CEO OpenAI Sam Altman memberikan pernyataan tentang kegagalan remote working

Sam Altman Sebut Remote Working sebagai Eksperimen yang Gagal

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • CEO OpenAI Sam Altman menyebut full remote working sebagai kesalahan terbesar industri teknologi
  • Altman mengatakan eksperimen kerja jarak jauh penuh sudah berakhir dan tidak efektif untuk startup
  • Pernyataan ini disampaikan dalam fireside chat di San Francisco yang diselenggarakan oleh Stripe
  • Pandangan Altman sejalan dengan tren RTO di perusahaan besar seperti Amazon, Dell, dan Tesla
  • Altman menilai teknologi saat ini belum cukup baik untuk mendukung full remote working jangka panjang

Telset.id – CEO OpenAI, Sam Altman, secara tegas menyebut kebijakan kerja jarak jauh penuh atau full remote working sebagai salah satu kesalahan terbesar industri teknologi. Ia menganggap eksperimen bekerja dari rumah selama pandemi COVID-19 sudah berakhir dan terbukti gagal, terutama bagi perusahaan rintisan (startup).

Pernyataan tersebut disampaikan Altman dalam sebuah sesi diskusi fireside chat di San Francisco yang diselenggarakan oleh perusahaan rintisan bernama Stripe. Dalam kesempatan itu, ia mengkritik pandangan bahwa teknologi saat ini sudah cukup mumpuni untuk mendukung produktivitas tim yang sepenuhnya bekerja dari jarak jauh.

“Saya pikir pasti salah satu kesalahan terburuk industri teknologi dalam waktu yang lama adalah keyakinan bahwa semua orang bisa kerja full remote selamanya, dan startup tidak perlu bersama secara tatap muka, dan tidak akan ada hilangnya kreativitas,” ujar Altman pada Mei 2023 lalu. “Saya akan katakan bahwa eksperimen itu sudah berakhir, dan teknologinya belum cukup baik untuk orang-orang bisa kerja full remote selamanya, terutama di startup.”

Pernyataan Altman ini menjadi sorotan karena ia adalah tokoh sentral di balik pengembangan kecerdasan buatan generatif, sebuah teknologi yang justru menjadi tulang punggung kolaborasi jarak jauh. Ironisnya, ia justru meragukan efektivitas teknologi itu sendiri untuk menunjang remote working.

Pandangan Altman ini sejalan dengan tren yang terjadi di banyak perusahaan teknologi besar. Amazon, Dell, dan Tesla adalah tiga contoh perusahaan yang telah menerapkan kebijakan return to office (RTO) selama lima hari penuh dalam sepekan. Beberapa perusahaan lain juga mengadopsi mandat empat hari atau tiga hari kerja di kantor.

Meskipun ada beberapa studi yang menunjukkan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan karyawan saat bekerja jarak jauh, para eksekutif teknologi meyakini bahwa tim yang sepenuhnya remote kesulitan untuk mengirimkan produk secara tepat waktu. Budaya perusahaan (corporate culture) juga dianggap terkikis, dan pengawasan (surveillance) terhadap karyawan menjadi jauh lebih sulit.

Dampak dari kebijakan RTO ini tidak hanya dirasakan oleh karyawan, tetapi juga akan membawa implikasi pada desain kantor di masa depan serta sifat pelatihan dan pengembangan karier. Masa depan kerja di lanskap teknologi diprediksi akan tetap terfragmentasi, terputus-putus, dan bervariasi, tidak hanya antar perusahaan tetapi juga di dalam perusahaan itu sendiri.

Pernyataan Altman ini mengingatkan pada perdebatan yang lebih luas mengenai dampak otomatisasi terhadap tenaga kerja. Seperti yang pernah diusulkan oleh Bill Gates, kekhawatiran tentang hilangnya pekerjaan akibat teknologi bukanlah hal baru. Namun, Altman justru berada di posisi yang unik, di mana ia memimpin perusahaan yang menciptakan teknologi yang memungkinkan kerja jarak jauh, namun ia sendiri meragukan efektivitasnya.

Pandangan kritis terhadap teknologi juga datang dari berbagai kalangan. Sutradara terkenal Tim Burton, misalnya, pernah mengkritik keras penggunaan AI yang dianggapnya seperti robot yang mencuri jiwa manusia. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi AI terus berkembang, masih banyak pihak yang mempertanyakan dampak sosial dan kreativitas yang ditimbulkannya.

Three office workers sitting together in front of a laptop in an office

Kembali ke isu remote working, pernyataan Altman menegaskan adanya pergeseran paradigma di industri teknologi. Jika sebelumnya work from home dianggap sebagai masa depan yang tak terelakkan, kini para pemimpin puncak justru mulai menarik kembali kebijakan tersebut. Mereka menilai bahwa inovasi dan kreativitas yang lahir dari interaksi tatap muka tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh video call atau platform kolaborasi digital.

“Eksperimen soal kerja jarak jauh penuh waktu sudah berakhir,” tegas Altman. “Teknologi saat ini belum cukup baik untuk mendukung model kerja seperti itu dalam jangka panjang, terutama bagi perusahaan rintisan yang membutuhkan kecepatan dan kolaborasi intensif.”

Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi terus maju, aspek fundamental dari interaksi manusia, seperti kebersamaan dan kreativitas spontan, masih menjadi kunci kesuksesan sebuah organisasi. Keputusan untuk kembali ke kantor bukanlah sekadar tren, melainkan sebuah refleksi dari kebutuhan bisnis yang lebih dalam.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.