📑 Daftar Isi

A graphic shows an image that Stanford edited to include a nonexistent Black student.

Stanford Hapus Mahasiswa Hispanic Pakai AI demi Foto Kampus

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Stanford University memakai AI untuk menghapus mahasiswa Hispanic, Billy Ramirez, dari foto promosi dining hall
  • Posisinya digantikan sosok perempuan kulit hitam yang tidak pernah ada
  • Dua mahasiswa lain dalam foto diedit agar tampak lebih kurus dan menarik
  • Foto digunakan dalam banner "Welcome Home" yang kini diturunkan
  • Juru bicara Stanford mengakui tindakan itu melanggar kebijakan AI kampus
  • Universitas berjanji memberi pelatihan tambahan bagi seluruh staf

Telset.id – Stanford University menggunakan AI untuk menghapus seorang mahasiswa Hispanic dari sebuah foto dan menggantinya dengan sosok perempuan kulit hitam yang tidak pernah ada. Foto hasil editan itu kemudian dipasang di berbagai sudut kampus untuk mempromosikan dining hall universitas. Insiden ini menjadi sorotan karena menyangkut manipulasi citra kampus dengan teknologi AI.

Mahasiswa yang dihapus dari foto tersebut bernama Billy Ramirez. Awalnya, Ramirez mengaku menganggap perubahan itu “lucu”. Namun perasaan itu berubah. Ia mengaku merasa “silenced and erased from a representation that was supposed to include me”, sebagaimana dikutip dari Stanford Review, surat kabar mahasiswa yang pertama kali melaporkan insiden ini.

Foto tersebut menampilkan para mahasiswa tersenyum sambil mengangkat piring berisi makanan. Selain Ramirez yang dihapus, dua mahasiswa lain dalam foto — seorang perempuan muda Asia dan seorang pria kulit putih — juga diedit dengan AI. Keduanya dibuat tampak lebih kurus dan lebih menarik secara konvensional.

Pelanggaran Kebijakan AI Stanford

Menurut pemberitaan San Francisco Chronicle, foto yang telah disentuh AI itu digunakan dalam banner “Welcome Home” di lingkungan universitas. Ramirez menyebut poster-poster tersebut sebelumnya “all over campus”, namun kini sedang diturunkan. “I love this school, but I don’t love when they do things like this,” ujarnya kepada surat kabar tersebut.

Ia menambahkan bahwa penggantian dengan mahasiswa kulit hitam palsu tidak “reflect reality”. Menurut Ramirez, kampus “It’s not as diverse as they make it out to be.”

SFChronicle menemukan bahwa departemen Residential & Dining Enterprises Stanford sebelumnya pernah menggunakan AI untuk membuat poster dining yang mempromosikan berbagai penawaran. Makanan dalam poster tersebut disebut memiliki tampilan yang khas dari seni makanan AI yang belakangan menuai banyak kritik.

Juru bicara Stanford mengonfirmasi bahwa AI memang digunakan untuk mengedit gambar tersebut dan hal itu melanggar kebijakan AI Stanford. “The use of AI in producing or altering images of Stanford people, events, research, facilities, or achievements is strictly prohibited,” kata juru bicara itu kepada SFChronicle. “Both the alteration and lack of disclosure in this case violate that policy. We are working to provide additional training for all staff and ensure proper review of all materials.”

Insiden ini menjadi contoh lain bagaimana AI dipakai untuk menulis ulang realitas secara sembarangan, mungkin dengan harapan mencapai representasi yang “sempurna”. Hasilnya, selain menjadi kebohongan, sering kali tampak murah, mencolok, dan mudah dikenali.

Pandangan Stanford Review, dining hall “likely believed [the changes] were subtle enough for no one to notice.” Ramirez secara keseluruhan terdengar sinis dan sedikit geli. “It is Silicon Valley,” katanya kepada SFChronicle. “I’m not as surprised given the culture of Stanford revolves heavily around AI usage,” tambahnya. Ia menyebut sebagian profesornya rutin menggunakan chatbot Claude dari Anthropic.

Kasus ini menunjukkan bahwa penggunaan AI di lingkungan akademik tidak hanya soal riset. Sejumlah inisiatif Stanford lain juga melibatkan AI, seperti Virus Baru dari Nol yang diciptakan AI dan diuji ke bakteri oleh ilmuwan Stanford. Ada pula proyek Deteksi Sleep Apnea hasil kolaborasi Samsung dan Stanford di Galaxy Watch.

Yang membedakan insiden foto dining hall ini adalah pelanggaran kebijakan yang diakui sendiri oleh pihak universitas. Juru bicara Stanford menyatakan bahwa baik perubahan gambar maupun ketiadaan pengungkapan melanggar kebijakan tersebut. Pihak universitas menyatakan sedang menyiapkan pelatihan tambahan bagi seluruh staf dan memastikan peninjauan yang layak untuk semua materi.

Respons dan Dampak

Ramirez mengaku tidak terlalu terkejut dengan kejadian ini karena budaya Stanford memang sangat dekat dengan penggunaan AI. Namun ia tetap menyayangkan keputusan yang membuatnya terhapus dari representasi kampus. Poster yang semula tersebar di seluruh kampus kini diturunkan setelah insiden ini menjadi perhatian.

Kasus ini juga menyoroti bagaimana AI dapat digunakan untuk mengubah citra orang tanpa persetujuan. Foto yang seharusnya menampilkan mahasiswa asli justru dimodifikasi hingga tidak lagi mencerminkan kenyataan. Dua mahasiswa lain dalam foto pun mengalami perubahan penampilan yang tidak mereka minta.

Stanford melalui juru bicaranya menegaskan bahwa penggunaan AI untuk memproduksi atau mengubah gambar orang, acara, riset, fasilitas, atau pencapaian Stanford dilarang keras. Pernyataan itu menjadi dasar mengapa insiden ini dianggap pelanggaran, bukan sekadar kesalahan teknis.

Bagi Ramirez, persoalannya bukan hanya soal foto. Ia menyebut dirinya merasa dibungkam dan dihapus dari representasi yang seharusnya mencakup dirinya. “It’s not as diverse as they make it out to be,” ujarnya, menggambarkan kesenjangan antara citra yang ditampilkan kampus dan kenyataan yang ia alami.

Insiden di Stanford ini menambah daftar panjang kasus penggunaan AI yang mengubah realitas secara kasual. Ketika AI dipakai untuk menciptakan representasi yang “ideal”, hasilnya justru bisa menghapus orang yang nyata dan menampilkan sosok yang tidak pernah ada. Universitas pun harus menanggung konsekuensinya, termasuk penurunan poster dan janji pelatihan ulang bagi staf.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa kebijakan AI di institusi pendidikan perlu diikuti dengan pengawasan nyata. Tanpa peninjauan yang ketat, teknologi yang sama yang dipakai untuk riset dan inovasi bisa dipakai untuk mengubah citra orang tanpa sepengetahuan mereka. Stanford kini berada di posisi harus membuktikan bahwa kebijakannya benar-benar dijalankan.

[IMG_PLACEHOLDER]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.