Telset.id – Penulis terkenal Dave Eggers melontarkan kritik keras terhadap dampak ChatGPT pada dunia pendidikan. Saat diundang berbicara di hadapan sekitar 200 karyawan OpenAI tahun lalu atas undangan CEO Sam Altman, Eggers justru menyampaikan peringatan tegas yang membuat banyak orang tua harus berpikir ulang.
“Dampak ChatGPT pada kehidupan para pendidik sangatlah buruk,” kata Eggers seperti dilaporkan The Verge. “Jika siswa menggunakannya untuk menulis… mereka tidak akan pernah belajar menulis. Dan suara mereka dicuri dari mereka… Itu membungkam satu atau dua generasi.”
Pernyataan dramatis ini mungkin tidak sepenuhnya disetujui semua pihak, tetapi pertanyaan yang diajukan Eggers layak menjadi perhatian setiap orang tua. Amanda Caswell, AI Editor di Tom’s Guide, mengakui bahwa kekhawatiran Eggers memiliki dasar yang kuat.
Menulis Bukan Sekadar Menghasilkan Kata
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang AI adalah bahwa menulis hanya soal menghasilkan produk jadi. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Menulis adalah cara kita mengatur pikiran, menemukan apa yang sebenarnya kita yakini, belajar menyusun argumen, menjelaskan ide, dan berkomunikasi dengan orang lain.
Siapa pun yang pernah menatap halaman kosong tahu bahwa bagian tersulit bukanlah mengetik kata-kata, melainkan proses berpikir yang mendahuluinya. Jika siswa langsung beralih ke ChatGPT untuk menghasilkan esai, meringkas novel, atau menjawab setiap pertanyaan pekerjaan rumah, mereka melewatkan kerja mental yang justru membantu mengembangkan keterampilan tersebut.
Meskipun hasil akhir mungkin terlihat lebih baik dari yang bisa ditulis anak, itu hanyalah cangkang kosong karena anak tersebut tidak belajar apa pun. Inilah inti kekhawatiran yang disampaikan Dave Eggers.
Larangan AI di Sekolah Tidak Realistis
Meski demikian, berpura-pura ChatGPT tidak ada bukanlah solusi realistis. Pada saat siswa sekolah dasar saat ini lulus SMA, AI kemungkinan akan menjadi hal yang biasa seperti Google saat ini. Mengetahui cara menggunakannya secara bertanggung jawab kemungkinan akan menjadi keterampilan hidup yang penting.
Ada perbedaan besar antara menggunakan ChatGPT sebagai tutor dan menggunakannya sebagai pengganti pemikiran sendiri. AI bisa sangat membantu untuk:
– Menjelaskan konsep sulit dalam bahasa yang lebih sederhana
– Brainstorming ide sebelum mulai menulis
– Memeriksa tata bahasa atau ejaan setelah menulis sesuatu
– Membantu belajar untuk ujian
– Memberikan umpan balik pada draf pertama
Penggunaan tersebut masih mengharuskan anak-anak untuk melakukan pekerjaan intelektual. Garis batas mulai kabur ketika AI menulis draf pertama untuk mereka, dan di sinilah kritik Eggers memiliki dasar yang kuat.
Seperti halnya Twitter Siapkan Label untuk menandai interaksi, orang tua juga perlu menyiapkan panduan jelas bagi anak-anak dalam menggunakan AI.
Sebagai orang tua dari tiga anak, Amanda Caswell menyadari bahwa AI akan menjadi bagian dari pendidikan anak-anaknya. Tugasnya bukan meyakinkan mereka untuk tidak pernah menggunakan ChatGPT, melainkan membantu mereka memahami kapan harus dan tidak boleh menggunakannya.
Misalnya, jika anak kesulitan dengan konsep matematika, AI bisa menjadi guru yang hebat. Jika mereka membutuhkan ide untuk proyek sains, AI bisa menjadi mitra brainstorming yang berguna. Namun jika mereka langsung meminta ChatGPT menulis esai yang seharusnya mereka tulis sendiri, tujuan dari tugas tersebut telah hilang.
Kritik ini mengingatkan pada bagaimana Xiaomi Membuka Authorized Store untuk mendekatkan layanan kepada konsumen, demikian pula orang tua harus mendekatkan pengawasan terhadap penggunaan AI oleh anak-anak.
Kesimpulan
Amanda Caswell tidak percaya ChatGPT akan “membungkam satu generasi” selama orang tua tetap waspada tentang bagaimana dan mengapa anak-anak menggunakan AI. Seperti setiap perubahan teknologi besar sebelumnya, AI adalah alat dan kita harus membantu anak-anak menggunakannya dengan aman.
Peringatan Eggers tetap layak didengar. Semakin canggih AI, semakin besar godaan untuk membiarkannya berpikir untuk kita, bukan bersama kita. Itulah kebiasaan yang harus kita lawan bersama.






Komentar
Belum ada komentar.