📑 Daftar Isi

Ilustrasi merger GoPro dengan Starman Optical untuk produksi transceiver optik pusat data AI

GoPro Merger dengan Starman Optical demi Produksi Transceiver AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:
  • GoPro resmi merger dengan Starman Optical, Inc., perusahaan optik-fotonik untuk produksi transceiver optik AS bagi pusat data AI
  • Starman membayar $285 juta tunai ($1,14 per saham) dan melunasi utang GoPro sebesar $92 juta
  • Investor GoPro mempertahankan 10% kepemilikan perusahaan pasca-merger
  • Starman mendapatkan akses ke 2.500+ paten GoPro, solusi pencitraan, dan optik canggih
  • Merger menyelamatkan GoPro dari "keraguan substansial" kelangsungan usaha akibat penurunan penjualan
  • GoPro berekspansi ke pertahanan, pemerintahan, robotika, dan kedirgantaraan
  • Produksi dalam negeri AS melindungi dari tarif dan kebijakan FCC
  • Allbirds jadi contoh perusahaan non-data center yang sukses pivot dengan lonjakan saham 580%

Telset.id – GoPro resmi mengumumkan merger dengan Starman Optical, Inc., sebuah perusahaan optik-fotonik. Kesepakatan ini memungkinkan entitas gabungan untuk memproduksi transceiver optik buatan Amerika Serikat untuk pusat data AI.

Starman akan membayar pemegang saham GoPro sebesar $285 juta tunai, atau setara $1,14 per saham. Perusahaan juga akan melunasi utang GoPro yang beredar sebesar $92 juta. Meski demikian, investor GoPro saat ini akan mempertahankan kepemilikan 10 persen dari perusahaan pasca-merger.

Langkah ini menjadi penyelamat bagi GoPro yang tengah menghadapi penurunan penjualan dan peningkatan biaya. Sebelumnya, produsen kamera aksi tersebut telah memperingatkan investor bahwa ada “keraguan substansial tentang kemampuan perusahaan untuk melanjutkan usaha”.

Bagi Starman, akuisisi ini memberikan akses ke kekayaan intelektual GoPro yang mencakup lebih dari 2.500 paten. Perusahaan juga akan mendapatkan solusi pencitraan, optik canggih, dan teknologi lain yang telah dikembangkan GoPro selama ini.

a GoPro Hero13 Black

Ekspansi ke Pasar Transceiver Optik

Merger ini akan memperluas portofolio GoPro untuk mencakup transceiver optik. Permintaan komponen ini meningkat seiring peralihan pusat data AI ke serat optik untuk kebutuhan jaringan mereka.

Selain pusat data, kesepakatan ini memungkinkan GoPro berekspansi ke industri pertahanan, pemerintahan, robotika, dan kedirgantaraan. Perusahaan berencana memanfaatkan IP, optik, dan kemampuan pencitraannya untuk memasok permintaan solusi buatan Amerika Serikat yang terus meningkat.

Kabar ini menjadi perkembangan terbaru dari upaya GoPro bertahan di tengah tekanan kompetisi. Sebelumnya, perusahaan sempat melakukan PHK massal dan gagal pivot ke sektor pertahanan.

Produksi Dalam Negeri AS

GoPro telah berhasil memindahkan manufakturnya keluar dari China untuk melindungi rantai pasokan dari tarif AS. Namun, perusahaan belum memiliki fasilitas produksi lokal. Merger ini akan memungkinkan GoPro memiliki produksi di dalam perbatasan Amerika dan membantu mengisolasi dari ketidakstabilan ekonomi akibat pengumuman tarif mendadak.

Langkah ini juga dinilai penting mengingat FCC baru-baru ini bergerak untuk membatasi produk teknologi buatan asing seperti router, drone ber-LiDAR, dan robot.

Kemitraan antara GoPro dan Starman masuk akal secara teknologi. Meski kamera aksi konsumen dan transceiver optik untuk pusat data terdengar tidak memiliki kesamaan, keduanya berbagi banyak teknologi seperti sensor pencitraan dan lensa atau optik canggih.

Ini bukan pertama kalinya perusahaan yang tampaknya tidak terkait dengan pusat data berekspansi ke arah tersebut. Produsen sepatu dan pakaian Allbirds juga melakukan pivot serupa awal tahun ini. Saham Allbirds melonjak 580 persen setelah pengumuman tersebut, meski kemudian kembali turun ke harga sebelum pengumuman.

Investasi pusat data AI memang menjadi daya tarik besar. Perusahaan konsultan PricewaterhouseCoopers memperkirakan investasi pada teknologi ini bisa mencapai $32 triliun pada 2050.

Kesepakatan merger ini menjadi babak baru bagi GoPro yang sebelumnya sempat diguncang berbagai masalah internal. Perusahaan kini berharap dapat mengamankan masa depannya melalui produksi komponen penting untuk infrastruktur AI.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.