📑 Daftar Isi

Ilustrasi AI menciptakan virus baru dari genom yang disintesis di laboratorium Stanford University [FEATURED_IMAGE_ALT_END]

AI Ciptakan Virus Baru dari Nol, Ilmuwan Stanford Uji ke Bakteri

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Ilmuwan Stanford University dan Arc Institute berhasil menciptakan virus baru menggunakan AI
  • Model AI Evo 1 dan Evo 2 dilatih pada jutaan genom dari semua domain kehidupan
  • Dari 300 genom yang disintesis, hanya 16 menghasilkan bakteriofag fungsional
  • Virus ciptaan AI mampu mengatasi resistensi bakteri E. coli dengan cepat
  • Penelitian dipublikasikan di jurnal Science dan menunjukkan jalan untuk terapi fag
  • Ada kekhawatiran penyalahgunaan teknologi untuk menciptakan patogen mematikan
  • Moritz Hanke dari Johns Hopkins menyebut ada kesenjangan besar antara sains dan regulasi
  • [SUMMARY_END]

Telset.id – Sebuah studi baru dari Stanford University dan Arc Institute berhasil menciptakan virus fungsional yang belum pernah ada sebelumnya menggunakan kecerdasan buatan (AI). Dari 300 genom yang disintesis di laboratorium, hanya 16 yang menghasilkan bakteriofag sepenuhnya fungsional dengan sekuens genetik yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya.

Para ilmuwan menggunakan model AI fundamental bernama Evo 1 dan Evo 2 yang dilatih pada jutaan genom dari semua domain kehidupan. Kedua algoritma ini dirancang untuk mengidentifikasi pola evolusi kompleks, termasuk organisasi gen, sekuens yang terkonservasi, dan batasan biologis yang memungkinkan organisme tetap fungsional.

Penelitian ini menggunakan bakteriofag Phi X-174 sebagai referensi, virus yang mampu menginfeksi bakteri Escherichia coli (E. coli). Tujuannya bukan untuk mereproduksi virus tersebut, melainkan menggunakannya sebagai panduan bagi algoritma untuk menghasilkan ribuan genom baru dengan arsitektur genetik yang kompatibel dengan infeksi E. coli.

AI dan Bakteriofag untuk Terapi Antibiotik

Bakteriofag adalah mikroorganisme dengan genom relatif kecil yang mudah disintesis dan dimanipulasi dalam kondisi terkontrol. Virus ini hanya menginfeksi bakteri, menjadikannya alat dengan potensi bioteknologi besar dan alternatif menjanjikan untuk memerangi infeksi bakteri yang resistan terhadap antibiotik.

Hasil penelitian yang dipublikasikan minggu ini di jurnal Science menunjukkan bahwa virus yang berasal dari genom ciptaan AI mempertahankan organisasi fungsional penting untuk mengenali bakteri, memasukkan DNA, mereplikasi, memproduksi partikel virus baru, dan merakitnya dengan benar. Namun, sekuens DNA spesifiknya berbeda secara signifikan dari bakteriofag alami.

Para peneliti mengevaluasi genom yang dihasilkan AI untuk memilih yang paling mungkin fungsional, mempertimbangkan faktor seperti organisasi gen dan keberadaan elemen regulasi. Dari 300 genom yang disintesis molekul demi molekul, hanya 16 yang menghasilkan bakteriofag fungsional dengan perilaku bervariasi, beberapa menginfeksi bakteri lebih cepat dan lainnya memiliki kemampuan replikasi berbeda.

Eksperimen juga menguji kemampuan bakteriofag ciptaan AI untuk melawan bakteri resisten. Campuran fag AI dan fag alami mirip Phi X-174 diekspos ke strain E. coli yang telah mengembangkan resistensi. Hasilnya, virus ciptaan AI mampu mengatasi resistensi bakteri dengan cepat dan membangun infeksi. Para penulis menyatakan temuan ini menunjukkan “jalan menuju terapi fag yang dihasilkan kecerdasan buatan terhadap patogen bakteri yang berevolusi cepat.”

Risiko Penyalahgunaan Teknologi

Penemuan ini membuka kemungkinan baru untuk mengatasi masalah resistensi bakteri yang semakin besar. Menurut para peneliti, pendekatan ini dapat memfasilitasi pengembangan perawatan personal yang mampu berevolusi hampir secepat patogen itu sendiri.

Meskipun tonggak ini merupakan kemajuan signifikan untuk biomedis molekuler, penelitian juga menimbulkan kekhawatiran tentang potensi penyalahgunaan teknologi untuk mengembangkan penyakit baru, zat sangat beracun, atau patogen yang mampu memicu pandemi baru.

Moritz Hanke, peneliti di Johns Hopkins Center for Health Security, berpendapat bahwa saat ini tidak ada pengaman yang mampu mencegah secara efektif penciptaan virus mematikan dengan bantuan AI. Ia mengatakan kepada The New York Times bahwa ada “kesenjangan besar” antara kecepatan kemajuan sains dan teknologi dengan pengembangan kerangka regulasi yang efektif.

Debat tentang risiko ini bukan hal baru. Tiga tahun lalu, studi oleh Rand Corporation memperingatkan bahwa sistem AI paling canggih saat itu memiliki kapasitas untuk menyempurnakan perencanaan dan eksekusi serangan menggunakan senjata biologis. Organisasi nirlaba tersebut juga memperingatkan bahwa kecepatan evolusi sistem AI sering melampaui kapasitas pemerintah untuk pengawasan regulasi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa AI generatif tidak hanya mampu memahami pola biologis kompleks, tetapi juga menciptakan entitas biologis baru yang fungsional. Kemajuan ini membawa implikasi besar bagi masa depan biomedis, terutama dalam pengembangan terapi fag untuk melawan infeksi bakteri resisten. Namun, kesenjangan antara inovasi teknologi dan kerangka regulasi menjadi perhatian serius yang perlu diatasi.

[TITLE_END]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.