📑 Daftar Isi

Hakim memukul palu di ruang sidang dalam putusan fair use AI.

Putusan Banding AS Guncang Pertahanan Fair Use Industri AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Pengadilan banding AS tolak pertahanan fair use Ross Intelligence
  • Putusan pertama di tingkat banding soal pelatihan AI dengan materi berhak cipta
  • Ross menyalin headnotes Thomson Reuters secara verbatim
  • CEO OpenAI Sam Altman sebut perlombaan AI akan berakhir jika fair use dibatalkan
  • Puluhan gugatan serupa dilayangkan penulis, komedian, hingga industri musik
  • Sidang gugatan Concord Music Group terhadap Anthropic dijadwalkan akhir bulan

Telset.id – Pengadilan banding Amerika Serikat menolak pertahanan fair use yang diajukan perusahaan riset hukum berbasis AI, Ross Intelligence, dalam sengketa dengan Thomson Reuters. Putusan Third Circuit court of appeals ini menjadi yang pertama di tingkat banding terkait penggunaan materi berhak cipta untuk melatih sistem AI, dan langsung memicu perdebatan soal masa depan praktik serupa di industri kecerdasan buatan.

Kasus ini bermula dari tuduhan bahwa Ross Intelligence melatih mesin pencari hukumnya menggunakan materi yang diambil dari platform dan basis data riset hukum Westlaw milik Thomson Reuters. Ross sendiri telah menghentikan operasionalnya pada 2021, tak lama setelah gugatan dilayangkan, dengan alasan tekanan finansial akibat proses hukum yang berjalan.

Dalam putusan yang dikutip Reuters, pengadilan menemukan bahwa Ross menyalin “headnotes” milik Thomson Reuters secara verbatim, yakni ringkasan editorial singkat atas isu-isu hukum, untuk kepentingan mesin pencari hukumnya. Hakim pengadilan federal Delaware dalam putusan awal tahun lalu menilai Ross mengambil headnotes tersebut untuk mempermudah pengembangan alat riset hukum pesaing, sehingga penggunaannya dinilai tidak transformatif.

Putusan ini menyentuh langsung doktrin “fair use” di bawah US Copyright Act of 1976, yang memperbolehkan penggunaan materi berhak cipta untuk kepentingan seperti kritik, jurnalisme, dan riset. Penilaian fair use bergantung pada sejumlah faktor, termasuk seberapa transformatif penggunaannya, seberapa banyak karya yang dipakai, dan apakah reproduksi tersebut mengubah nilai pasar karya asli.

Doktrin inilah yang menjadi pijakan utama pertahanan hukum industri AI dalam sejumlah gugatan yang masih berjalan dari para pemegang hak. CEO OpenAI, Sam Altman, sebelumnya menegaskan bahwa perlombaan AI akan “berakhir” jika ketentuan kunci dalam hukum hak cipta tersebut dibatalkan.

Tekanan Hukum yang Terus Meningkat

Gugatan terhadap Ross Intelligence bukan kasus tunggal. Puluhan perkara serupa telah dilayangkan oleh penulis, komedian, industri musik, sejumlah surat kabar berpengaruh, hingga Encyclopedia Britannica. Selama bertahun-tahun, tekanan terhadap perusahaan AI terus meningkat seiring bertambahnya pemegang hak yang menuding perusahaan teknologi memanfaatkan karya mereka secara tidak adil.

Sejumlah kasus lain juga masih bergulir di jalur hukum. Salah satunya gugatan yang dilayangkan Concord Music Group, yang menuduh Anthropic menggunakan ribuan lirik lagu berhak cipta secara melawan hukum untuk melatih model Claude AI. Sidang untuk perkara tersebut dijadwalkan berlangsung pada akhir bulan ini.

Di sisi lain, sejumlah perkara terkait data dan hak digital juga menyita perhatian publik. Telset.id mencatat bagaimana Supreme Court memutus penjualan data lokasi oleh sejumlah operator telekomunikasi sebagai tindakan ilegal. Selain itu, ada pula perkara New Mexico yang menuntut Meta membayar denda senilai Rp40 miliar dolar.

Dampak yang Masih Diperdebatkan

Seberapa besar pengaruh putusan pengadilan banding terbaru ini masih menjadi perdebatan. Copyright Lately’s Aaron Moss mencatat bahwa bahkan industri AI menyebut putusan tersebut sebagai kemenangan. Senior director of AI dari kelompok industri teknologi Chamber of Progress, Adam Eisgrau, melalui cuitannya menyatakan bahwa putusan itu “secara implisit mengonfirmasi bahwa pelatihan gen AI yang sangat transformatif untuk menghasilkan model multi-guna dengan manfaat publik besar kemungkinan merupakan fair use.”

Moss menilai, melihat berbagai perayaan kemenangan yang muncul, orang bisa mengira setiap pihak membaca opini yang berbeda. Menurutnya, mereka tidak membaca opini yang sama.

Pihak yang terkait dengan Ross dilaporkan telah berjanji membawa perkara ini ke Mahkamah Agung. Meski demikian, apakah putusan lain yang menguntungkan Thomson Reuters dapat menyelesaikan pertempuran hukum besar yang telah lama berjalan masih belum pasti. Moss berpendapat kasus ini bukan “kendaraan terbaik untuk putusan menyeluruh soal generative AI.”

Ia menilai perkara tersebut sampai ke Third Circuit melalui interlocutory review, besaran ganti rugi belum diselesaikan, Ross sudah tidak ada lagi, dan AI yang digunakan bukan AI generatif. Namun, para pemegang hak masih memiliki sejumlah jalur lain yang sedang berjalan. Menurut Moss, ada kasus-kasus yang lebih bersih untuk memutuskan masa depan pelatihan generative AI, dan beberapa di antaranya sudah masuk dalam jadwal persidangan.

Perkembangan ini menjadi bagian dari rangkaian panjang sengketa antara perusahaan AI dan pemegang hak cipta. Sebelumnya, Telset.id juga melaporkan bagaimana perubahan istilah AI oleh Trump berdampak pada lonjakan domain .si Slovenia hingga 100 kali. Dinamika kebijakan dan hukum seputar AI memang terus berubah, dan putusan Third Circuit ini menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan tersebut.

Dengan masih berjalannya puluhan gugatan dan sejumlah sidang yang sudah dijadwalkan, arah perlindungan hak cipta dalam pelatihan model AI belum menemukan titik akhir. Putusan banding ini menegaskan bahwa praktik penyalinan materi berhak cipta secara verbatim tetap sulit dibenarkan, sekaligus menyisakan ruang tafsir bagi kasus-kasus AI generatif yang lebih kompleks di meja hakim berikutnya.

[IMAGE]
A judge using his gavel in court.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.