Telset.id â Kantor dua laboratorium AI di Kanada dirusak sekelompok vandalis yang disebut polisi sebagai kelompok terorganisir. Aksi ini menandai meningkatnya penolakan publik terhadap AI dan pusat data yang menopang pertumbuhannya, dengan seruan âburn the data centersâ atau bakar pusat data tertulis di dinding bangunan yang dirusak.
Menurut laporan CBC, sebuah gedung perkantoran milik Quebecâs Artificial Intelligence Institute (MILA) di Montreal menjadi sasaran perusakan. Jendela-jendela bangunan dipecahkan dan dinding-dindingnya dicorat-coret dengan graffiti anti-AI. Bangunan lain di dekatnya, yang dimiliki sebuah perusahaan AI yang tidak disebutkan namanya, juga mengalami vandalisme serupa.
Gambar yang dibagikan CBC memperlihatkan salah satu tag yang disemprotkan ke bangunan bertuliskan âburn the data centers.â Aksi ini bukan insiden tunggal, melainkan bagian dari gelombang penolakan yang lebih luas terhadap AI dan infrastruktur pusat data yang mendukung perkembangannya.
Polisi Sebut Pelaku Sekitar 10 Orang
Juru bicara kepolisian Montreal, Manual Couture, dalam pernyataan yang dilaporkan CTV News mengungkapkan temuan awal penyelidikan. âBerdasarkan temuan awal dari penyelidikan, tampaknya sekelompok sekitar 10 individu melakukan kejahatan ini,â ujarnya. âJendela bangunan dipecahkan dan banyak tag graffiti disemprotkan ke dinding.â
CBC melaporkan setidaknya satu perempuan berusia 25 tahun yang ditemukan di dekat lokasi kejadian dibawa untuk dimintai keterangan. Namun, ia kemudian dibebaskan tanpa syarat apa pun. Hingga laporan ini diturunkan, belum ada informasi lebih lanjut mengenai status penyelidikan terhadap kelompok yang diduga terlibat.

Insiden di Montreal ini terjadi di tengah meningkatnya reaksi keras terhadap AI dan pusat data yang menyokong pertumbuhannya. Sejumlah orang telah ditangkap di Amerika Serikat setelah melakukan protes atau menentang para pemimpin kota dalam pertemuan-pertemuan lokal. Suhu ketegangan meningkat sedemikian rupa sehingga risiko sosial terhadap pembangunan pusat data AI di AS saja mengancam sekitar US$130 miliar atau sekitar Rp2.100 triliun (asumsi kurs Rp16.200 per dolar AS) nilai investasi per pertengahan Agustus.
Baca Juga:
Angka tersebut menunjukkan bahwa penolakan terhadap pusat data bukan lagi sekadar keluhan warga lokal, melainkan telah menjadi faktor risiko nyata yang memengaruhi nilai investasi industri AI. Aksi vandalisme di Montreal menjadi cerminan kecil dari sentimen anti-AI yang lebih luas, memperlihatkan bahwa jika masyarakat terus diabaikan oleh pejabat terpilih mereka, sebagian dari mereka tidak segan mengambil tindakan sendiri.
Tekanan Publik Terhadap Industri AI Meningkat
Perusakan fasilitas MILA dan bangunan perusahaan AI tak bernama di Montreal memperlihatkan pola yang sama dengan aksi-aksi protes di Amerika Serikat. Di sana, puluhan orang ditangkap setelah melakukan protes atau menentang para pemimpin kota dalam pertemuan lokal. Aksi-aksi tersebut menyasar keberadaan dan pembangunan pusat data yang menjadi tulang punggung operasional model AI skala besar.
Futurism melaporkan bahwa vandalisme di Montreal adalah mikrokosmos dari sentimen anti-AI populer tersebut. Seruan âburn the data centersâ yang tertulis di dinding bangunan menjadi simbol kemarahan terhadap infrastruktur yang dianggap berdampak besar bagi masyarakat sekitar, mulai dari konsumsi energi hingga perubahan tata guna lahan.
Ketegangan antara industri AI dan sebagian masyarakat juga tercermin dari berbagai inisiatif advokasi yang menuntut transparansi dan pengawasan lebih ketat. Sejumlah pihak mendesak adanya evaluator independen untuk menilai sistem AI, sebagaimana terlihat dalam upaya akses evaluator independen yang dibuka sebagian pengembang. Dorongan serupa juga datang dari advokat privasi yang menyoroti regulasi lintas negara, termasuk desakan terhadap Bill C-22 Kanada.
Dalam konteks Kanada, peristiwa di Montreal menambah tekanan bagi pemerintah dan pelaku industri untuk menjawab kekhawatiran publik. Aksi perusakan fisik terhadap fasilitas riset AI menunjukkan bahwa ketidakpuasan tidak lagi hanya disalurkan melalui jalur formal seperti demonstrasi atau pertemuan kota, tetapi juga melalui tindakan yang melanggar hukum.
Dampak dari aksi ini bisa meluas ke sektor bisnis dan investasi. Ketika risiko sosial terhadap pembangunan pusat data meningkat, pelaku industri menghadapi biaya tambahan berupa pengamanan fasilitas, penundaan proyek, hingga potensi pembatalan investasi. Angka US$130 miliar yang disebut sebagai nilai investasi terancam di AS menjadi indikasi besarnya skala persoalan ini.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari MILA maupun perusahaan AI tak bernama yang bangunannya ikut dirusak. Polisi Montreal masih menyelidiki kasus ini, sementara perempuan berusia 25 tahun yang sempat diamankan telah dibebaskan tanpa syarat. Perkembangan penyelidikan akan menentukan apakah aksi ini merupakan insiden terisolasi atau bagian dari pola yang lebih terorganisir.
Yang jelas, insiden di Montreal menegaskan bahwa ketegangan antara percepatan pengembangan AI dan kekhawatiran masyarakat tidak lagi bersifat abstrak. Seruan yang tertulis di dinding bangunan yang dirusak menjadi penanda bahwa sebagian publik menuntut perhatian serius terhadap dampak infrastruktur AI, dan mereka tidak ragu menempuh cara di luar jalur resmi ketika merasa suara mereka tidak didengar.





Komentar
Belum ada komentar.