📑 Daftar Isi

Ilustrasi logo Spotify dengan elemen AI untuk fitur remix dan covers yang akan datang

Spotify Siapkan Fitur Remix AI dengan Izin Artis

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱5 menit membaca
Bagikan:
  • Spotify mengonfirmasi produk musik AI untuk cover dan remix dengan fokus pada izin artis
  • Merlin, mitra lisensi label independen, bergabung dengan UMG membawa lebih dari 30.000 label
  • Co-CEO Gustav Söderström menegaskan produk ini untuk "artis sungguhan, bukan artis palsu"
  • Alex Norström menjelaskan model kompensasi dan kredit untuk artis yang berpartisipasi
  • Data Deezer menunjukkan 50% unggahan harian kini dihasilkan AI, naik dari 10% Januari 2025
  • Pratinjau penelitian akan tersedia untuk sebagian pengguna, belum ada tanggal pasti
  • Produk akan diluncurkan sebagai add-on berbayar untuk aliran pendapatan tambahan artis
  • Spotify menegaskan produk ini tidak akan terjadi tanpa platform mereka

Telset.id – Spotify kembali mengonfirmasi bahwa produk musik AI untuk membuat cover dan remix akan segera hadir, dengan fokus utama pada izin dan kompensasi bagi artis. Dalam panggilan earnings kuartal kedua pada Selasa (22/7/2025), Spotify mengumumkan bahwa Merlin, mitra lisensi untuk label dan distributor independen, telah bergabung dengan Universal Music Group (UMG) dalam upaya musik AI ini.

Kesepakatan ini membawa lebih dari 30.000 label dari jaringan Merlin ke produk yang memungkinkan penggemar membuat cover dan remix dari artis yang setuju berpartisipasi. Langkah ini menjadi pembeda signifikan dari startup musik AI kontroversial yang selama ini digunakan untuk membuat lagu sepenuhnya artifisial.

Co-CEO Spotify, Gustav Söderström, menegaskan kepada investor bahwa produk musik AI perusahaan akan berfokus pada “artis sungguhan, bukan artis palsu”. Pernyataan ini menegaskan posisi Spotify di tengah maraknya konten AI yang membanjiri layanan streaming musik.

Apa yang Membuat Produk Ini Berbeda?

Co-CEO Spotify lainnya, Alex Norström, menjelaskan bahwa mereka ingin artis memberikan persetujuan untuk menambahkan karya mereka ke dalam katalog ini. Dengan begitu, pengguna dapat bermain-main dengan cover dan remix berdasarkan karya seni para artis tersebut.

“Kami juga tentu ingin memberi mereka kredit. Dan yang terakhir namun tidak kalah pentingnya
 kami tidak hanya memiliki persetujuan dan memberikan kredit, tetapi kami juga mendorong kompensasi untuk ini. Jadi, sungguh, kita sedang berbicara tentang cara legal pertama untuk mengambil bagian dalam dorongan AI yang kami lihat datang untuk musik interaktif,” ujar Norström.

Pendekatan ini menjadi sangat relevan mengingat maraknya musik AI yang membanjiri layanan streaming. Music streamer Deezer baru-baru ini mencatat bahwa lebih dari 50% unggahan trek harian dihasilkan dengan AI, meningkat dari 10% pada Januari 2025. Angka ini menunjukkan betapa cepatnya konten AI menguasai industri musik digital.

Bagi pengguna yang ingin tahu lebih banyak tentang perkembangan terbaru Spotify, perusahaan sebelumnya juga telah meluncurkan berbagai fitur menarik. Salah satunya adalah Fitur User Notes yang memungkinkan pengguna meninggalkan catatan di lagu. Selain itu, Spotify juga telah merilis Running Mode AI untuk membantu pengguna mengatur playlist lari.

Kapan Fitur Ini Tersedia?

Spotify mengungkapkan bahwa pratinjau penelitian dari produk fan remix dan covers ini awalnya akan tersedia untuk sebagian pengguna. Perusahaan juga mencatat bahwa mereka tidak akan memerlukan katalog musik lengkap untuk memulai. Namun, Spotify belum mengumumkan kapan pratinjau tersebut akan hadir.

Produk baru ini akan diluncurkan sebagai add-on berbayar, menciptakan aliran pendapatan tambahan bagi para artis. Model bisnis ini menunjukkan bahwa Spotify serius menjadikan fitur ini sebagai produk komersial yang menguntungkan semua pihak.

“Remix dan covers kami, saya pikir, adalah produk yang sangat menarik karena tidak ada orang lain yang benar-benar bisa melakukan ini,” kata Söderström. “Generative music normal akan terjadi dengan atau tanpa kami. Produk ini tidak akan terjadi tanpa kami, dan itu perlu ada agar artis yang ada dapat berpartisipasi dalam hal ini.”

Keyakinan Söderström ini menunjukkan bahwa Spotify melihat peluang besar di mana platformnya memiliki keunggulan kompetitif yang unik. Dengan menggabungkan katalog musik yang luas, hubungan dengan label, dan basis pengguna yang besar, Spotify berada dalam posisi yang tepat untuk memimpin inovasi musik AI yang legal dan etis.

Bagi para pengguna yang penasaran dengan ekosistem Spotify secara keseluruhan, perusahaan sebelumnya juga telah mencatatkan pencapaian signifikan. Spotify berhasil menembus 300 juta pelanggan berbayar di Q2 2025. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa platform ini terus berkembang pesat di tengah berbagai inovasi yang diluncurkannya.

Dengan bergabungnya Merlin yang membawa jaringan lebih dari 30.000 label, cakupan katalog untuk fitur remix ini akan sangat luas. Hal ini memberikan opsi yang jauh lebih banyak bagi pengguna untuk bereksperimen dengan musik dari berbagai label independen di seluruh dunia.

Model kompensasi yang diusung Spotify juga menjadi nilai jual utama. Berbeda dengan platform AI musik lain yang sering kali bermasalah dengan hak cipta, Spotify memastikan bahwa artis mendapatkan kompensasi yang layak atas karya mereka yang digunakan dalam remix dan cover buatan penggemar.

Ini adalah langkah penting dalam industri musik yang sedang bergulat dengan tantangan AI. Dengan pendekatan yang mengutamakan persetujuan dan kompensasi, Spotify berusaha menciptakan ekosistem yang adil bagi semua pihak.

Perlu dicatat bahwa produk ini akan berbeda dari alat AI generatif biasa yang dapat membuat lagu dari nol. Fokus Spotify adalah pada interaksi kreatif antara penggemar dan karya artis yang sudah ada, bukan pada penciptaan lagu baru sepenuhnya.

Bagi artis, ini adalah peluang untuk mendapatkan sumber pendapatan baru dari karya mereka. Bagi penggemar, ini adalah cara untuk mengekspresikan kreativitas mereka dengan cara yang legal dan menghormati hak cipta.

Spotify belum memberikan tanggal pasti peluncuran pratinjau produk ini. Namun, dengan pengumuman di earnings call kuartal kedua, para pengamat industri memperkirakan bahwa pengembangan produk ini sudah berada di tahap lanjut.

Sementara itu, industri musik terus beradaptasi dengan kehadiran AI. Data dari Deezer yang menunjukkan lonjakan signifikan konten AI di platform streaming menjadi pengingat bahwa transformasi ini tidak bisa dihindari. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana industri meresponsnya.

Spotify tampaknya memilih jalur kolaboratif dengan melibatkan artis dan label sejak awal. Pendekatan ini berbeda dengan beberapa platform lain yang lebih permisif terhadap konten AI tanpa pengawasan ketat.

Dengan positioning yang jelas sebagai produk untuk “artis sungguhan”, Spotify berharap dapat menarik lebih banyak artis untuk bergabung. Semakin banyak artis yang berpartisipasi, semakin kaya katalog yang tersedia untuk pengguna bereksperimen.

Ke depannya, fitur ini berpotensi menjadi salah satu pendorong pertumbuhan pendapatan baru bagi Spotify. Dengan model add-on berbayar, perusahaan dapat meningkatkan pendapatan per pengguna sekaligus memberikan nilai tambah bagi artis.

Bagi pengguna yang tertarik dengan perkembangan fitur-fitur Spotify lainnya, perusahaan juga telah merilis Running Mode untuk pecinta lari yang bisa dicoba. Fitur ini menunjukkan komitmen Spotify dalam menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan penggunanya.

Dengan semua perkembangan ini, jelas bahwa Spotify tidak hanya berfokus pada pertumbuhan jumlah pengguna, tetapi juga pada kualitas dan keunikan fitur yang ditawarkan. Produk remix dan covers AI ini menjadi bukti bahwa perusahaan terus mencari cara untuk berinovasi di tengah persaingan industri streaming musik yang semakin ketat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.