📑 Daftar Isi

CEO OpenAI Sam Altman saat menyampaikan pidato kunci di konferensi pengembang OpenAI.

Sam Altman Akui OpenAI Bikin Kekacauan di Dunia Matematika

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Sam Altman akui OpenAI sempat membuat situasi lepas kendali selama sepekan di bidang matematika
  • OpenAI klaim temukan solusi Navier-Stokes dengan 10.000 agen AI selama 88 jam, biaya sekitar 10 juta dolar AS
  • Ratusan pembuktian matematika AI dirilis tanpa telaah sejawat dan dikritik matematikawan
  • Altman membela langkah itu demi pengetahuan fundamental umat manusia
  • Belum ada keterangan resmi soal verifikasi temuan

Telset.id – CEO OpenAI Sam Altman akhirnya buka suara soal dampak kehadiran AI terhadap dunia matematika. Dalam wawancara di podcast Cheeky Pint pada Kamis, ia mengakui bahwa OpenAI sempat membuat situasi “lepas kendali” selama sepekan di bidang matematika, namun menegaskan bahwa umat manusia berhak mendapatkan pengetahuan fundamental yang ditemukan AI tersebut.

Pengakuan ini menjadi kali pertama Altman secara langsung mengakui dampak perusahaan terhadap para matematikawan. Sebelumnya, OpenAI memicu kontroversi besar setelah merilis ratusan solusi dan pembuktian matematika yang dihasilkan AI, termasuk klaim penyelesaian masalah terkenal Navier-Stokes menggunakan 10.000 agen AI yang bekerja selama 88 jam nonstop.

Altman menyebut bahwa dunia memang layak memahami cara kerja alam semesta. “Saya rasa, secara keseluruhan, dunia berhak memahami bagaimana alam semesta bekerja,” ujarnya dalam podcast tersebut, seperti dikutip The Verge. “Tapi saya punya empati terhadap metodenya.”

Klaim Solusi Navier-Stokes dan Kontroversi Riset

Masuknya OpenAI ke ranah matematika dimulai ketika perusahaan mengklaim menemukan solusi untuk masalah Navier-Stokes yang terkenal. Klaim itu disebut menghabiskan biaya sekitar 10 juta dolar AS hanya untuk menghasilkan solusi tersebut melalui agen AI dalam jumlah masif.

Seorang matematikawan menuduh OpenAI menumpang secara tidak adil pada risetnya yang belum dirilis. Ia bahkan mengaku diancam kariernya akan dihancurkan ketika menyatakan akan membuka tuduhan tersebut ke publik. Situasi ini memunculkan kekhawatiran soal paradigma baru: perusahaan AI bermodal besar bisa menyalip peneliti yang sedang bekerja dengan mengerahkan kekuatan komputasi AI yang luar biasa, lalu mengambil kredit atas temuannya.

OpenAI CEO Sam Altman delivers the keynote address during the OpenAI developers conference.

Kontroversi berlanjut ketika OpenAI merilis ratusan pembuktian matematika lain yang dihasilkan AI. Langkah ini dikritik keras oleh para matematikawan terkemuka, bahkan oleh kelompok penasihat matematika yang selama ini menjadi konsultan OpenAI. Para kritikus menyoroti bahwa tak satu pun dari makalah tersebut melalui proses telaah sejawat atau verifikasi, terutama karena pembuktian dalam bahasa alami itu nyaris tidak bisa dipahami.

Menurut laporan, butuh waktu bertahun-tahun bagi para matematikawan untuk membedah semua pembuktian yang dihasilkan AI dan “dilempar” ke pangkuan mereka. Sementara itu, di sisi lain, OpenAI bisa langsung memanfaatkannya sebagai bukti bahwa teknologinya disebut revolusioner.

Posisi Altman soal Etika dan Pengetahuan Fundamental

Dalam podcast tersebut, Altman mengakui bahwa OpenAI sempat “membiarkan situasi lepas kendali selama satu pekan di bidang matematika”. Namun ia membela langkah perusahaan karena menilai temuan yang dihasilkan memiliki kepentingan besar bagi pengetahuan manusia.

“Saya merasa tidak ragu soal ini: umat manusia berhak atas pengetahuan fundamental, dan kita tidak seharusnya menahan diri dari penemuan sains fundamental yang besar,” kata Altman. “Dunia berhak mendapatkan itu.”

Pernyataan ini menegaskan sikap Altman yang memilih melanjutkan eksplorasi AI di bidang matematika meski menuai kritik. Ia tidak menyampaikan rencana untuk menghentikan atau memperlambat publikasi temuan AI, melainkan menekankan pentingnya nilai pengetahuan yang dihasilkan.

Pandangan Altman soal dampak teknologi juga sejalan dengan sikapnya di isu lain. Ia dikenal kerap menekankan bahwa dunia harus bersedia menerima konsekuensi dari kemajuan AI demi manfaat yang lebih besar, sebagaimana pernah dibahas dalam Dampak Buruk AI.

Kritik terhadap OpenAI juga menyoroti cara perusahaan berkomunikasi dengan komunitas matematika. Alih-alih melibatkan para ahli sejak awal, OpenAI dinilai lebih dulu merilis temuan lalu menghadapi reaksi keras dari akademisi. Hal serupa pernah terjadi dalam konteks lain ketika perusahaan harus menghentikan wawancara Altman karena kontroversi, seperti dalam kasus Wawancara Sam Altman.

Di sisi lain, beban komputasi yang besar menjadi salah satu isu yang melekat pada operasional OpenAI. Altman sendiri pernah menyoroti keterbatasan sumber daya, termasuk soal RAM di PC Rumah yang dinilai memengaruhi kapasitas industri AI secara lebih luas.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari OpenAI mengenai langkah lanjutan untuk memverifikasi ratusan pembuktian matematika yang telah dirilis. Yang jelas, perdebatan soal batas antara eksplorasi ilmiah berbasis AI dan etika riset masih akan berlanjut di kalangan matematikawan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.