Telset.id ā Gelombang penolakan terhadap pembangunan data center di Amerika Serikat semakin meluas dan memicu kekhawatiran serius di kalangan eksekutif industri AI. Bahkan, CEO OpenAI, Sam Altman, secara blak-blakan mengakui bahwa āorang-orang membenci data centerā dan ācukup negatif terhadap AIā dalam sebuah wawancara dengan Time.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya aksi protes yang menargetkan investasi data center senilai $130 miliar. Para pengunjuk rasa menilai pembangunan infrastruktur besar-besaran ini hanya menguntungkan segelintir individu kaya, sambil mengancam pasokan air, menaikkan biaya hidup, dan menghasilkan polusi dalam jumlah besar.
Presiden AS Donald Trump pun angkat bicara. Melalui platform Truth Social, ia mengecam komunitas yang menolak data center, menyebut mereka āingin menjadi terbelakang dan miskin.ā Trump juga mengklaim China ātidak bisa lebih bahagiaā dengan gerakan anti-data center di AS. Ia justru mendorong agar komunitas āmembiarkan Data Berkuasaā jika ingin āsukses dan kaya, dengan pajak yang jauh lebih rendah dan lapangan kerja di mana-mana.ā
Dampak Ekonomi dan Lingkungan yang Diperdebatkan
Penolakan terhadap data center bukan tanpa alasan. Studi dari Georgia Tech pada Juli lalu menemukan bahwa pembangunan data center memang meningkatkan lapangan kerja lokal sebesar 3,5%, total upah sebesar 5%, dan pendapatan rumah tangga median sebesar 1,9%. Namun, manfaat ini terutama terasa di area metropolitan, sementara dampaknya di daerah pedesaan dinilai ādapat diabaikan.ā
Studi tersebut juga menyoroti bahwa data center sering kali mempekerjakan kurang dari 100 pekerja tetap, dengan layanan khusus yang ādiimpor dari luar negeri.ā Selain itu, harga listrik rata-rata naik 5% setelah sebuah data center dibangun di suatu komunitas. Analisis terpisah dari Brookings menemukan bahwa jumlah pekerjaan permanen yang tercipta hanya sekitar 100 hingga 200 posisi, dan harga rumah rata-rata naik antara 2% hingga 5% tanpa dampak pada upah.
Data dari Tomās Hardware menunjukkan eskalasi konflik ini: sejak April lalu, para pemimpin daerah telah menerima peningkatan jumlah ancaman pembunuhan kredibel terkait data center. Bulan lalu, jumlah larangan lokal terhadap pengembangan data center melampaui angka 500 di seluruh AS. Lebih dari 75 proyek data center senilai $130 miliar juga berhasil diblokir dalam tiga bulan pertama tahun 2026.
Baca Juga:
Menanggapi tekanan ini, pemerintah daerah dan negara bagian mulai mengambil tindakan. Pada Juli lalu, Gubernur New York, Kathy Hochul, menandatangani moratorium satu tahun untuk pembangunan data center guna mempelajari dampak ekonomi dan lingkungan. Gubernur Texas, Greg Abbott, juga mengarahkan lembaga negara untuk memutuskan data center dari jaringan listrik Texas hingga audit penggunaan daya dan air selesai dilakukan. Gubernur Ohio, Mike DeWine, membuat arahan serupa.
Di tingkat nasional, Artificial Intelligence Data Center Moratorium Act yang disponsori oleh Perwakilan Alexandria Ocasio-Cortez mengusulkan jeda pembangunan data center dan produk AI baru hingga pemerintah dapat meninjau dampak lingkungan serta dampaknya terhadap lapangan kerja. RUU ini telah diperkenalkan, meskipun belum diperdebatkan di komite atau dipilih di DPR.
Tekanan pada OpenAI dan Masa Depan AI
Bagi Altman, isu ini terasa sangat personal. Awal tahun ini, seorang pria melempar bom molotov ke rumahnya beberapa hari sebelum rumah tersebut ditembaki. Pelaku diketahui berulang kali memperingatkan bahwa AI akan memusnahkan umat manusia dan terkait dengan gerakan politik PauseAI yang menyerukan pengawasan lebih besar terhadap keamanan AI. āIni adalah pengalaman pribadi yang menyakitkan,ā kata Altman kepada Time.
Selain kehilangan kepercayaan publik, OpenAI juga harus menghadapi persaingan ketat dari Anthropic. Kepemimpinan perusahaan menjadi pintu putar, dengan para eksekutif kunci yang hengkang. Terbaru, seorang tokoh sentral yang mengawasi pembangunan data center perusahaan meninggalkan perusahaan, menurut laporan Wall Street Journal. Ini menjadi tanda bahwa perusahaan akan menghadapi hari-hari sulit saat mencoba memenangkan publik dan investor yang waspada menjelang IPO mereka.
Di tengah meningkatnya reaksi balik, OpenAI tetap berkomitmen untuk berinvestasi besar-besaran dalam komputasi. Perusahaan menandatangani beberapa kontrak infrastruktur besar di seluruh negeri untuk mengamankan daya komputasi, sumber daya yang terbatas dan sangat berharga di tengah ledakan AI yang sedang berlangsung. Hal ini justru dapat membuat upaya Altman untuk mendapatkan kembali kepercayaan publik menjadi lebih sulit.
OpenAI juga mengambil langkah untuk memperlambat pengembangan model terbarunya dengan alasan masalah keamanan. Sekelompok model AI mereka bahkan diketahui menyusup ke sistem Hugging Face, yang membuat para ahli khawatir. āMembuat AI aman dengan benar lebih penting daripada momentum perusahaan mana pun,ā tegas Altman. Namun, apakah pendekatan ini cukup untuk membersihkan reputasinya yang tercemar masih belum pasti, terutama karena data center baru terus dibangun.
Altman tampaknya sangat menyadari reputasi yang ia miliki. āLihat, saya pikir ada karikatur tentang saya ini, yaitu saya tidak peduli dengan keamanan AI, dan saya hanya mencoba membuat pendapatan naik, dan Anda tahu, hanya CEO YOLO,ā ujarnya. Namun, karikatur itu mungkin jauh lebih dekat dengan kenyataan daripada yang ingin diakui miliarder tersebut, mengingat apa yang diperlukan OpenAI untuk mencapai posisinya saat ini.
Gelombang protes ini juga memicu perdebatan tentang bagaimana industri AI harus merespons. Beberapa eksekutif seperti CEO Meta, Mark Zuckerberg, tetap optimis dengan melukiskan masa depan di mana manusia tidak perlu bekerja dan hidup dengan santai berkat AI. Sementara itu, salah satu pendiri Reddit, Alexis Ohanian, secara putus asa mencari cara untuk menjual data center kepada publikātugas yang sangat berat mengingat skala dampak yang terjadi.
Dengan semakin banyaknya komunitas yang menolak, pemerintah yang memberlakukan moratorium, dan RUU yang diajukan di Kongres, masa depan pembangunan data center di AS berada di persimpangan jalan. Industri AI harus menemukan cara untuk menyeimbangkan kebutuhan komputasi yang sangat besar dengan kekhawatiran publik yang semakin nyata. Jika tidak, gelombang penolakan ini bisa menjadi hambatan terbesar bagi pertumbuhan AI di Amerika Serikat.
Perlawanan terhadap data center ini menunjukkan bahwa isu infrastruktur digital bukan lagi sekadar urusan teknis, melainkan telah menjadi isu sosial, ekonomi, dan politik yang kompleks. Masyarakat menuntut transparansi dan akuntabilitas dari perusahaan teknologi yang ingin membangun di lingkungan mereka. Ketegangan antara kemajuan teknologi dan kesejahteraan komunitas lokal ini kemungkinan akan terus menjadi isu utama di tahun-tahun mendatang.





Komentar
Belum ada komentar.