Telset.id – Sebuah studi baru dari perusahaan analitik pencarian AI Searchable menemukan bahwa sekitar satu dari 12 jawaban chatbot AI tentang isu politik lokal bertentangan dengan data resmi pemerintah. Dari 7.449 jawaban yang dievaluasi, 610 di antaranya salah, atau setara tingkat kesalahan 8,2 persen. Penelitian ini menguji empat alat AI populer: ChatGPT, Gemini, Google AI Mode, dan Perplexity, menjelang pemilihan midterm Amerika Serikat yang tinggal beberapa hari lagi.
Temuan ini menjadi penting bagi pemilih yang terbiasa bertanya kepada chatbot soal rekam jejak kandidat sebelum mencoblos. Pasalnya, kesalahan jawaban bukan hanya soal sumber yang tidak tepercaya, melainkan juga kegagalan AI dalam mengolah informasi yang sebenarnya sudah benar. Pertanyaan yang diuji mencakup isu yang rutin dipertimbangkan pemilih saat menilai politisi, seperti kriminalitas, biaya perumahan, lapangan kerja, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Perplexity Paling Sering Salah, Google AI Mode Paling Akurat
Penelitian menemukan perbedaan signifikan antar keempat alat AI tersebut. Perplexity menghasilkan jawaban salah pada 22,6 persen respons yang diuji, jauh lebih tinggi dibanding Gemini sebesar 6,2 persen dan ChatGPT 4,4 persen. Google AI Mode mencatat tingkat kesalahan terendah, yakni 2,9 persen. Artinya, lebih dari satu dari lima jawaban Perplexity yang dievaluasi bertentangan dengan data resmi pemerintah.

Tingkat kesalahan juga bervariasi menurut topik. Pertanyaan soal perumahan dan biaya hidup menghasilkan jawaban salah terbanyak secara keseluruhan, yakni 11,9 persen, diikuti isu energi dan lingkungan sebesar 10,9 persen serta sekolah 10,1 persen. Sementara pertanyaan soal kriminalitas dan keselamatan publik mencatat tingkat kesalahan agregat terendah, yaitu 4,7 persen.
Angka-angka ini tidak mewakili tingkat akurasi masing-masing chatbot secara menyeluruh untuk semua pertanyaan politik. Studi berfokus pada 106 pertanyaan dasar di lima wilayah metropolitan beserta negara bagiannya, termasuk pertanyaan yang sengaja dirancang seputar klaim menyesatkan atau yang sebelumnya telah terbantahkan.
Baca Juga:
Sumber Resmi Tak Menjamin Jawaban Benar
Temuan yang paling mengkhawatirkan adalah jawaban salah tidak selalu berasal dari situs web yang tidak tepercaya. Dari 43.079 halaman web yang diakses sistem AI selama penelitian, sekitar 62 persen berasal dari situs pemerintah federal, negara bagian, atau lokal. ChatGPT bahkan sangat menyeluruh dalam mengumpulkan informasi. Peneliti menemukan ChatGPT merujuk rata-rata 31 halaman web dari 10 situs sebelum menjawab satu pertanyaan.

Salah satu contoh dalam laporan melibatkan pasokan listrik di Georgia. ChatGPT dilaporkan menjalankan 19 pencarian dan mengakses 154 halaman dari 52 situs web sebelum merespons. Hal ini menunjukkan masalah dalam mengandalkan AI untuk menafsirkan informasi. Sebuah chatbot bisa mencari secara ekstensif, mengakses sumber otoritatif, dan tetap membuat kesalahan saat menyusun informasi tersebut.
Chris Donnelly, CEO dan salah satu pendiri Searchable, menjelaskan, “Sering kali jawaban yang benar sudah ada di sumber yang ditautkan chatbot, hanya saja tidak sampai ke pemilih.” Kekhawatiran ini menjadi sangat relevan ketika sebuah jawaban memuat statistik yang bisa memengaruhi cara seseorang menilai rekam jejak pejabat terpilih.
Penelitian juga menguji apa yang terjadi ketika pertanyaan mengandung asumsi menyesatkan. Contohnya, bertanya kepada chatbot mengapa kriminalitas meningkat di suatu wilayah sudah mengasumsikan kriminalitas naik, meskipun statistik resmi menunjukkan sebaliknya. Menurut temuan Searchable yang dibagikan kepada Tom’s Guide, pertanyaan yang mengandung asumsi keliru lebih dari empat kali lebih mungkin menghasilkan jawaban salah. AI tidak selalu menantang premis pertanyaan, kadang menerima premis tersebut dan menyusun penjelasan di sekitarnya.
Isu ini semakin relevan karena warga Amerika Serikat sudah menggunakan AI untuk tujuan tersebut. Survei Oktober yang diterbitkan George Washington University’s Graduate School of Political Management menemukan bahwa satu dari lima calon pemilih midterm pernah bertanya kepada AI soal pemilu atau politik, dan seperempatnya melaporkan menggunakan AI setiap hari. Menariknya, survei yang sama menemukan hanya 1 persen yang menganggap AI sebagai sumber paling tepercaya untuk informasi tentang pemilu dan kandidat.
Kemampuan chatbot mengakses data dari berbagai layanan juga terus berkembang, seperti yang terlihat pada fitur akses iCloud Mail yang kini tersedia di semua paket. Namun, perluasan kemampuan ini tidak otomatis menjamin akurasi interpretasi data.
Cara Memeriksa Jawaban AI Sebelum Memilih
Studi ini tidak berarti pengguna harus berhenti menggunakan ChatGPT, Gemini, atau alat AI lain untuk meneliti isu politik. Alat-alat tersebut masih bisa membantu menjelaskan kebijakan rumit, merangkum informasi, atau menemukan sumber relevan. Namun, ada beberapa langkah pencegahan sebelum menerima jawaban sebagai fakta.
Pertama, mintalah sumber. Jika chatbot memberikan statistik soal pengangguran, kriminalitas, atau harga perumahan, minta ia mengidentifikasi lembaga pemerintah yang bertanggung jawab menerbitkan informasi tersebut. Lalu buka sendiri sumbernya.
Kedua, perhatikan cara menyusun pertanyaan. Alih-alih bertanya mengapa kriminalitas meningkat di kota Anda, tanyakan apakah kriminalitas naik atau turun dalam periode tertentu. Pertanyaan netral memungkinkan chatbot menantang asumsi yang keliru.
Ketiga, periksa tanggal. Indikator keuangan, statistik kriminalitas, dan data perumahan berubah secara berkala. Pastikan informasi berlaku untuk periode yang sedang diteliti, bukan bergantung pada angka usang.
Keempat, jangan menganggap sitasi menjamin akurasi. Tautan ke situs web pemerintah yang sah tidak otomatis berarti chatbot menafsirkan isinya dengan benar. Periksa apakah angka tersebut benar-benar muncul di sumber yang ditautkan dan apakah konteksnya sesuai dengan penjelasan AI.
Kelima, verifikasi logistik pemilu secara terpisah. Untuk lokasi tempat pemungutan suara, persyaratan pendaftaran, jam voting, dan informasi surat suara, datang langsung ke kantor pemilihan negara bagian atau lokal, bukan mengandalkan ringkasan yang dihasilkan AI.
Searchable menguji sistemnya pada September dan Oktober 2026, menggunakan akun login anonim dan pertanyaan berulang di sesi baru. Peneliti memeriksa jawaban terhadap data resmi pemerintah, dan dua penilai harus sepakat sebelum mengklasifikasikan sebuah jawaban sebagai salah. Studi ini bukan ukuran komprehensif keandalan chatbot, tetapi menggambarkan kelemahan yang perlu dipahami sebelum pemilihan midterm 3 November.
Seiring makin banyak pengguna yang mengandalkan AI untuk berbagai keperluan, termasuk profil rahasia pengguna yang dibangun ChatGPT dari memori, kesadaran akan keterbatasan interpretasi AI menjadi semakin krusial. Seperti disampaikan Donnelly, “Perlakukan jawaban chatbot sebagai titik awal, bukan keputusan akhir.”





Komentar
Belum ada komentar.