šŸ“‘ Daftar Isi

Tangkapan layar antarmuka Google AI Mode yang menampilkan hasil belanja produk

Studi: Google AI Mode Tampilkan Harga 21,6% Lebih Mahal

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Studi Productrise: produk sama 21,6% lebih mahal di Google AI Mode vs pencarian tradisional
  • Listing AI Mode 49% lebih tinggi posisinya, vendor berbeda 49,6% dari pencarian biasa
  • Hanya 1,28% produk muncul di kedua mode pencarian pada hari yang sama
  • Google klaim semua hasil belanja pakai sumber data sama: Shopping Graph
  • Konsumen cenderung klik pengecer harga terendah meski AI Mode tampilkan harga lebih tinggi
  • Pakar: AI Mode prioritaskan penjual kurang berorientasi anggaran
  • Kekhawatiran praktik "surveillance pricing" dengan analisis data pribadi via AI

Telset.id – Pengalaman berbelanja online melalui Google AI Mode ternyata bisa lebih mahal. Sebuah eksperimen terbaru dari perusahaan SEO e-commerce Productrise menemukan bahwa produk yang sama persis muncul dengan harga rata-rata 21,6 persen lebih mahal di Google AI Mode dibandingkan pencarian tradisional.

Temuan ini menjadi sorotan di tengah kekhawatiran praktik ā€œsurveillance pricingā€, di mana perusahaan menggunakan alat AI untuk menganalisis data pribadi konsumen dan menyesuaikan label harga secara real-time. Meski eksperimen Productrise tidak membuktikan Google melakukan diskriminasi harga berdasarkan data pengguna, perbedaan ini memunculkan banyak pertanyaan tentang bagaimana AI Mode menentukan rekomendasinya.

Tangkapan layar Google AI Mode

Temuan Utama Eksperimen Productrise

Studi Productrise mengungkap beberapa temuan penting tentang perbedaan antara Google AI Mode dan pencarian tradisional. Selain harga yang lebih tinggi, penelitian ini menemukan bahwa listing di AI Mode jauh lebih terlihat oleh pengguna, dengan posisi ā€œ49 persen lebih tinggi daripada listing pencarian tradisional.ā€

Yang lebih menarik, vendor utama untuk produk yang sama persis berbeda hampir 50 persen dari waktu ke waktu antara kedua mode tersebut. Ini menunjukkan bahwa AI Mode memprioritaskan kelompok penjual yang berbeda secara signifikan dan kurang berorientasi pada anggaran.

Data lain yang mengejutkan, hanya 1,28 persen produk yang dianalisis muncul di kedua mode pencarian ā€œuntuk pencarian yang sama pada hari yang samaā€. Ini mengindikasikan bahwa tumpang tindih rekomendasi antara pencarian tradisional dan AI Mode sangat jarang terjadi. Ketika produk memang tumpang tindih, penjual yang sebenarnya berbeda 49,6 persen dari waktu ke waktu.

Respons Google atas Temuan Ini

Google memberikan tanggapan resmi atas laporan Productrise. Juru bicara Google menyatakan bahwa mereka belum memverifikasi keakuratan klaim dalam laporan tersebut.

ā€œSemua hasil belanja di Google Search, termasuk AI Mode dan halaman hasil pencarian, didukung oleh sumber data yang sama: Shopping Graph kami,ā€ kata Google. ā€œPembeli dapat dengan mudah mengklik listing produk untuk membandingkan harga produk tersebut di berbagai pengecer dan memilih opsi terbaik bagi mereka.ā€

Pernyataan ini menunjukkan bahwa secara teknis, data yang digunakan sama, namun cara AI Mode menyajikan dan memprioritaskan hasilnya berbeda dari pencarian tradisional.

Perspektif Pakar SEO

Konsultan SEO independen Brodie Clark memberikan komentarnya dalam pernyataan yang dibagikan Productrise. Ia menyebut studi ini menarik karena mengungkap lebih banyak tentang Shopping Graph Google dan inkonsistensi antara pencarian klasik dan AI Mode untuk penempatan listing gratis.

Clark juga menjelaskan perilaku konsumen yang menarik. Meskipun harga lebih tinggi ditampilkan dalam hasil grid AI Mode, penelitian menemukan bahwa banyak konsumen justru mengklik melewati fitur AI untuk menemukan nilai terbaik yang sebenarnya.

ā€œMeskipun harga yang lebih tinggi mungkin ditampilkan dalam hasil grid di AI Mode (membuat perbandingan tingkat atas kurang akurat), yang cenderung kami lihat adalah pengecer dengan harga terendah yang mendapatkan klik pada akhirnya,ā€ jelas Clark.

Temuan ini menunjukkan bahwa harga produk tertentu mungkin tidak diberikan ā€œbobot sebanyak yang kami harapkanā€ ketika AI Mode merekomendasikan apa yang harus dibeli.

Implikasi bagi Konsumen dan Pengiklan

Harga yang lebih tinggi ini melemahkan klaim bahwa AI dimaksudkan untuk ā€œmempermudah belanjaā€, seperti yang dinyatakan Google dalam siaran pers April lalu. Situasi ini mirip dengan dampak AI Overview pada industri jurnalisme, di mana Google justru mengurangi keinginan pengguna untuk mengklik tautan.

Para pengiklan kini kesulitan mengontrol pengalaman belanja dan cara produk mereka ditampilkan di dalam AI Mode. Senior SEO strategist Katelyn Geary menyoroti ironi dari situasi ini.

ā€œPencarian AI seharusnya menghilangkan kerumitan membandingkan harga di lima tab berbeda, tetapi jika ia hanya menyajikan inventaris yang lebih mahal secara default, itu berarti belum menghemat pekerjaan kami,ā€ kata Geary.

Pertanyaan yang Muncul dari Studi Ini

Eksperimen Productrise yang menggunakan prompt pencarian seperti ā€œmetal bidet attachmentā€ atau ā€œmanual grinder stainless steelā€ secara konsisten menemukan bahwa rekomendasi di AI Mode untuk produk yang sama lebih mahal daripada di pencarian Google tradisional.

Meskipun studi ini tidak membuktikan adanya diskriminasi harga yang disengaja oleh Google, data yang diungkap membuka diskusi penting tentang transparansi algoritma AI dalam rekomendasi belanja. Konsumen perlu lebih waspada dan tetap membandingkan harga secara manual, sementara regulator dan pembuat kebijakan semakin terdorong untuk mempertimbangkan intervensi.

Seiring Google terus mengintegrasikan fitur AI ke berbagai layanannya, termasuk pembaruan pada produk lain, penting bagi pengguna untuk memahami bahwa hasil yang ditampilkan AI Mode mungkin tidak selalu mewakili opsi terbaik atau termurah yang tersedia. Perbandingan harga manual tetap menjadi langkah bijak sebelum memutuskan pembelian, terutama di tengah kekhawatiran praktik penetapan harga yang semakin kompleks di era kecerdasan buatan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.