Robot humanoid Schotti menyapa pelanggan di toko retail Jerman

Robot Humanoid Diprediksi Dominasi Dunia pada 2035

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • CEO Softbank, Masayoshi Son, prediksi AI fisik dan robotika akan ciptakan perusahaan triliunan dolar
  • Pasar robot humanoid diproyeksikan naik dari USD 2-3 miliar menjadi USD 200 miliar pada tahun 2035
  • Dua gelombang pengerahan: sektor industri (2026-2030) dan sektor layanan (setelah 2030)
  • China dominasi produksi dengan biaya setengah dari pesaing Barat, sekitar USD 50.000 per unit
  • Robot humanoid diprediksi hadir di rumah, pabrik, militer, dan pemerintahan dalam 10 tahun

Telset.id – CEO Softbank, Masayoshi Son, menyatakan bahwa AI fisik dan robotika adalah bidang yang akan melahirkan perusahaan bernilai triliunan dolar berikutnya. Prediksi ini muncul di tengah pesatnya perkembangan robot humanoid yang dirancang meniru gerakan dan kemampuan manusia. Para pengamat meyakini mesin-mesin ini akan mengubah dunia secara fundamental dalam dekade mendatang, dengan estimasi pertumbuhan industri mencapai 100 kali lipat seiring matangnya kemampuan fisik AI.

Zornitza Todorova, Kepala Riset Tematik FICC di Barclays, dengan tegas menyebut dekade ini sebagai dekade robot. “Robotika humanoid benar-benar berada dalam tren menanjak. Ukuran pasar saat ini memang sangat kecil, sekitar 2 hingga 3 miliar dolar, tapi kami melihatnya akan naik menjadi USD 200 miliar pada tahun 2035,” ujarnya. Lonjakan nilai pasar yang luar biasa ini didorong oleh kebutuhan mendesak akan solusi tenaga kerja di tengah perubahan demografi global.

Menurut laporan Barclays, robot humanoid dirancang untuk mengisi kesenjangan tenaga kerja struktural. Penuaan populasi, urbanisasi, dan perubahan preferensi pekerjaan telah meninggalkan banyak peran yang dianggap kotor, membosankan, dan berbahaya. Peran-peran inilah yang dinilai sangat cocok untuk diambil alih oleh robot. “Mereka sudah melakukan tugas sederhana yang terdefinisi jelas seperti mengangkat kotak atau mengambil barang dari jalur perakitan, membantu mengisi peran di mana tidak banyak manusia bisa melakukan pekerjaan tersebut. Masih banyak yang harus dilakukan dan teknologinya berkembang sangat, sangat cepat,” tambah Todorova.

Laporan yang sama juga memproyeksikan dua gelombang utama pengerahan robot humanoid. Gelombang pertama sedang berlangsung saat ini dan diperkirakan akan berlangsung hingga tahun 2030. Pada fase ini, robot humanoid akan mendominasi sektor-sektor seperti manufaktur, logistik, pertanian, dan konstruksi. Sektor-sektor ini dinilai memiliki tugas-tugas repetitif yang paling siap untuk diotomatisasi.

Gelombang kedua diprediksi terjadi setelah tahun 2030. Pada fase ini, robot humanoid akan mulai dikerahkan di sektor-sektor yang lebih kompleks dan berorientasi pada layanan, seperti perawatan kesehatan, layanan lansia, pendidikan, dan perhotelan. Transisi ini menandai lompatan besar dari fungsi robot yang semata-mata industrial menuju peran yang lebih interaktif dengan manusia.

Todorova menambahkan, “Saya rasa kita di ambang transformasi, kita baru menyentuh permukaan dari apa yang bisa dilakukan robot humanoid. Seiring matangnya teknologi, serta model yang lebih baik dan lebih cepat dalam bereaksi secara real time, saya pikir kita akan melihat banyak aplikasi dalam peran yang lebih berorientasi pada layanan.”

Dalam peta persaingan global, China tampil sebagai raksasa robotika yang dominan. Laporan Barclays mencatat bahwa China memasang sekitar separuh dari seluruh robot industri secara global, atau hampir 300.000 unit. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat hanya memasang 34.000 unit pada periode yang sama. Lebih mencengangkan lagi, China telah meningkatkan kepadatan robotnya sebesar 600 persen, menjadi hampir 500 robot per 10.000 pekerja.

Keunggulan China tidak hanya pada volume pemasangan, tetapi juga pada biaya produksi. Negara tersebut memproduksi robot humanoid dengan biaya sekitar setengah dari pesaing Barat, biasanya di kisaran USD 50.000. Efisiensi biaya ini menjadi faktor kunci yang memungkinkan adopsi massal robot humanoid dalam skala global. Untuk memahami lebih dalam tentang inovasi robotik di China, Anda bisa membaca artikel tentang Kolaborasi Nvidia dan Unitree.

Jason Pidcock, yang mengelola reksa dana Asian Income, memberikan gambaran yang sangat visioner tentang masa depan. “Dalam 10 tahun ke depan, akan ada robot humanoid di mana-mana,” katanya dengan penuh keyakinan. “Anda mungkin akan memilikinya satu di rumah. Anda pasti akan punya teman atau anggota keluarga yang punya robot humanoid. Pabrik-pabrik akan dipenuhi oleh mereka. Angkatan bersenjata hingga departemen pemerintahan akan dipenuhi oleh mereka,” lanjutnya.

Pernyataan Pidcock ini mengindikasikan bahwa robot humanoid tidak hanya akan menjadi alat produksi di pabrik, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari. Kehadiran mereka di rumah-rumah, institusi pendidikan, dan bahkan sektor pertahanan akan menjadi pemandangan yang lumrah. Hal ini sejalan dengan prediksi bahwa industri ini akan Robot Amazon Bisa Diajak Bicara yang menunjukkan bagaimana interaksi manusia-robot semakin natural.

Implikasi dari prediksi ini sangat luas. Dari sisi ekonomi, munculnya industri bernilai triliunan dolar akan menciptakan lapangan kerja baru di bidang pengembangan AI, rekayasa robotika, dan pemeliharaan sistem. Namun, di sisi lain, otomatisasi massal juga berpotensi menggeser jutaan pekerjaan tradisional, terutama di sektor manufaktur dan logistik.

Dari sisi sosial, kehadiran robot humanoid di rumah dan fasilitas layanan lansia dapat menjadi solusi untuk masalah penuaan populasi yang dihadapi banyak negara maju. Robot dapat membantu perawatan sehari-hari, menemani lansia, dan bahkan melakukan tugas-tugas medis sederhana. Sementara itu, di sektor pendidikan, robot dapat berperan sebagai asisten pengajar yang interaktif.

Namun, masih ada banyak tantangan yang harus diatasi. Teknologi robot humanoid saat ini masih dalam tahap awal pengembangan. Kemampuan untuk bereaksi secara real-time dalam situasi yang tidak terduga, pemahaman konteks sosial, dan keamanan interaksi fisik masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi para pengembang. Regulasi dan etika penggunaan robot juga harus dirumuskan dengan hati-hati untuk menghindari penyalahgunaan.

Dengan proyeksi pasar mencapai USD 200 miliar pada tahun 2035 dan adopsi yang meluas ke berbagai sektor, jelas bahwa masa depan robot humanoid bukan lagi sekadar fiksi ilmiah. Dunia sedang berada di ambang transformasi besar, di mana interaksi antara manusia dan mesin akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Pertanyaannya bukan lagi apakah robot humanoid akan mendominasi, tetapi seberapa cepat dan seberapa dalam dampaknya terhadap cara kita hidup dan bekerja.

Komentar

Belum ada komentar.