Telset.id – CEO Shopify Tobias Lütke mengakui bahwa dorongan besar-besaran perusahaannya untuk mengadopsi AI di tempat kerja justru menghasilkan masalah baru yang ia sebut sebagai “slop grenades”. Setelah hampir setahun mewajibkan penggunaan alat AI sebagai ekspektasi dasar bagi karyawan, Lütke kini mengubah nada bicaranya karena para pekerja ramai-ramai mengirim email, memo, dan kode hasil AI tanpa memeriksanya lebih dulu. Pengakuan ini menjadi cerminan nyata bahwa AI bukan obat mujarab untuk produktivitas di tempat kerja.
Dalam wawancara di podcast Knowledge Project, Lütke mengungkapkan kekesalannya terhadap fenomena tersebut. Ia menyebut konten AI yang dilempar begitu saja antar karyawan sebagai “slop grenades”. Menurutnya, inisiatif tersebut justru mendorong karyawan untuk “go nuts” atau kalap dalam menggunakan AI, sehingga menghasilkan banjir konten AI slop yang tidak terkendali. “Anda tidak benar-benar membacanya, dan sekarang harus ditinjau oleh kolega Anda, dan mereka berkata, ‘ini tidak terlihat benar’,” keluhnya. “Anda hanya membiarkan AI melakukan pekerjaan untuk Anda.”
Ironis memang, mengingat Lütke sebelumnya dikenal sebagai eksekutif yang begitu antusias terhadap AI. Namun ia tidak sendirian dalam menghadapi persoalan ini. Survei pada April terhadap 1.150 pekerja kantoran menemukan bahwa 40 persen di antaranya pernah menemui fenomena yang dikenal sebagai “workslop”, yaitu konten hasil AI yang tampak profesional di permukaan tetapi tidak memiliki substansi nyata.
Dampak Finansial AI Slop di Tempat Kerja
Masalah AI slop ini bukan sekadar gangguan kecil, melainkan menimbulkan kerugian yang terukur. Estimasi menunjukkan bahwa pekerja sudah membuang 3,4 jam setiap bulan hanya untuk membersihkan konten AI yang tidak berguna. Angka ini setara dengan kerugian bulanan sebesar $8,1 juta bagi sebuah tempat kerja dengan 10.000 karyawan.
Fenomena serupa juga terjadi di berbagai platform digital. Konten AI slop yang menyerbu profil musisi jazz legendaris di Spotify dan YouTube menjadi bukti bahwa masalah ini telah meluas jauh melampaui ruang kantor. Bahkan platform profesional seperti LinkedIn pun turut terdampak, meski kini berhasil menekan AI slop hingga 40 persen lewat fitur laporan baru yang mereka kembangkan.
Baca Juga:
Fenomena AI slop juga menyentuh sisi lain industri teknologi. Modder sempat mengungkap hasil “Slop Tracing” pada DLSS 5 Nvidia yang dianggap mengerikan, menunjukkan bahwa istilah slop kini menjadi penanda kualitas yang dipertanyakan di berbagai lini produk digital.
Sementara itu, respons pengguna terhadap AI di tempat kerja terus memburuk. Survei lain pada September menemukan bahwa sentimen negatif terhadap AI di lingkungan kerja meledak dalam beberapa tahun terakhir, dengan mayoritas pekerja kini menyatakan sikap negatif terhadap teknologi tersebut. Hal ini menunjukkan pergeseran besar dari euforia awal menuju kekecewaan yang nyata.
Pelajaran dari Eksperimen AI Shopify
Pengalaman Shopify bersama CEO-nya menjadi pelajaran berharga bahwa penerapan AI secara membabi buta tanpa pengawasan justru dapat menciptakan beban kerja tambahan. Alih-alih menghemat waktu, konten AI yang tidak diperiksa dengan cermat malah memaksa rekan kerja untuk meninjau ulang dan membersihkannya.

Masalah ini juga menyoroti risiko lain dari AI slop yang menyasar kelompok rentan. Ancaman konten kekerasan berkedok buah di feed anak menjadi contoh bagaimana AI slop dapat membahayakan audiens yang tidak semestinya terpapar. Bahkan tombol AI slop LinkedIn tercatat dipakai lebih dari 1 juta pengguna, menandakan skala persoalan yang sangat luas di berbagai platform.
Dengan segala bukti yang ada, jelas bahwa AI bukan solusi serba bisa untuk produktivitas di tempat kerja. Ini adalah pelajaran yang harus dipetik Shopify dan Lütke dengan cara yang tidak mudah. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa adopsi teknologi tetap membutuhkan pertimbangan matang, pengawasan, dan kesadaran akan dampak nyata terhadap beban kerja serta kualitas output karyawan.





Komentar
Belum ada komentar.