Tampilan fitur deteksi AI Substack di tiga ponsel

Substack Luncurkan Fitur Deteksi AI Bersama Pangram

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Substack luncurkan fitur deteksi AI bersama Pangram
  • Pembaca bisa scan konten lebih dari 100 kata untuk tahu persentase tulisan AI
  • Fitur tersedia di web dan iOS mulai 21 Juli 2026, Android menyusul
  • Kreator mendapat ruang pernyataan untuk mengungkapkan penggunaan AI
  • Substack kritik LinkedIn dan ciptakan istilah "Claudefishing"
  • Akurasi deteksi AI masih terbatas, diakui Substack
  • Langkah ini untuk menetapkan ekspektasi pembaca

Telset.id – Substack resmi meluncurkan fitur deteksi AI baru bekerja sama dengan Pangram. Langkah ini memungkinkan pembaca untuk memindai konten di Substack dan mengetahui seberapa besar materi yang ditulis oleh kecerdasan buatan.

Fitur ini dapat digunakan pada teks yang lebih panjang dari 100 kata yang diterbitkan mulai hari ini, 21 Juli 2026. Substack juga menambahkan ruang pernyataan baru bagi kreator untuk secara eksplisit membagikan apakah dan bagaimana mereka menggunakan AI untuk konten mereka.

Kemampuan deteksi AI tersedia mulai hari ini di web dan iOS, dengan dukungan Android akan menyusul. Langkah ini merupakan respons terhadap meningkatnya kekhawatiran tentang konten yang dihasilkan AI di platform publikasi.

Dalam pengumuman resminya, Substack tidak ragu untuk melontarkan kritik tajam. Ada sindiran langsung kepada LinkedIn mengenai banyaknya konten buatan AI di layanan tersebut. Substack bahkan menciptakan istilah “Claudefishing” untuk menggambarkan upaya menciptakan koneksi manusia yang palsu dengan konten AI berkualitas rendah.

Screenshots of three phones with Substack's AI detection tools in action on a post titled

Namun, sikap kritis ini mengandung risiko. Pasalnya, alat deteksi AI terbaik sekalipun tidak dapat menjamin penilaian yang akurat. The Atlantic telah menyelidiki lebih dalam tentang seberapa akurat alat deteksi AI, khususnya Pangram, dan hasilnya menunjukkan bahwa alat tersebut masih jauh dari sempurna.

Substack mengakui dalam postingan blognya bahwa ada keterbatasan dalam apa yang bisa dideteksi oleh Pangram. Mereka juga memberi isyarat tentang beberapa fitur lain yang sedang dipertimbangkan seputar konten AI dan preferensi pengguna.

Perusahaan menekankan bahwa langkah-langkah baru ini bertujuan untuk menetapkan ekspektasi bagi pembaca. Substack merangkum sikapnya dengan pernyataan tegas: “orang harus tahu apa yang mereka dapatkan.”

Inisiatif ini sejalan dengan upaya Substack untuk memberikan kendali lebih kepada kreator. Sebelumnya, Substack telah meluncurkan Fitur Terbaru yang memungkinkan kreator mengelola komentar dengan lebih baik melalui fitur Reply Rules.

Kemitraan dengan Pangram menjadi langkah berani Substack di tengah persaingan platform publikasi. Sementara itu, kompetitor seperti Beehiiv juga terus berinovasi dengan meluncurkan Fitur Community dan AI Copilot untuk kreator.

Langkah Substack ini menunjukkan bahwa transparansi konten AI menjadi prioritas utama di industri publikasi digital. Dengan fitur deteksi ini, pembaca dapat membuat keputusan yang lebih informasi tentang konten yang mereka konsumsi.

Ketersediaan fitur di web dan iOS pada hari yang sama menunjukkan keseriusan Substack dalam merespons kebutuhan pengguna. Dukungan Android yang akan menyusul memastikan bahwa sebagian besar pengguna platform dapat mengakses fitur ini.

Bagi kreator, ruang pernyataan baru memberikan fleksibilitas untuk mengungkapkan penggunaan AI mereka. Ini dapat membantu membangun kepercayaan dengan audiens dan menghindari kesalahpahaman tentang asal-usul konten.

Namun, tantangan akurasi tetap menjadi isu utama. Pengakuan Substack tentang keterbatasan Pangram menunjukkan bahwa teknologi deteksi AI masih dalam tahap perkembangan. Pengguna disarankan untuk tidak sepenuhnya bergantung pada hasil deteksi.

Istilah “Claudefishing” yang diperkenalkan Substack menambah kosakata baru dalam diskusi tentang konten AI. Istilah ini menggambarkan praktik menggunakan AI untuk meniru interaksi manusia yang autentik, sebuah fenomena yang semakin umum di platform media sosial.

Substack tampaknya ingin membedakan diri dari platform lain dengan pendekatan transparan ini. Sindiran terhadap LinkedIn menunjukkan bahwa Substack melihat konten AI yang tidak diungkapkan sebagai masalah serius yang perlu diatasi.

Ke depannya, Substack mengisyaratkan akan menghadirkan lebih banyak fitur terkait AI. Meskipun detailnya belum diungkapkan, arah pengembangan ini menunjukkan bahwa platform terus beradaptasi dengan lanskap konten yang berubah.

Bagi pembaca, fitur deteksi AI ini memberikan lapisan informasi tambahan. Mereka dapat memutuskan apakah ingin membaca konten yang sepenuhnya ditulis manusia atau yang melibatkan bantuan AI berdasarkan preferensi pribadi.

Langkah Substack ini patut diapresiasi sebagai upaya meningkatkan transparansi di era konten AI. Meskipun tidak sempurna, inisiatif ini menetapkan standar baru untuk platform publikasi lainnya.

Dengan peluncuran ini, Substack berharap dapat menciptakan ekosistem yang lebih sehat di mana pembaca dan kreator sama-sama diuntungkan. Transparansi menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan di platform.

Kemitraan dengan Pangram juga menunjukkan bahwa kolaborasi dengan pihak ketiga dapat menjadi solusi efektif untuk tantangan teknologi. Substack memilih untuk bekerja sama dengan ahli daripada mengembangkan solusi internal.

Keputusan ini mencerminkan pendekatan pragmatis Substack dalam menghadapi isu konten AI. Dengan memanfaatkan keahlian Pangram, Substack dapat menghadirkan fitur yang lebih andal dibandingkan jika dikembangkan sendiri.

Bagi industri publikasi digital, langkah Substack ini bisa menjadi preseden. Platform lain mungkin akan mengikuti jejak serupa untuk memenuhi tuntutan transparansi dari pengguna.

Pada akhirnya, keberhasilan fitur ini akan bergantung pada adopsi oleh kreator dan pembaca. Substack telah menyediakan alatnya, sekarang terserah pada komunitas untuk memanfaatkannya secara optimal.

Fitur deteksi AI Substack bersama Pangram adalah langkah maju yang signifikan. Meskipun memiliki keterbatasan, inisiatif ini menunjukkan komitmen platform terhadap transparansi dan kepercayaan pengguna.

Dengan peluncuran ini, Substack berharap dapat menjadi pionir dalam menciptakan standar baru untuk pengungkapan konten AI di platform publikasi digital.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.