📑 Daftar Isi

Logo Meta di luar kantor pusat perusahaan di Menlo Park, California

Karyawan Meta Sebut Divisi AI Seperti Gulag dan Wajib Militer

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:
  • Karyawan Meta yang dipindahkan ke divisi Applied AI menyebut tempat kerja sebagai 'gulag' dan 'wajib militer'
  • Seseorang membajak presentasi livestream internal dan mengajak menghina eksekutif senior
  • Unit Applied AI berisi 6.500 engineer dan manajer untuk mendukung ambisi AI perusahaan
  • Karyawan hanya diberi tahu lewat email dan proses pemindahan dianggap acak
  • Lebih dari 1.600 karyawan menandatangani petisi protes program pemantauan klik
  • Chief Product Officer Chris Cox membahas lingkungan kerja yang 'brutal' dalam pertemuan karyawan

Telset.id – Semangat karyawan Meta memburuk akibat PHK massal yang terus berlangsung. Karyawan yang dipindahkan ke divisi Applied AI menyebut tempat kerja mereka sebagai ‘gulag’, istilah untuk kerja paksa atau penjara, serta ‘wajib militer’ karena tidak punya pilihan selain patuh.

Drama internal ini memuncak ketika seseorang membajak presentasi siaran langsung khusus karyawan pekan ini. Pelaku meluapkan amarahnya dan mengajak semua peserta livestream untuk menghina seorang eksekutif senior Meta. Salah satu presenter bahkan terpaksa menutupi wajahnya dengan tangan.

Menurut laporan Wired, ledakan emosi itu mencerminkan amarah yang terpendam di unit Applied AI, sebuah divisi berisi 6.500 engineer dan manajer yang ditugaskan mendukung ambisi riset AI perusahaan milik Mark Zuckerberg.

Karyawan Dipindahkan Secara Paksa

Laporan Business Insider bulan lalu mengungkap banyak karyawan Meta yang kaget setelah dipindahkan ke divisi Applied AI. Mereka hanya diberi tahu lewat email dan salah satu karyawan mengatakan prosesnya cukup acak. Berdasarkan pengumuman internal, alasan pemindahan adalah karena model AI Meta masih kekurangan pengetahuan untuk melampaui kemampuan manusia dalam tugas teknis seperti coding. Karyawan ditugaskan membuat puzzle dan masalah coding untuk melatih model AI.

Para karyawan yang dipindahkan menggambarkan bahwa mereka seolah diberi dua pilihan: bergabung ke Applied AI atau keluar. Banyak yang menyebut pekerjaan baru tersebut sebagai ‘wajib militer’.

“Ini benar-benar seperti gulag,” kata seorang karyawan kepada Wired, seperti dikutip dari TechCrunch, Selasa (16/6/2026). “Kebanyakan orang menganggap pekerjaan ini sangat melelahkan jiwa,” ujar karyawan lain.

Suasana suram ini tidak hanya terjadi di unit Applied AI. Lebih dari 1.600 karyawan Meta kabarnya menandatangani petisi untuk memprotes program yang memantau klik dan penekanan tombol mereka untuk data pelatihan AI. Chief Product Officer Chris Cox merasa perlu membahas lingkungan kerja yang ‘brutal’ dalam pertemuan dengan karyawan pekan ini.

Kondisi ini menunjukkan betapa tekanan di Meta semakin tidak terkendali. Ketika perusahaan memaksa karyawannya untuk bekerja di bawah tekanan ekstrem tanpa pilihan, produktivitas justru bisa menurun drastis. Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa Robot AI Saku buatan Sharp yang baru diluncurkan justru mendapat sambutan positif karena fokus pada kesejahteraan pengguna, bukan eksploitasi tenaga kerja.

Kisah kelam di Meta ini kontras dengan tren positif di tempat lain. Sementara itu, Fitur “Dear Algo” Threads yang baru dirilis justru memberi pengguna kendali lebih besar atas algoritma, berbeda dengan pendekatan Meta yang memantau setiap klik karyawan untuk data pelatihan.

Dengan ribuan karyawan yang terpaksa bekerja di lingkungan yang mereka anggap seperti penjara, Meta menghadapi risiko kehilangan talenta terbaiknya. Jika tidak segera diperbaiki, budaya kerja yang ‘brutal’ ini bisa menjadi bumerang bagi ambisi AI perusahaan.

Komentar

Belum ada komentar.