Telset.id – Apple menghadapi tekanan besar akibat lonjakan harga memori global yang memaksa perusahaan meningkatkan harga sebagian besar produk pekan lalu. Sebagai respons, Apple dilaporkan berusaha mendapatkan izin dari pemerintahan Trump untuk membeli chip RAM dari ChangXin Memory Technologies (CXMT), sebuah perusahaan China yang masuk dalam daftar hitam pemerintah AS karena keterkaitannya dengan militer China.
Menurut laporan Financial Times akhir pekan lalu, Apple tengah mencari pengecualian agar dapat menyuplai RAM dari CXMT sebagai alternatif di luar tiga pemasok utama: Micron, Samsung, dan SK Hynix. Langkah ini diambil karena harga memori yang meroket telah memaksa Apple menaikkan harga di berbagai lini produknya.
Meskipun secara teknis Apple tidak dilarang membeli chip dari CXMT, hubungan perusahaan tersebut dengan militer China menimbulkan risiko politik yang serius. Beberapa anggota Partai Republik sudah melontarkan ancaman jika Apple nekat melanjutkan rencana ini.
“Apple memilih bermitra dengan perusahaan militer China adalah kesalahan besar,” ujar Anggota Kongres John Moolenaar kepada Financial Times. “Membantu Partai Komunis China sukses dalam rencana mendominasi rantai pasokan kritis akan membuat industri teknologi dan ekonomi negara kita lebih bergantung pada China, di saat kita harus membangun rantai pasokan teknologi yang aman bersama sekutu-sekutu kita.”
CEO Apple yang akan segera lengser, Tim Cook, secara kontroversial telah menjalin hubungan dekat dengan pemerintahan Trump sejak menjabat tahun lalu. Langkah itu termasuk menghadiri pelantikan, memberikan patung dan cakram kepada Trump, serta sengaja menghadiri pemutaran film Melania. Kini publik menanti apakah perhatian tersebut akan berbalas.
Analis rantai pasokan Ming Chi Kuo merespons kabar CXMT dengan menyatakan bahwa tekanan pada Apple telah bergeser dari biaya memori yang melonjak menjadi kesenjangan pasokan yang melebar. Kuo memperkirakan kapasitas memori untuk elektronik konsumen akan turun 15 hingga 20 persen dari perangkat ke pusat data pada 2027 dan angka itu bisa bertambah.
Kuo menambahkan bahwa bahkan jika Apple bisa mendapatkan pasokan dari CXMT, langkah itu “tidak akan secara material menurunkan biaya atau mengisi kesenjangan pasokan.” Namun ia mencatat bahwa Apple harus mengamankan sumber memori tambahan.
Salah satu klaim dari balasan menunjukkan bahwa iPhone China menyumbang sekitar 16 persen pendapatan Apple, angka yang cukup relevan. Ada kemungkinan Apple dapat menggunakan memori CXMT untuk iPhone China yang mungkin bisa mengurangi tekanan rantai pasokan untuk pasar lain seperti AS.
Baca Juga:
Krisis memori ini juga berdampak pada chip terbaru Apple. Sebuah gambar bocoran muncul di Weibo dari pembocor Samsung, Ice Universe, yang diklaim menunjukkan chip A20 Pro yang diharapkan menjadi daya pacu iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Ultra. Chip baru ini rencananya menggunakan teknologi wafer-level multi-chip module (WMCM) dari TSMC dan proses 2nm.
Desain ini berbeda dari desain package-on-package (PoP) biasa Apple yang menempatkan DRAM di atas prosesor aplikasi. Metode baru ini memindahkan DRAM ke samping yang seharusnya mengurangi panas selama beban kerja berat. Chip ini juga tampaknya memiliki Neural Processing Unit yang lebih besar dari A19 Pro, mengarah pada peningkatan performa AI.
Chip ini diperkirakan 15 persen lebih cepat dan 30 persen lebih efisien dari A19. Namun, Kuo juga mengklaim bahwa Apple akan memproduksi 10 hingga 20 persen lebih sedikit chip A20 karena kekurangan LPDDR RAM. Segala sesuatu terkena dampak krisis memori.

Paling banter, Kuo percaya Apple akan mendapatkan liputan yang menguntungkan karena berusaha mendapatkan lebih banyak memori tetapi terbatasi oleh kebijakan AS. “Itu mungkin membantu mengurangi frustrasi atas kenaikan harga dan waktu pengiriman yang lebih lama,” kata Kuo.
Langkah Apple ini menunjukkan betapa seriusnya dampak krisis memori global terhadap industri teknologi. Perusahaan yang biasanya sangat tertutup tentang proses rantai pasokan ini terpaksa mencari jalan keluar yang berisiko secara politik dan bisnis. Fitur Terbaru dari Apple pun terancam tertunda akibat masalah pasokan ini.
Keputusan akhir ada di tangan pemerintahan Trump, yang harus mempertimbangkan antara kepentingan industri teknologi dalam negeri dan tekanan politik dari para anggota Kongres. Sementara itu, konsumen harus bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga lebih lanjut pada produk-produk Apple di masa mendatang. MacBook Ultra dan lini produk lainnya kemungkinan besar akan terkena dampak dari kebijakan ini.





Komentar
Belum ada komentar.