Telset.id – Priscilla Chan mengungkap bahwa putrinya, Maxima Zuckerberg, tidak diizinkan membangun aplikasi yang terbuka ke internet, meski sudah terbiasa melakukan vibe coding. Aturan ini mencuat di tengah sorotan terhadap cara Meta menangani data miliaran pengguna.
Kebijakan tersebut disampaikan Chan dalam profil terbaru keluarga Zuckerberg yang dimuat di Colossus. Menurut Chan, Maxima yang berusia 11 tahun telah melakukan vibe coding untuk membuat aplikasi pesan dan game bergaya FarmVille. Namun, kebebasan itu dibatasi ketika proyek yang dikerjakan berpotensi terhubung ke internet.
“Dia cukup terbatas, karena Ibu tidak mengizinkannya membangun hal-hal yang terbuka ke internet,” kata Chan kepada Colossus. Chan mencontohkan, Maxima pernah ingin membuat situs kencan, dan permintaan itu langsung ditolak.
Pernyataan tersebut tidak menjelaskan secara rinci apakah Maxima masih boleh berinteraksi dengan chatbot yang terhubung ke internet, meski dilarang menggunakannya untuk membangun aplikasi online. Chan hanya menyebut bahwa kebiasaan vibe coding putrinya muncul sebagai keinginan bawaan untuk membangun sesuatu, dan menurutnya hal itu “datang begitu saja” tanpa pengaruh dari ayahnya.
“Itu semua atas usahanya sendiri,” ujar Chan.
Kebijakan Privasi Keluarga di Tengah Kritik Meta
Aturan yang diterapkan Chan menjadi perhatian karena Meta selama ini dikenal sebagai salah satu perusahaan yang paling agresif mengumpulkan data pribadi miliaran orang. Perusahaan disebut memiliki catatan panjang dalam menangani informasi sensitif tersebut dengan tingkat kecerobohan yang terdokumentasi baik.
Salah satu proyek favorit CEO Meta, Mark Zuckerberg, yakni AI Glasses yang dilengkapi kamera, mempertegas persoalan privasi tersebut. Sejumlah kontraktor pelabel data di Kenya dilaporkan pernah menonton rekaman pengguna yang sedang berganti pakaian. Selain itu, Meta dinilai gagal menurunkan rekaman pelecehan seksual di jalan umum yang direkam menggunakan smart glasses.
Di sisi lain, platform Meta juga dibanjiri konten AI slop yang mengkhawatirkan, termasuk sejumlah video kekerasan fisik terhadap anak. Meta bahkan menyatakan kepada Futurism bahwa konten semacam itu tidak selalu melanggar kebijakan perusahaan.

Kombinasi antara kebijakan internal keluarga Zuckerberg dan praktik bisnis Meta ini menyoroti pola yang sudah lama muncul di industri teknologi. Para eksekutif teknologi menikmati keuntungan besar dari alat yang mereka kembangkan, sementara akses anak-anak mereka sendiri terhadap alat tersebut dibatasi. Pola serupa juga terlihat pada sejumlah pengembangan teknologi lain, termasuk riset soal watermark AI yang menunjukkan bagaimana perilaku model bahasa dapat berubah.
Dampak dari kebiasaan vibe coding dan paparan AI slop terhadap perkembangan anak masih menjadi perdebatan di kalangan ahli. Namun, sejumlah peneliti menemukan bahwa konten semacam itu berpotensi merusak otak anak, terutama ketika berisi materi kekerasan dan ekstremis yang sering lolos dari penyaringan. Menjaga pengguna di bawah umur dari paparan konten tersebut, sebagaimana diketahui Zuckerberg, bukanlah hal yang mudah.
Baca Juga:
Selain risiko konten, ada pula kekhawatiran soal isolasi sosial pada anak di bawah umur yang menjadikan chatbot AI sebagai teman. Kemungkinan ini terasa nyata bagi anak perempuan seorang CEO teknologi miliaran dolar, terutama ketika industri terus mendorong adopsi AI ke berbagai lapisan pengguna.
Perkembangan kapabilitas AI sendiri bergerak cepat. Sejumlah pengujian menunjukkan peningkatan performa model dalam berbagai tugas, seperti yang terlihat pada hasil benchmark interaksi aplikasi terbaru. Di sisi perangkat, persaingan chip juga semakin ketat, dengan benchmark A20 Pro yang menunjukkan pergeseran posisi antar vendor.
Bagi Meta, persoalan ini bukan sekadar kebijakan keluarga. Perusahaan tengah menghadapi tekanan publik terkait privasi, termasuk langkah yang disebut tengah menyiapkan versi AI Glasses tanpa kamera setelah produk tersebut mendapat kecaman luas. Langkah itu muncul di tengah kritik bahwa perangkat berkamera tersebut memperbesar risiko perekaman tanpa izin.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari Meta mengenai kebijakan yang diterapkan Chan terhadap putrinya. Yang jelas, pernyataan Chan menegaskan satu hal: akses terhadap internet dan aplikasi terbuka tetap dibatasi untuk anaknya, meski sang ayah memimpin perusahaan yang bisnis utamanya bertumpu pada keterhubungan dan data pengguna.





Komentar
Belum ada komentar.