Telset.id – Sentimen publik Amerika Serikat terhadap kecerdasan buatan (AI) mengalami perubahan drastis di tahun 2026. Persentase warga AS yang menilai AI lebih banyak membawa dampak buruk dibanding kebaikan meningkat signifikan, menandakan berakhirnya masa “bulan madu” dengan teknologi ini.
Menurut jajak pendapat bersama yang dilakukan Bentley University dan Gallup, jumlah warga dewasa AS yang menganggap AI “lebih banyak merugikan daripada menguntungkan” naik dari 31 persen pada 2025 menjadi 39 persen pada 2026. Angka ini berbanding terbalik dengan hanya 9 persen responden yang masih percaya teknologi ini “lebih banyak memberi kebaikan daripada keburukan.”
Yang menarik, survei Bentley-Gallup juga menemukan bahwa keakraban warga Amerika dengan AI terus meningkat. Pada 2026, sebanyak 70 persen responden mengaku “cukup atau sangat paham” tentang AI, naik 6 persen dibandingkan tahun 2024. Implikasinya cukup jelas dan mungkin membuat pimpinan OpenAI, Sam Altman, pusing: semakin banyak orang belajar tentang AI, semakin sedikit mereka menginginkannya dalam kehidupan sehari-hari.
## Kekhawatiran Meluas ke Infrastruktur Data Center
Tidak hanya soal penggunaan AI secara langsung, warga AS juga semakin waspada terhadap pembangunan infrastruktur pendukungnya. Survei terbaru dari Politico menemukan bahwa 41 persen warga dewasa AS akan menentang pembangunan data center dalam radius tiga mil dari rumah mereka. Angka ini melonjak drastis dari 28 persen pada Januari lalu.
Sejalan dengan itu, dukungan terhadap pembangunan data center juga merosot tajam, turun 13 persen hanya dalam enam bulan terakhir. Penolakan ini menunjukkan bahwa kekhawatiran publik tidak hanya berhenti pada dampak sosial AI, tetapi juga mencakup aspek lingkungan dan tata ruang.

## Stigma Sosial di Tempat Kerja
Derek Leben, profesor etika di Tepper School of Business, Carnegie Mellon University, mengatakan kepada Bloomberg bahwa penolakan terhadap AI semakin mengakar di sepanjang garis sosial. Menurutnya, mereka yang tidak menyukai AI bukan hanya enggan menggunakan teknologi tersebut di ranah pribadi, tetapi juga mulai mengawasi sikap teman, keluarga, dan rekan kerja mereka.
“Efek sosial yang paling jelas adalah kecurigaan,” ujar Leben kepada Bloomberg. “Ada juga penilaian moral dan politik yang menyertai penggunaan AI, terutama di industri kreatif di mana stigma paling kuat terasa.”
Salah satu contoh nyata datang dari Carla Milan, seorang profesional kesehatan masyarakat berusia 37 tahun di New York City. Ia mengaku frustrasi karena keluarga dan teman-temannya menggunakan AI secara refleks tanpa mempertimbangkan dampak sosial atau lingkungannya.
“Saya mendengar orang-orang memuji AI dan saya berpikir, ‘tentu, mengapa kita semua tidak ikut serta dalam kehancuran kolektif kita?'” kata Milan kepada Bloomberg. “Mengapa kita tidak semua berperan dalam mengurangi kemanusiaan kita dan merusak lingkungan?”
Baca Juga:
## Data Menunjukkan Pola yang Jelas
Data dari berbagai survei ini menunjukkan pola yang konsisten: semakin paham publik terhadap cara kerja AI dan dampaknya, semakin besar penolakan yang muncul. Kenaikan 8 poin persentase dalam satu tahun untuk responden yang menilai AI “lebih banyak merugikan” bukanlah angka yang bisa diabaikan.
Penurunan dukungan terhadap data center juga menjadi sinyal kuat bagi industri teknologi. Dalam enam bulan, dukungan publik terhadap pembangunan infrastruktur ini turun 13 persen, sementara penolakan naik dari 28 persen menjadi 41 persen. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang AI tidak lagi hanya sebatas wacana teknologi, tetapi telah menjadi isu sosial dan politik yang nyata.
Fenomena serupa juga terlihat di berbagai sektor. Di industri kreatif, stigma terhadap penggunaan AI disebut paling kuat. Sementara itu, kekhawatiran tentang dampak lingkungan dari operasional AI dan data center semakin meluas di kalangan masyarakat umum.
Para pengamat menilai perubahan sentimen ini penting dicermati oleh pelaku industri. Data dari Bentley-Gallup poll dan Politico survey memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kondisi aktual penerimaan AI di masyarakat Amerika, jauh dari kesan optimistis yang sering ditampilkan dalam berbagai diskursus publik.





Komentar
Belum ada komentar.