Banyak Anak Berkacamata, Produsen Game Jadi ‘Kambing Hitam’

Telset.id,Jakarta – Pemimpin Tiongkok, Xi Jinping menginstruksikan kepada pihak terkait agar segera melakukan reformasi pendidikan dengan menggabungkan program pencegahan dan pengendalian, guna mencegah rabun pada anak-anak. Pasalnya, setiap tahun jumlah anak yang berkacamata di Tiongkok terus meningkat.

Kontrol terhadap video game online adalah salah satu rekomendasi pemerintah Tiongkok, Kamis (30/8/2018) lalu, guna mengurangi rabun jauh.

Kebijakan ini membuat saham salah satu perusahaan pembuat game terkemuka China, yakni Tencent, jatuh keesokan harinya.

Hal serupa juga dialami pembuat game Jepang seperti Capcom, Konami dan Bandai Namco. Saham perusahaan pembuat game itu pun jatuh pada Jumat, (31/8/2018). Hal ini menunjukan, betapa pentingnya pasar di Tiongkok.

Baca juga: Ternyata, Wanita Juga Suka Belanja di Dunia Game

Media pemerintah Tiongkok menyalahkan video game karena menyebabkan anak muda menjadi kecanduan, membuat nilai pelajaran di sekolah menurun.

Bahkan, lebih buruk lagi, pada tahun lalu, seorang remaja berusia 17 tahun di selatan Kota Guangzhou meninggal setelah bermain game smartphone selama 40 jam penuh.

Sebagai distributor game terbesar di dunia, Tencent telah berkembang pesat dan menjadi sangat kaya dalam beberapa tahun terakhir. Tencent telah memborong pengembangan game-game populer di seluruh dunia.

Baca juga: Game Dituding ‘Biang Kerok’ Kasus Penembakan di Florida

Sebut saja seperti game League of Legends dan Clash of Clans. Bahkan, Tencent juga memiliki saham di Epic Games, pencipta blockbuster internasional, Fortnite.

Di Tiongkok, Tencent juga mengoperasikan aplikasi perpesanan terpopuler di Cina, WeChat, dan memproses sebagian besar pembayaran melalui ponsel pintar yang sekarang digunakan untuk melakukan berbagai transaksi di negara tersebut.

Namun, lebih dari setahun terakhir, bisnis game Tencent yang sangat menguntungkan mendapat kecaman karena pemerintah Beijing, melalui pendekatan budaya.

Tahun lalu, media resmi Tiongkok, People’s Daily menyebut game pertempuran yang dikembangkan Tencent, Honor of Kings, menjadi ‘racun’ bagi para generasi muda.

Menanganggapi hal itu, perusahaan memberlakukan batasan waktu yang dapat digunakan anak muda untuk bermain setiap hari.

Baru-baru ini, pemerintah Tiongkok memblokir game buatan Tencent, yakni Monster Hunter: World, karena dianggap banyak menampilkan adegan kekerasan yang “terlalu berdarah”.

Baca juga: Sadis! Empat Peserta Turnamen ‘Madden 19’ Tewas Diberondong

Saham perusahaan juga mengalami penurunan setelah para eksekutif memperlambat proses perizinan untuk game PlayerUnknown’s Battlegrounds yang dimainkan di ponsel, dengan alasan terjadi perombakan briokrasi.

Saham Tencent turun 5 persen dalam bursa perdagangan Jumat (31/8/2018) di Hong Kong. Seorang juru bicara perusahaan menolak berkomentar.

Di Tiongkok, penglihatan yang buruk telah menjadi momok masa kecil yang semakin umum. Kantor berita negara Xinhua pekan ini melaporkan bahwa Xi bertindak setelah membaca laporan pers tentang masalah ini. Hampir separo dari seluruh warga Tiongkok mengalami rabun jauh, menurut Xinhua.

“Kesehatan mata anak-anak muda di negara kami selalu menjadi perhatian besar bagi Sekretaris Jenderal Xi Jinping,” tulis kantor berita itu.

Departemen Pendidikan, mengarahkan pembuat regulasi di Tiongkok untuk membatasi jumlah game baru yang akan disetujui dam distribusi. Meskipun demikian, tidak disebutkan batas tertentu.

Baca juga: Duh! Gamer Ini Jadi Buta karena Kecanduan Game

Pemerintah Tiongkok, melalui Departemen Pendidikan juga mendorong regulator agar mencari cara untuk membatasi jumlah waktu yang digunkan anak di bawah umur untuk bermain game, dan mempertimbangkan sistem untuk membatasi anak yang diperbolehkan bermain game berdasarkan usia.

Rekomendasi lain, di antaranya meningkatkan pendidikan jasmani di sekolah, membatasi jumlah pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa sekolah dasa, dan memperbaiki kondisi pencahayaan di ruang kelas.

Menurut sebuah laporan pada 2015 dari Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan, aktifitas di dalam ruangan seperti membaca, belajar dan fokus pada layar terlalu lama dapat menyebabkan terjadinya rabun jauh. [BA/HBS]

Sumber: NY Times

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -