikit mengungkap perjalan kisah BlackBerry yang “tergilas” oleh kehadiran iPhone pada tahun 2007 lalu.

BlackBerry yang dulu masih menggunakan nama Research In Motion (RIM) sempat menjadi penguasa pasar smartphone dunia dengan produk-produk smartphone bergaya keyboard QWERTY. Sayangnya, BlackBerry tidak bisa mempertahankan hegemony-nya saat Steve Jobs dengan Apple-nya menelurkan iPhone generasi pertama di tahun 2007.

Buku Losing the Signal cukup menarik untuk dibaca. Dan pada hari Jumat lalu (22/5), Wall Street Journal membuat nukilan tentang buku Losing the Signal tersebut. Dalam buku yang ditulis oleh Jacquie McNish dan Sean Silcoff itu tidak hanya membahas BlackBerry, tetapi juga debut iPhone di tahun 2007 dan dampaknya terhadap orang-orang di internal BlackBerry.

Beberapa point menarik yang bisa kita ambil dari nukilan buku Losing the Signal yang ditulis Wall Street Journal ini adalah ketika para petinggi BlackBerry tidak menyadari bahwa iPhone merupakan ancaman serius bagi masa depan mereka. Bahkan, seperti ditulis dalam buku itu, para petinggi BlackBerry tidak punya ide untuk membendung kehadiran iPhone.

Kisah menarik ini diawali saat salah satu pendiri BlackBerry yang juga sebagai co-CEO, Mike Lazaridis, sedang berolahraga di rumahnya sambil menonton Steve Jobs yang telah merilis smartphone baru Apple. Melihat itu, Lazaridis cukup takjub dan dia pun bertanya-tanya sendiri, “Bagaimana mereka bisa melakukannya?”

Keesokan harinya, Mike segera mengajak co-CEO BlackBerry lainnya, Jim Balsille, untuk mendiskusikan soal iPhone. “Jim, aku ingin kamu lihat ini,” katanya sambil menunjukkan webcast rilis iPhone. “Mereka menempatkan full web browser di benda itu [iPhone]. [Padahal] operator seluler tidak membolehkan kita memasukkan web browser ke produk-produk kita,” kata Lazaridis.

Setelah melihat hal tersebut, pikiran pertama yang ada di kepala Jim adalah, RIM akan kehilangan konsumen dari operator seluler AT&T, “Apple memberi penawaran yang lebih baik. Kita sebelumnya tidak pernah diperbolehkan melakukan itu. Pasar AS akan lebih sulit,” ujar Jim.

“Orang-orang ini (Apple) sangat-sangat pandai. Ini berbeda,” sahut Mike.

“It’s OK — kita akan baik-baik saja,” jawab Jim coba menenangkan Mike..

Lanjutkan ke halaman berikutnya

Setelah diskusi itu, nampaknya kedua pimpinan BlackBerry masih belum menyadari “bahaya” yang mengintai mereka. Karena kedua terlihat itu tidak terlalu mengkhawatirkan kehadirkan iPhone saat itu. Namun situasi menjadi berubah panic setelah mereka mendengar bahwa Apple telah berhasil menjual 1 juta unit iPhone hanya dalam waktu tiga bulan pertama setelah dirilis. Saat itulah para petinggi BlackBerry baru menyadari ancaman yang sebenarnya dari iPhone.

Berbagai upaya langsung disiapkan untuk menghadang iPhone. Perusahaan yang bermarkas di Waterloo Kanada itu kemudian merilis smartphone BlackBerry Storm yang merupakan handset full-tochscreen pertama yang dibuat BlackBerry. Muncul sebagai prototype di tahun 2007, Verizon yang memutuskan bekerjasama dengan BlackBerry dan meminta dirilis tahun 2008.

Meski catatan penjualan cukup bagus, namun terlihat bahwa Storm dirilis terburu-buru. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya handset Storm yang akhirnya dikembalikan oleh pembeli dan harus diganti dengan yang baru, karena banyaknya masalah pada handset tersebut.

Walaupun segala upaya telah coba dilakukan, namun iPhone akhirnya benar-benar tak terbendung. BlackBerry akhirnya benar-benar terpuruk seiring semakin suksesnya Apple saat merilis seri-seri lanjutan dari iPhone hingga saat ini.

Dan seperti yang sudah kita ketahui bersama, BlackBerry akhirnya semakin terpuruk hingga saat ini. Perusahaan yang dulunya menguasai pasar smartphone itu kini menjadi perusahaan yang dihargai “hanya” USD100 juta. Menariknya, para petinggi BlackBerry bahkan tidak tahu apa yang akan mereka lakukan untuk membangkitkan BlackBerry kembali.

Harapan kini ditumpukan kepada John Chen yang kini menjabat sebagai CEO BlackBerry yang baru. Meski belum sepenuhnya bangkit dari keterpurukan, namun Chen telah membuktikan kinerjanya yang cemerlang setelah berhasil mengakhiri masa paceklik dengan mencetak keuntungan di kuartal keempat di tahun fiskal 2014.

Well, kisah menarik perjalanan bisnis BlackBerry dan cerita keberhasilan Apple yang mampu melengserkan BlackBerry dari singgasananya dengan mengandalkan iPhone ini bisa dibaca secara lengkap di buku “Losing the Signal”. Anda bisa memesan buku tersebut  di Amazon atau iTunes. [HBS]