πŸ“‘ Daftar Isi

Logo Bose dan Skullcandy bersanding menandai akuisisi Skullcandy oleh Bose

Bose Resmi Akuisisi Skullcandy, Perluas Jangkauan Audiophile Muda

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Bose resmi mengakuisisi Skullcandy, nilai transaksi tidak diungkap
  • Skullcandy tetap jadi merek terpisah, markas di Park City, Utah
  • Kerja sama "Sound by Bose" sudah ada lewat Method 360 ANC dan Crusher 1080
  • Bose incar audiens muda, olahraga papan, gaming, dan fitness
  • Skullcandy terjangkau, melengkapi portofolio premium Bose

Telset.id – Bose resmi mengakuisisi Skullcandy, mengubah rival di pasar audio konsumen menjadi bagian dari portofolio merek Bose di bawah unit bisnis premium consumer audio. Langkah ini memperluas jangkauan Bose ke segmen pengguna yang selama ini kurang tersentuh, terutama komunitas olahraga papan, gaming, musik, dan fitness. Nilai transaksi akuisisi tidak diungkap ke publik.

Kesepakatan ini bukan hal yang tiba-tiba. Skullcandy sebelumnya telah menjalin kerja sama dengan Bose melalui program lisensi β€œSound by Bose”. Skullcandy merancang headphone, lalu bekerja sama dengan Bose pada sisi audio. Kolaborasi itu dimulai lewat earbuds Method 360 ANC pada 2025, lalu berlanjut ke headphone Crusher 1080 ANC pada Juli. Produk terbaru Skullcandy, Crusher 1080, bahkan sudah membawa teknologi Bose seperti head-tracking spatial audio dan active noise cancellation (ANC).

Meski menjadi bagian dari Bose, Skullcandy tetap dipertahankan sebagai merek terpisah. Perusahaan yang didirikan pada 2003 itu juga akan tetap berbasis di Park City, Utah, lokasi pendiriannya. Menurut Bose, langkah ini penting karena Park City disebut sebagai episentrum budaya olahraga papan yang menjadi akar komunitas Skullcandy.

Strategi Bose Menjangkau Audiens Baru

Bose dikenal sebagai pemain audio premium, terutama bagi pengguna yang mementingkan kualitas ANC. Produk Bose menjadi andalan bagi mereka yang sering bepergian dan terbang untuk urusan kerja. Namun, Bose menyadari mereknya belum tentu dianggap trendi oleh segmen yang lebih muda dan beragam. Di sinilah Skullcandy berperan.

Skullcandy selama ini dikenal lewat desain produk yang khas dan branding yang dekat dengan atlet olahraga papan. Perusahaan itu juga membangun hubungan panjang dengan komunitas tersebut. Bagi Bose, kombinasi ini membuka cara baru untuk terhubung dengan konsumen di area yang selama ini kurang digarap.

CEO Bose Lila Snyder menjelaskan bahwa pihaknya memperluas cara menjangkau lebih banyak orang, tidak hanya lewat produk Bose, tetapi juga melalui kemitraan teknologi dan portofolio merek yang terus tumbuh. Ia menegaskan komitmen Bose selama lebih dari 60 tahun untuk menghadirkan pengalaman audio di mana pun orang memilih mendengarkan.

Dalam wawancara dengan WIRED, Snyder menyebut pertimbangan utama akuisisi adalah makna merek bagi konsumen. Ia membandingkan Skullcandy dengan McIntosh dan Sonus Faber yang juga masuk ke portofolio Bose. Menurut Snyder, Skullcandy memberi Bose akses ke basis pelanggan yang selama ini sebagian besar belum dijangkau merek Bose.

Harga Terjangkau dan Reputasi yang Sedang Berubah

Selain soal komunitas, akuisisi ini juga memperkuat posisi Bose di sisi harga. Produk Skullcandy dikenal lebih terjangkau, terutama dibandingkan produk Bose dan merek-merek milik Bose lainnya. Dengan demikian, Bose bisa bersaing di dua ujung pasar sekaligus, dari perangkat premium hingga kelas yang lebih ramah kantong.

Reputasi Skullcandy sendiri tengah berubah. Skullcandy kerap dipandang sebelah mata soal kualitas audio, dengan citra suara yang biasa saja, bass berlebihan, dan estetika yang mencolok. Namun, kolaborasi terbaru mulai menggeser persepsi itu. Method 360 ANC mendapat nilai 8/10 dengan catatan kualitas suara dan ANC yang baik untuk harganya.

CEO Skullcandy Brian Garofalow dalam wawancara pada Juli mengakui kekuatan perusahaannya yang berusia 23 tahun itu terletak pada kemampuan membangun komunitas dan budaya, khususnya di kalangan olahraga papan. Produk pertama Skullcandy bahkan dirancang di atas kursi lift ski. Meski begitu, ia mengakui perusahaannya belum menjadi yang terbaik dalam sisi rekayasa inovasi produk.

Kombinasi ini dinilai saling melengkapi. Skullcandy mendapat akses lebih besar ke teknologi dan sumber daya Bose yang disebut dapat membantunya terus tumbuh dan berkembang. Sementara Bose memperoleh jalur ke audiens yang lebih muda dan beragam. Snyder menyebut kolaborasi earbuds dan Crusher baru menjadi awal dari apa yang bisa dilakukan kedua pihak bersama.

Akuisisi Skullcandy menambah deretan langkah ekspansi Bose. Pada 2024, Bose mengakuisisi merek audio kelas atas McIntosh dan anak perusahaannya, Sonus faber. Pada tahun ini, Bose juga mengakuisisi StreamUnlimited Engineering dan Firelight Technologies, pembuat FMOD. Sebelumnya, Juni lalu, Bose mengumumkan pembentukan studio konten internal bernama Bose Studios serta label rekamannya sendiri, Bose Records. Langkah ini juga sejalan dengan ekspansi Bose di sektor lain, seperti integrasi pencahayaan dan audio bersama Signify di Asia Tenggara.

Dengan tetap mempertahankan Skullcandy sebagai merek terpisah dan tidak merelokasi markasnya, Bose memilih pendekatan yang menghormati identitas komunitas yang sudah dibangun Skullcandy. Bagi konsumen, keputusan ini menandakan bahwa produk Skullcandy ke depan berpotensi membawa lebih banyak teknologi audio Bose, termasuk ANC, pada kelas harga yang lebih terjangkau.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.