Telset.id â Dominasi Nvidia di pasar chip kecerdasan buatan (AI) mulai mendapat tantangan serius. ZML, startup AI asal Prancis yang didukung oleh peraih Turing Award Yann LeCun, merilis perangkat lunak baru yang memungkinkan berbagai model bahasa besar (LLM) open source berjalan di berbagai jenis chip, tidak hanya milik Nvidia.
Perangkat lunak bernama ZML/LLMD ini merupakan LLM inference server yang dirancang untuk memecah hambatan ekosistem yang ada. Tujuan utamanya adalah membuat berbagai chipâtermasuk buatan Nvidia, AMD, Google TPU, Apple Metal, dan Intel Arcâdapat digunakan untuk kebutuhan AI dengan kecepatan maksimal, bahkan terkadang lebih cepat dari biasanya.
âIdenya adalah memberikan kembali kekuatan kepada orang-orang untuk menciptakan sistem mereka sendiri dan mencapai efisiensi nyata yang memungkinkan [AI] untuk disebarluaskan,â ujar pendiri ZML, Steeve Morin, kepada TechCrunch.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran akan biaya terkait AI. Dengan adanya ZML/LLMD, perusahaan dan penyedia cloud diharapkan memiliki opsi untuk menggunakan campuran chip, termasuk yang lebih murah atau lebih hemat energi. Langkah ini bisa menjadi disruptor pasar yang signifikan.
Meskipun demikian, Morin tidak bersikap pesimis terhadap Nvidia. Ia mengakui hubungan baik ZML dengan raksasa chip AI tersebut, yang juga terus bersiap menghadapi meningkatnya kebutuhan inferensi. Tren ini bahkan disebut sebagai âdemam emas inferensiâ atau inference gold rush.
ZML/LLMD tidak bersifat open source, berbeda dengan proyek publik pertama ZML pada tahun 2024. Namun, perangkat lunak ini diluncurkan sebagai produk gratis dengan tujuan mempelajari pola penggunaan. Morin menyatakan ingin mengukur pasar terlebih dahulu sebelum menghasilkan pendapatan di tempat yang paling efektif, tanpa menghambat pertumbuhan karena terlalu serakah sejak awal.
Startup yang berbasis di Paris ini memiliki tim yang ramping, hanya 20 orang. Morin mengkredit tim kecil ini sebagai alasan utama mengapa ZML bisa bergerak cepat. Tim ini juga didukung pendanaan yang solid. Berkat rekam jejak Morin sebagai VP of Engineering di Zenly (yang diakuisisi Snapchat senilai sembilan digit pada 2017), ia berhasil mengumpulkan dana sebesar $20 juta dari sejumlah venture capital ternama.
Pendanaan tersebut meliputi Harry Stebbingsâ 20VC, >commit, AALVC, Drysdale Ventures, Xavier Nielâs Kima Ventures, Kindred Capital, LocalGlobe, dan Puzzle Ventures. Cap table ZML juga menunjukkan bahwa para pendiri startup lain turut memperhatikan, termasuk pendiri Dagger dan Docker, Solomon Hykes, serta ClĂŠment Delangue dan Julien Chaumond dari Hugging Face.
Kabar ini menjadi angin segar bagi ekosistem AI global, terutama di Eropa. Morin percaya bahwa startup AI Eropa kini bisa berkembang dari rumah sendiri. âSaya tidak bisa membuat ZML di tempat lain selain di Paris,â tegasnya. Hal ini juga membangun argumen bahwa ekosistem AI Eropa semakin matang.
Baca Juga:
Perangkat lunak ZML/LLMD diharapkan dapat membantu para pembuat chip AI baru, terutama yang berasal dari Eropa. Morin menyebutkan beberapa nama seperti Axelera, Fractile, Kalray, OLIX, Q.ANT, SiPearl, SpiNNcloud, dan VSORA. Namun, yang lebih penting baginya adalah ZML dapat bekerja sama dengan mereka untuk menciptakan âhal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya di mana pun di dunia.â
ZML sendiri bukannya tanpa pesaing. Di bidang inferensi, ada Baseten yang baru-baru ini bernilai $13 miliar, Inferact dari pembuat proyek open source vLLM, serta RadixArk, perusahaan komersial di balik SGLang. Baik vLLM dan SGLang sebagian bersaing dengan LLMD, namun ambisi Morin untuk ZML mencakup spektrum yang lebih luas. âKami telah mencapai titik di mana kami ikut mendesain silikon,â ujarnya.
Saat ini, masih terlalu dini untuk mengetahui kapan ZML/LLMD akan menjadi produk berbayar dan bagaimana adopsinya nanti. Namun, dengan dukungan investor dan tim yang solid, ZML berpotensi menjadi pemain kunci yang mengubah peta persaingan di industri chip AI.





Komentar
Belum ada komentar.