📑 Daftar Isi

Ilustrasi dashboard Shopify dengan grafik pertumbuhan pendapatan dan trafik AI search yang meningkat

Shopify Raup Cuan Besar dari AI Search, Trafik Melonjak 3 Kali Lipat

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pendapatan Shopify kuartal kedua naik 36% menjadi US$3,6 miliar, melampaui ekspektasi Wall Street US$3,4 miliar
  • Trafik AI ke toko Shopify meningkat 3 kali lipat year-over-year, 75% pembelian terjadi di luar 100 kategori teratas
  • Presiden Shopify Harley Finkelstein menyebut AI sebagai pelengkap pencarian, bukan pengganti
  • Setengah dari sesi rujukan AI langsung mendarat di halaman produk, 2,5x lebih tinggi dari pencarian tradisional
  • Shopify membangun konektor ke Claude, ChatGPT, Perplexity, Manus, Replit, Vercel, dan Lovable

Telset.id – Shopify mencatatkan pertumbuhan signifikan berkat adopsi AI dalam pencarian produk. Perusahaan e-commerce ini melaporkan pendapatan kuartal kedua yang melonjak 36% menjadi US$3,6 miliar, melampaui perkiraan Wall Street sebesar US$3,4 miliar. Kenaikan ini sebagian besar dikreditkan pada peran AI yang justru menjadi pelengkap pencarian, bukan pengganti.

Presiden Shopify, Harley Finkelstein, mengungkapkan bahwa AI telah menjadi “pelengkap pencarian, bukan penggantinya” dalam panggilan earnings kuartal kedua. Hal ini memberikan keuntungan besar bagi ekosistem e-commerce, terutama para pedagang kecil yang menjadi mayoritas basis pelanggan Shopify. Berbeda dengan dampak AI pada penerbitan online yang justru menurunkan click-through rate, Shopify melihat AI sebagai berkah bagi bisnisnya.

Data internal menunjukkan trafik yang dihasilkan AI ke toko-toko Shopify meningkat tiga kali lipat secara year-over-year pada kuartal kedua. Yang menarik, pertumbuhan ini bukan hasil dari AI mengambil alih pangsa pencarian tradisional. Finkelstein menjelaskan bahwa pencarian tradisional justru tetap tumbuh, dengan sesi pencarian naik 1,3 kali lipat selama dua tahun terakhir dan memegang sekitar sepertiga dari seluruh sesi storefront.

AI Search Mengubah Cara Konsumen Berbelanja

Shopify menjelaskan secara rinci mengapa AI search bekerja efektif untuk bisnisnya. Finkelstein memaparkan bahwa mesin pencari tradisional mengurutkan berdasarkan popularitas terhadap segelintir kata kunci, sementara agen AI melakukan banyak panggilan ke katalog Shopify dengan data terstruktur yang lebih kaya. Hal ini memungkinkan pencocokan produk dengan niat spesifik pembeli, bukan sekadar kata kunci.

Finkelstein memberikan contoh konkret: ketika pembeli meminta asisten AI untuk mencari kursi mobil terbaik yang muat untuk tiga anak di sedan, pencarian tradisional hanya berfokus pada kata kunci “kursi mobil”. Namun, agen AI memahami kebutuhan sebenarnya—dimensi, tipe kendaraan, dan kebutuhan tiga kursi sekaligus. Agen tersebut mencari semua batasan tersebut sekaligus untuk menemukan produk yang benar-benar berfungsi, bukan sekadar yang berperingkat tertinggi.

Kemampuan AI untuk mencari lintas dimensi ini menghasilkan konversi yang lebih baik bagi para pedagang. Data menunjukkan setengah dari semua sesi yang dirujuk AI langsung mendarat di halaman deskripsi produk, angka ini 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan pencarian tradisional. Selain itu, 75% pembelian yang diatribusikan ke AI pada kuartal kedua terjadi di luar 100 kategori teratas, yang disebut Shopify sebagai “sweet spot” mereka.

Keunggulan Kompetitif Checkout Terpercaya

Shopify juga menyebutkan bahwa perusahaan diuntungkan oleh peran AI yang lebih besar dalam transaksi berkat pengalaman checkout yang terpercaya. Perusahaan telah membangun konektor ke berbagai alat dan agen AI, termasuk Claude, ChatGPT, Perplexity, Manus, Replit, dan Vercel, serta platform vibe-coding seperti Lovable. Integrasi ini memungkinkan pedagang membangun di atas Shopify dengan cara apa pun yang mereka pilih.

Laba operasional kotor naik 31% menjadi US$1,71 miliar, juga melampaui ekspektasi analis sebesar US$1,63 miliar. Angka-angka ini menunjukkan bahwa strategi Shopify dalam mengintegrasikan AI ke dalam ekosistemnya membuahkan hasil nyata. Perusahaan melihat AI sebagai pendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, bukan sekadar tren sesaat.

Fenomena ini kontras dengan dampak AI pada industri penerbitan online, di mana ringkasan AI telah menyebabkan penurunan click-through rate yang terukur, mengurangi trafik dan pendapatan iklan. Shopify justru mengalami kebalikannya—AI menjadi katalis pertumbuhan yang signifikan.

Bagi para pelaku bisnis e-commerce di Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting tentang arah masa depan belanja online. Kemampuan AI untuk memahami niat pembeli secara lebih mendalam akan mengubah cara pedagang mengoptimalkan toko mereka. Integrasi dengan berbagai platform AI juga membuka peluang baru untuk menjangkau konsumen melalui kanal yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Shopify optimistis tren positif ini akan berlanjut seiring semakin banyaknya konsumen yang beralih ke asisten AI untuk mencari produk. Perusahaan terus berinvestasi dalam pengembangan konektor dan integrasi dengan platform AI baru untuk memastikan pedagang tetap kompetitif di era pencarian berbasis AI ini.

Keberhasilan Shopify ini juga menjadi pelajaran penting bagi platform e-commerce lain bahwa AI bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk meningkatkan pengalaman berbelanja. Dengan memahami niat pembeli secara lebih mendalam dan menyajikan produk yang lebih relevan, tingkat konversi dapat meningkat secara signifikan. Ini adalah kemenangan bagi semua pihak—pembeli mendapatkan produk yang lebih sesuai, dan pedagang mendapatkan tingkat penjualan yang lebih tinggi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.