📑 Daftar Isi

China Buka 11 Profesi Baru Berkat Ledakan Industri AI Berwujud

China Buka 11 Profesi Baru Berkat Ledakan Industri AI Berwujud

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Pemerintah China resmi mengumumkan 11 profesi baru pada September 2026, termasuk teknisi penerapan robot AI berwujud dan insinyur kembaran digital. Langkah ini menjadi respons langsung terhadap perkembangan pesat industri kecerdasan buatan berwujud yang menciptakan kebutuhan tenaga kerja baru di lapangan.

Pengumuman tersebut dikeluarkan oleh Kementerian Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial China bersama jajaran lembaga pemerintahan lainnya. Dua profesi yang paling menonjol adalah teknisi penerapan robot AI berwujud dan insinyur kembaran digital, keduanya berperan penting dalam menjembatani robot dari ruang uji coba menuju penerapan nyata di industri.

Perubahan lanskap kerja ini terlihat jelas di Sevnce Robotics, perusahaan yang beroperasi di Liangjiang New Area, Kota Chongqing, China barat daya. Di sana, Tang Zixiang bekerja sebagai teknisi penerapan robot AI berwujud dengan tugas melatih robot-robot AI berwujud untuk menjalankan sejumlah tugas spesifik.

Tang menyesuaikan posisi dan sudut beberapa kenop untuk menyimulasi beragam kondisi kerja, lalu menggunakan data yang dihasilkan untuk melatih model AI. Model yang sudah dilatih tersebut kemudian diterapkan ke lengan-lengan robotik untuk pengujian dan penyempurnaan lebih lanjut. Melalui rangkaian pengujian berulang, robot-robot itu perlahan mempelajari tugas dalam simulasi sebelum mengaplikasikannya di dunia nyata.

“Kami bertugas membantu robot-robot berpindah dari ruangan uji coba ke penerapan lebih luas di dunia nyata,” kata Tang, dikutip dari ANTARA.

Robot Pengganti Manusia di Lingkungan Berbahaya

Sevnce Robotics mengembangkan robot-robot spesialis untuk industri migas, kimia, dan energi. Mesin-mesin mereka dirancang bisa menggantikan atau membantu pengawas manusia di lingkungan berbahaya. Di lingkungan tersebut, robot harus bisa beroperasi secara andal untuk jangka panjang.

Tang beserta rekan-rekannya perlu mengatur persyaratan kecepatan dan akurasi, menguji apakah robot dapat pulih dari kegagalan operasi, serta menentukan kapan robot harus berhenti atau membutuhkan intervensi manusia. “Kami bertujuan mengubah robot yang bekerja di ruang uji coba menjadi mesin yang bisa aman beroperasi dan diandalkan untuk jangka panjang,” ujar Tang.

Selain teknisi penerapan robot AI berwujud, profesi insinyur kembaran digital juga diakui secara resmi. Jiang Lei, yang menekuni bidang itu, bertugas membangun lingkungan virtual sebagai tempat robot-robot pemeriksa melatih ulang tugas mereka sebelum penempatan di lapangan.

Menggunakan rekonstruksi tiga dimensi (3D), tim Jiang membangun tiruan digital pabrik. Ini memberi kesempatan para robot melatih ulang rute tugas pemeriksaan mereka dan memeriksa apakah kamera mereka bisa menangkap pembacaan instrumen. Setelah tugas-tugas itu tervalidasi dalam simulasi, mereka bisa dipindahkan ke robot fisik.

Biasanya, para teknisi akan membawa robot ke situs kerja sebelum memetakan lingkungan sekeliling, menyusun rute, dan menentukan titik pemeriksaan. Namun, kembaran digital memungkinkan pekerjaan tersebut dilatih ulang secara simulasi, memangkas waktu dari 2-3 pekan menjadi 2-3 hari saja. Simulasi itu juga menghasilkan data untuk pengujian dan pelatihan algoritma, mengurangi durasi serta ongkos pengumpulan data di lingkungan dunia nyata.

Peluang Karier Lintas Latar Belakang Pendidikan

Seiring rantai industri kian terspesialisasi, terbuka pula peluang karier bagi orang-orang dari berbagai latar belakang pendidikan. Jiang, misalnya, mempelajari teknik mesin kendaraan di universitas sebelum berpindah dari penelitian kemudi otonom ke pengembangan robot yang membutuhkan keahlian dalam permodelan, pemrograman, dan simulasi 3D.

Sementara Tang, yang memiliki latar belakang S1 dan S2 di bidang ilmu komputer, mengaplikasikan pembelajaran penguatan dan imitasi ke dalam pelatihan robot sembari terus mendalami kinematika robot dan kontrol gerak.

Pertumbuhan industri AI berwujud juga meningkatkan kebutuhan ahli dalam bidang pengumpulan data, pelatihan model, serta pengoperasian, pemeliharaan, dan pengaturan sistem. Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China merilis data bahwa terdapat lebih dari 400 model robot humanoid di negara tersebut. Sepanjang semester pertama 2026, telah diproduksi 40.000 unit robot humanoid.

Upaya untuk melatih tenaga kerja di sektor tersebut juga semakin gencar. Pada awal Oktober 2026, Universitas Kota Beijing (BCU) meluncurkan program pelatihan talenta berketerampilan tinggi dalam penerapan dan praktik AI berwujud. Program tersebut menawarkan studi intensif lima hari yang menggabungkan pengajaran di kelas dan praktik langsung bersama robot nyata bagi pekerja industri.

Perkembangan ini menjadi bagian dari tren yang lebih luas, di mana infrastruktur komputasi dan rantai pasok komponen ikut terdorong. Sejumlah laporan sebelumnya menyoroti bagaimana stok RTX 5090 turut terpengaruh oleh konversi pabrik di China untuk kebutuhan AI, sementara Nvidia menyetop produksi RTX 5090 demi fokus pada kartu AI.

Meski demikian, Tang mengaku berharap robot akan melengkapi pekerja manusia, alih-alih sekadar menggantikan mereka. “Saya harap robot akan mengambil alih pekerjaan yang lebih berbahaya, membosankan, dan repetitif,” katanya.

Bagi pekerja di sektor industri, pengakuan resmi 11 profesi baru ini menandakan bahwa keterampilan di bidang AI berwujud kini memiliki jalur karier yang jelas di China. Permintaan akan teknisi penerapan robot dan insinyur kembaran digital diproyeksikan mengikuti laju produksi robot humanoid yang mencapai 40.000 unit pada semester pertama 2026.

[ META_DESCRIPTION]
China mengumumkan 11 profesi baru pada September 2026, termasuk teknisi robot AI berwujud dan insinyur kembaran digital, berkat pesatnya industri AI.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.