πŸ“‘ Daftar Isi

Sony Beli Startup AI, Masa Depan Grafis PlayStation Makin Ciamik?

Sony Beli Startup AI, Masa Depan Grafis PlayStation Makin Ciamik?

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:3 April 2026
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Bayangkan Anda bisa menjelajahi foto liburan lama dalam ruang 3D yang nyata, atau karakter dalam game memiliki detail visual yang begitu hidup hingga hampir tak bisa dibedakan dari kenyataan. Itulah masa depan yang sedang dirajut Sony PlayStation, dan langkah terbarunya adalah mengakuisisi Cinemersive Labs, sebuah startup AI asal Inggris yang ahli mengubah foto dan video 2D biasa menjadi volume 3D. Ini bukan sekadar pembelian biasa, melainkan sinyal kuat betapa seriusnya Sony dalam perlombaan kecerdasan buatan untuk menghadirkan pengalaman visual yang benar-benar revolusioner.

Dalam dunia game di mana realisme dan imersi adalah segalanya, keputusan Sony Interactive Entertainment (SIE) ini layak disorot. Cinemersive Labs, startup yang mungkin belum banyak dikenal publik gamer, ternyata menyimpan teknologi kunci. Produk andahan mereka, aplikasi realitas virtual bernama Parallax, memungkinkan pengguna menikmati foto β€œparallax” – gambar 3D yang bisa Anda β€œintip” sekelilingnya hanya dengan menggerakkan kepala – yang diambil bahkan dari smartphone biasa. Kuncinya ada pada alat AI custom yang mereka kembangkan untuk konversi 2D ke 3D. Teknologi inilah yang membuat Sony tertarik dan memutuskan untuk memboyong seluruh tim Cinemersive untuk bergabung dengan Visual Computing Group (VCG) milik Sony.

VCG sendiri bukan tim sembarangan. Ini adalah kelompok riset teknik inti Sony yang fokus pada teknologi grafis mutakhir, mulai dari rendering game, pengkodean video, hingga model generative AI. Penyatuan ini jelas punya tujuan besar. Seperti pernyataan resmi Sony, tim Cinemersive akan berkontribusi pada upaya mempercepat kemajuan komputasi visual dalam game, termasuk menerapkan machine learning untuk meningkatkan visual gameplay, menyempurnakan teknik rendering, dan membuka level baru fidelitas visual bagi para pemain. Ambisi Sony terasa jelas: mereka tak ingin hanya mengikuti tren, tapi mendiktenya.

AI Sebagai Jantung Strategi Grafis Sony

Langkah akuisisi ini sebenarnya adalah bagian dari puzzle besar yang sudah lama disusun Sony. Fokus pada machine learning untuk mendongkrak performa grafis telah menjadi prioritas, terutama untuk PlayStation 5 dan hardware masa depan. Ingat PlayStation 5 Pro? Konsol itu didesain dengan GPU baru, penyimpanan lebih cepat, dan yang paling krusial: PlayStation Spectral Super Resolution (PSSR). Teknologi upscaling AI custom ini memungkinkan konsol menjalankan game pada resolusi lebih rendah, lalu mengaturnya secara cerdas ke 4K, menghemat daya tanpa mengorbankan kualitas. Baru-baru ini, Sony bahkan merilis pembaruan PSSR di bulan Maret untuk menyedot lebih banyak performa dari PS5 Pro.

Kolaborasi dengan AMD melalui Project Amethyst juga menguatkan narasi ini. Kerja sama multi-segi ini bertujuan meningkatkan ray tracing dan upscaling untuk konsol masa depan. Dengan menambahkan keahlian Cinemersive Labs ke dalam portofolio VCG, Sony seolah mengatakan bahwa masa depan grafis game tidak hanya tentang menghitung cahaya dan bayangan dengan lebih akurat, tetapi juga tentang menciptakan aset dan dunia yang lebih dinamis, kaya, dan personal dari konten 2D yang sudah ada. Bayangkan implikasinya: pengembang bisa dengan lebih mudah mengonversi konsep art 2D menjadi model 3D, atau menciptakan lingkungan game yang lebih hidup dari sumber daya fotografi.

Namun, jalan Sony menuju dominasi grafis berbasis AI ini tidak selalu mulus. Beberapa waktu lalu, dunia game dihebohkan dengan keputusan Sony menutup Bluepoint Games, studio yang dikenal dengan remake-remake berkualitas tinggi. Langkah itu sempat memicu pertanyaan tentang masa depan industri. Di sisi lain, Sony juga aktif merilis inovasi hardware seperti kontroler fighting game nirkabel pertama untuk PS5, menunjukkan komitmen di berbagai lini. Mereka juga tak segan melakukan evaluasi strategis, seperti membatalkan dua game live-service yang dianggap kurang tepat.

Membuka Pintu untuk Inovasi dan Nostalgia

Keahlian Cinemersive Labs dalam mengubah media 2D menjadi 3D juga membuka peluang menarik di luar game AAA berbudaya besar. Salah satunya adalah potensi menghidupkan kembali warisan klasik. Dengan teknologi konversi AI yang mumpuni, game PlayStation klasik bisa di-remaster dengan pendekatan baru, mungkin bukan sekadar peningkatan resolusi tekstur, tetapi memberikan kedalaman visual yang benar-benar baru. Ini bisa menjadi cara brilian untuk merayakan sejarah sekaligus menarik minat generasi baru.

Pertanyaannya, bagaimana teknologi ini akan diimplementasikan secara nyata? Apakah akan terintegrasi dalam engine game untuk developer, atau menjadi fitur sistem untuk konsol generasi berikutnya? Mungkin kita akan melihat alat yang memungkinkan pemain mengunggah foto perjalanan mereka dan menjelajahinya dalam mode VR di PlayStation VR2. Atau, dalam skenario yang lebih ambisius, teknologi ini bisa digunakan untuk menciptakan NPC atau lingkungan game yang lebih organik dan tidak repetitif, langsung dari bank data visual yang luas. Imajinasi adalah satu-satunya batasan.

Strategi Sony dengan akuisisi startup AI spesifik seperti Cinemersive Labs menunjukkan pendekatan yang lebih tajam dan terfokus dibandingkan hanya mengandalkan pengembangan internal. Mereka mencari keahlian niche di luar tembok istana, lalu mengintegrasikannya ke dalam mesin raksasa mereka. Di tengah persaingan ketat dengan Xbox dan kemajuan pesat PC gaming, inovasi berbasis AI seperti ini bisa menjadi pembeda utama. Bukan lagi soal teraflop atau jumlah core, tetapi tentang seberapa cerdas sistem itu menggunakan sumber dayanya untuk menciptakan keajaiban visual. Dengan langkah ini, Sony bukan cuma menyiapkan konsol yang lebih kuat, tetapi menyiapkan fondasi untuk sebuah era baru di mana batas antara dunia game dan realitas menjadi semakin samar dan memesona.