📑 Daftar Isi

Ilustrasi seorang pria bersetelan bisnis berteriak frustrasi menghadapi hasil kerja AI berkualitas rendah di kantor

Perusahaan Teknologi Mulai Batasi Adopsi AI, Pekerja Dituding Boros Token

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Meta dan Microsoft mengurangi rencana penggantian karyawan dengan agen AI
  • Pekerja kantor boros token AI mahal demi terlihat produktif
  • Ryan Roslansky soroti fenomena "workslop" dan lingkaran kegagalan AI
  • Survei Ernst and Young: 36 persen eksekutif alami insiden AI katastrofik
  • Eksekutif akui adopsi AI seharusnya dilakukan lebih perlahan

Telset.id – Gelombang adopsi kecerdasan artifisial (AI) di lingkungan kerja korporasi mulai menunjukkan arah berbeda. Sejumlah perusahaan teknologi terkemuka kini meninjau kembali rencana ambisius mereka, setelah menemukan bahwa penggunaan AI di internal justru menghasilkan pemborosan anggaran dan konten berkualitas rendah. Langkah pengurangan ini menandai perubahan sikap dari para pelaku industri yang sebelumnya gencar mendorong penggunaan AI.

Menurut laporan Reuters yang dikutip, perusahaan seperti Meta mulai mengurangi rencana untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan dan menggantinya dengan agen AI. Microsoft disebut mengambil langkah serupa. Kondisi ini muncul setelah para pekerja kantor menghabiskan anggaran mereka pada token AI yang mahal hanya untuk terlihat produktif, sementara hasil kerjanya dinilai minim nilai tambah.

Keluhan soal “Workslop” dan Lingkaran Kegagalan AI

Executive Vice President Microsoft, Ryan Roslansky, secara terbuka menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai workslop atau sampah hasil kerja berbasis AI. Melalui akun LinkedIn miliknya, Roslansky menyatakan bahwa masalah ini tidak hanya terjadi di media sosial, tetapi juga merambah ke pekerjaan sehari-hari.

“Seseorang mengirimkan kepada saya dokumen yang jelas dihasilkan AI. Saya membacanya, menyadari semuanya dibuat AI, lalu meminta AI saya untuk merangkumnya, dan berakhir dengan tidak ada apa pun yang membawa pemikiran baru terhadap ide tersebut. Ini adalah lingkaran kegagalan,” ujar Roslansky, seperti dikutip dari laporan The Guardian.

Pernyataan tersebut menggambarkan persoalan mendasar dalam pemanfaatan AI di tempat kerja. Alih-alih meningkatkan produktivitas, penggunaan AI yang tidak terarah justru menghasilkan lapisan konten tanpa substansi. Dokumen yang dibuat AI kemudian diringkas kembali oleh AI lain, sehingga nilai pemikiran manusia yang orisinal hilang di tengah proses tersebut.

A man in a business suit is shown screaming in frustration

CEO Society for Human Resource Management, Johnny Taylor Jr, menambahkan bahwa para eksekutif korporasi kini merasakan tekanan dari penerapan AI yang terburu-buru. Menurutnya, perusahaan berada dalam posisi yang sulit karena harus mengemudikan kendaraan sekaligus membangunnya pada waktu yang sama.

“Jika kita semua bisa memutar waktu, kita akan memperkenalkan ini dengan cara yang lebih bijak dan perlahan,” kata Taylor kepada The Guardian.

Pandangan ini mencerminkan kesadaran bahwa adopsi AI di tingkat perusahaan belum sepenuhnya matang. Meski agen AI konsumen terus menjadi sorotan karena berbagai insiden, penerapan AI praktis di tingkat enterprise dinilai masih tertinggal. Fenomena ini menjadi salah satu pemicu mengapa sejumlah korporasi mulai menahan diri dari ekspansi AI yang agresif.

Risiko Insiden AI yang Berdampak Finansial

Selain persoalan kualitas hasil kerja, dampak penggunaan AI di perusahaan juga mencakup risiko yang lebih serius. Survei pada September yang dilakukan firma Ernst and Young menemukan bahwa sekitar 36 persen eksekutif senior AI di perusahaan dengan pendapatan tahunan lebih dari 1 miliar dolar AS telah mengalami “insiden AI” katastrofik. Insiden tersebut mengakibatkan kerugian finansial, gangguan operasional, kehilangan data, hingga kerusakan reputasi merek.

Temuan ini memperkuat alasan di balik sikap hati-hati sejumlah korporasi. Kerugian finansial dan gangguan operasional menjadi konsekuensi nyata yang tidak bisa diabaikan, terlepas dari besarnya janji efisiensi yang ditawarkan teknologi AI. Data tersebut juga menunjukkan bahwa risiko AI tidak hanya sebatas konten berkualitas rendah, tetapi dapat merambah ke aspek bisnis yang lebih kritis.

Kombinasi antara pemborosan token AI, hasil kerja yang minim nilai, serta potensi insiden yang merugikan membuat sejumlah perusahaan mulai mengevaluasi ulang strategi mereka. Langkah Meta dan Microsoft mengurangi rencana penggantian karyawan dengan agen AI menjadi indikasi bahwa pendekatan all-in terhadap AI tidak lagi menjadi pilihan utama.

Fenomena ini juga berkaitan dengan dinamika industri AI secara lebih luas. Sejumlah pengamat sebelumnya menyoroti bagaimana bisnis AI tanpa profitabilitas yang jelas berisiko mengalami kegagalan, seperti terlihat pada kasus Character.AI Bangkrut. Sementara itu, di sisi lain, perusahaan AI masih gencar melakukan berbagai upaya untuk memperkuat model mereka, termasuk melalui AI Companies Borong jutaan buku bekas sebagai bahan pelatihan.

Bagi korporasi yang bergantung pada penjualan janji AI, seperti Microsoft, sikap hati-hati ini menjadi dilema tersendiri. Di satu sisi, perusahaan perlu menjaga kredibilitas produk AI yang mereka tawarkan. Di sisi lain, pengalaman internal menunjukkan bahwa penerapan AI yang tidak terkelola dengan baik dapat menimbulkan masalah operasional dan finansial.

Survei Ernst and Young dan pengalaman sejumlah eksekutif menunjukkan bahwa adopsi AI membutuhkan pendekatan yang lebih terukur. Pemborosan anggaran pada token AI, hasil kerja yang dangkal, serta risiko insiden yang merugikan menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum perusahaan memperluas penggunaan AI secara masif. Langkah sejumlah perusahaan teknologi global untuk meninjau kembali rencana mereka menjadi cerminan bahwa transformasi berbasis AI memerlukan keseimbangan antara ambisi dan kesiapan operasional.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.