📑 Daftar Isi

Ilustrasi warga Amerika dengan ekspresi tidak setuju terhadap pembangunan pusat data

Survei: 70% Warga AS Tolak Data Center di Dekat Rumah

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Survei Heatmap Juni 2026: 70% warga AS menolak pusat data di dekat rumah
  • Lonjakan penolakan 49 poin dalam 9 bulan (dari 42% September 2025)
  • Isu bipartisan: 78% pemilih Harris dan 63% pemilih Trump sama-sama menolak
  • Generasi muda paling vokal: 83% usia 18-34 tahun menolak pusat data
  • Proyek Kevin O'Leary di Utah: lahan 2x Manhattan, hanya 2.000 pekerjaan, memperparah krisis air
  • Petani disebut pahlawan karena tolak tawaran miliaran dolar untuk alih fungsi lahan
  • Isu berpotensi dominan dalam pemilu paruh waktu mendatang

Telset.id – Sebuah survei terbaru dari Heatmap mengungkapkan bahwa setidaknya tujuh dari sepuluh warga Amerika Serikat menolak pembangunan pusat data di dekat rumah mereka. Temuan ini menandai perubahan drastis dalam opini publik, dari yang awalnya hanya 42 persen pada September 2025 menjadi 70 persen pada Juni 2026.

Lonjakan penolakan ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat, hanya dalam kurun waktu sembilan bulan. Data menunjukkan bahwa pada Februari 2026, angka penolakan masih berada di 51 persen, yang berarti terjadi peningkatan hampir 20 poin persentase dalam waktu empat bulan. Fenomena ini menunjukkan betapa cepatnya sentimen publik berubah terhadap industri kecerdasan buatan (AI) yang diwakili oleh pembangunan pusat data tersebut.

“Publik telah bergeser 49 poin menentang pusat data hanya dalam sembilan bulan, yang menekankan tingginya signifikansi politik dari fasilitas ini dan industri AI yang diwakilinya,” tulis Heatmap dalam laporannya. Pergeseran opini yang masif ini menjadikan isu pusat data sebagai salah satu topik paling sensitif dalam politik Amerika saat ini.

Isu Bipartisan yang Langka

Yang menarik, penolakan terhadap pusat data telah menjadi isu bipartisan yang langka. Baik pendukung Partai Demokrat maupun Republik sama-sama menentang pembangunan fasilitas tersebut di lingkungan mereka. Menurut survei terbaru, 78 persen pemilih Kamala Harris pada Pemilu 2024 menyatakan menolak proyek pusat data di dekat rumah mereka, sementara 63 persen pemilih Donald Trump juga memiliki pandangan yang sama.

Penolakan paling kuat justru datang dari generasi muda. Sebanyak 83 persen warga Amerika berusia antara 18 hingga 34 tahun mengatakan akan menentang pembangunan pusat data di dekat rumah mereka. Angka ini menjadi indikasi kuat bahwa isu pusat data berpotensi menjadi topik yang sangat memecah belah dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) mendatang.

Sementara itu, banyak warga pedesaan Amerika terus berjuang agar suara mereka didengar. Contoh nyata adalah rencana pembangunan pusat data di wilayah Salt Lake City, Utah, yang didukung oleh pengusaha Kanada dan tokoh televisi Kevin O’Leary. Proyek ini akan mengambil alih lahan dua kali lipat luas Manhattan, namun hanya menghasilkan 2.000 lapangan kerja permanen.

Yang lebih memprihatinkan, wilayah tersebut sudah menghadapi krisis air. Pembangunan pusat data yang membutuhkan pasokan air besar untuk sistem pendingin justru akan memperparah kondisi lingkungan yang sudah genting. Menanggapi kekhawatiran ini, Presiden Senat Utah Stuart Adams meminta O’Leary untuk mengurangi ukuran kampus pusat data tersebut sebesar 75 persen.

Namun, investor yang dikenal sebagai bintang acara “Shark Tank” itu justru bersikukuh. O’Leary menyatakan kepada Salt Lake Tribune bahwa dia “tidak akan mundur.” Sikap ini memicu ketegangan antara pengembang dan masyarakat setempat yang khawatir akan dampak lingkungan dan ekonomi dari proyek tersebut.

Penolakan warga terhadap pusat data bukan hanya soal lingkungan. Banyak warga yang khawatir tentang kenaikan harga listrik yang akan membebani rumah tangga mereka. Pusat data membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar, dan seringkali utilitas lokal harus meningkatkan kapasitas atau menaikkan tarif untuk memenuhi permintaan tersebut.

Selain itu, kebisingan dari generator darurat dan sistem pendingin juga menjadi keluhan utama. Warga yang tinggal di dekat pusat data sering melaporkan suara dengung konstan yang mengganggu kenyamanan dan kualitas hidup mereka. Kekhawatiran ini diperkuat oleh pengalaman warga di lokasi lain yang sudah memiliki fasilitas serupa.

Klaim bahwa pusat data akan membawa lapangan kerja juga disambut dengan skeptisisme. Banyak warga yang meragukan bahwa fasilitas tersebut akan memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi komunitas lokal. Seperti yang terjadi di Utah, proyek raksasa hanya menjanjikan 2.000 pekerjaan permanen, jumlah yang dianggap tidak sebanding dengan dampak negatif yang ditimbulkan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa industri AI yang sedang booming harus menghadapi kenyataan pahit: masyarakat semakin sadar akan biaya tersembunyi dari infrastruktur digital. Dulu, pusat data dibangun dengan relatif tanpa hambatan. Kini, setiap proposal baru berpotensi menghadapi perlawanan sengit dari komunitas lokal.

Para petani di pedesaan Amerika bahkan disebut sebagai pahlawan karena menolak tawaran jutaan dolar untuk mengubah lahan pertanian mereka menjadi pusat data. Keputusan ini mencerminkan prioritas yang berubah di kalangan masyarakat pedesaan, yang kini lebih menghargai ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan daripada pendapatan jangka pendek.

Survei Heatmap ini menjadi peringatan keras bagi industri teknologi. Jika tren ini berlanjut, pembangunan pusat data baru akan semakin sulit mendapatkan izin dan dukungan publik. Perusahaan teknologi mungkin harus mencari strategi alternatif, seperti membangun pusat data di lokasi yang lebih terpencil atau mengadopsi teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Isu ini juga berpotensi menjadi senjata politik dalam pemilu mendatang. Calon-calon legislatif mungkin akan menjadikan penolakan terhadap pusat data sebagai bagian dari platform kampanye mereka, terutama di daerah-daerah yang menjadi target pembangunan fasilitas tersebut.

Sementara itu, kekhawatiran tentang keamanan data dan privasi juga menjadi faktor yang memperkuat sentimen negatif terhadap industri teknologi secara keseluruhan. Kasus seperti gugatan class action terkait pengumpulan data wajah oleh fitur AI semakin menggerus kepercayaan publik terhadap perusahaan teknologi.

Dengan angka penolakan yang mencapai 70 persen, jelas bahwa industri AI dan pusat data menghadapi tantangan besar dalam membangun infrastruktur masa depan. Tanpa perubahan signifikan dalam pendekatan dan komunikasi, perlawanan publik diprediksi akan terus meningkat.

Implikasinya, perusahaan teknologi harus mulai serius mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial dari setiap proyek pusat data baru. Transparansi, konsultasi publik yang lebih inklusif, dan investasi dalam teknologi hijau mungkin menjadi kunci untuk meredam gelombang penolakan yang semakin besar ini.

Komentar

Belum ada komentar.