📑 Daftar Isi

Ilustrasi wawancara kerja antara AI recruiter dan ChatGPT Voice yang mewakili kandidat manusia

Pencari Kerja Lawan AI Recruiter dengan ChatGPT Voice

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Christopher, pencari kerja AS, melawan AI recruiter "Riley" dari Everforth Apex Systems dengan ChatGPT Voice
  • Dari 700 lamaran yang diajukan, hanya 5 yang diproses AI recruiter, semuanya tanpa tindak lanjut manusia
  • Wawancara pertama bot-vs-bot berlangsung 10 menit; percobaan kedua dengan kandidat palsu "Don Dickner" berlangsung 23 menit
  • Data Greenhouse: 63 persen pencari kerja pernah mengalami wawancara AI
  • Mark Monaghan dari IQor menyebut ini "tahap logis berikutnya" dalam evolusi rekrutmen
  • Startup AI seperti Ribbon mulai menawarkan deteksi respons yang dibantu AI

Telset.id – Seorang pencari kerja di Amerika Serikat memutuskan melawan AI recruiter dengan cara yang tidak biasa: menerjunkan ChatGPT Voice untuk menjawab panggilan wawancara virtual. Christopher, seorang kontraktor pemerintah yang kehilangan pekerjaan di era DOGE, mengaku telah mengajukan sekitar 700 lamaran dalam enam bulan terakhir. Mayoritas lamarannya tidak mendapat respons sama sekali.

Dari ratusan lamaran tersebut, lima di antaranya diproses oleh “Riley,” sebuah AI recruiter milik perusahaan IT Everforth Apex Systems. Christopher (nama samaran, karena proses pencarian kerjanya masih berlangsung) awalnya merasa antusias ketika Riley pertama kali menghubunginya pada Juni lalu. Namun, antusiasme itu berubah menjadi frustrasi setelah lima kali menjalani wawancara dengan bot tanpa pernah mendapat tindak lanjut dari rekruter manusia.

Bot Melawan Bot dalam Wawancara Kerja

Setelah wawancara kelima tanpa kabar, Christopher memutuskan untuk membalas dengan senjata yang sama. Ia mengetik beberapa kalimat informasi latar belakang ke ChatGPT Voice dan memerintahkannya untuk bertindak sebagai “Christopher.” Ketika Riley menelepon, Christopher menempatkan kedua AI tersebut berdampingan.

“Wawancara” antara dua bot tersebut berlangsung selama 10 menit. Riley memberi tahu ChatGPT bahwa ia senang berbicara dengannya, sementara ChatGPT mengapresiasi “betapa jelas dan mudahnya proses ini.” Pada satu momen, kedua bot sempat terjebak dalam percakapan melingkar tentang “onboarding standar dan pemeriksaan latar belakang” saat mencoba menentukan tanggal mulai kerja.

Christopher menyebut pengalaman ini sebagai “slop flywheel” — satu persona sintetis memberikan data berkualitas rendah kepada persona sintetis lainnya. “Semua data itu pergi ke mana? Tidak ke mana-mana,” ujarnya. Ia mengaku kegiatan ini campuran antara “kesenangan nakal” dan frustrasi, sekaligus bentuk “penolakan untuk pernah ingin bekerja” dengan perusahaan tersebut.

Everforth Apex Systems tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari WIRED.

Fenomena Wawancara Bot-on-Bot

Penggunaan AI dalam proses rekrutmen sebenarnya bukan hal baru, tetapi penerapannya dalam wawancara baru berkembang belakangan ini. Voice AI dikenal sulit diimplementasikan karena agen sering terkendala aksen atau kata-kata pengisi seperti “um.” Perilaku yang natural bagi manusia — seperti tidak menyela kandidat — menjadi “masalah engineering yang sangat, sangat sulit,” menurut Ophir Samson, kepala voice AI di platform rekrutmen Greenhouse.

Meski demikian, para rekruter yang kewalahan dengan membanjirnya lamaran semakin beralih ke alat voice AI untuk menyaring kandidat. Data Greenhouse menunjukkan 63 persen pencari kerja melaporkan pernah mengalami wawancara dengan AI.

Di sisi lain, kandidat pun mulai menggunakan AI untuk membantu proses wawancara mereka. Fenomena ini memunculkan startup rekrutmen berbasis AI seperti Ribbon yang menjanjikan kemampuan mengidentifikasi respons yang “terlalu kaku, dibantu AI, atau dilatih” — persis seperti yang dilakukan Christopher dalam eksperimennya.

Mark Monaghan, wakil presiden pengembangan organisasi di perusahaan call center IQor, menilai wawancara antar-bot adalah “tahap logis berikutnya” dari evolusi rekrutmen. Namun, ia tidak sepenuhnya senang dengan perkembangan ini. Dalam kasus Christopher, Monaghan meyakini penggunaan AI lebih dari sekadar dapat dibenarkan. “Jika kamu mengirim bot kepadaku,” katanya, “aku akan mengirim bot kepadamu.”

Setelah wawancara kelima tanpa tindak lanjut, Christopher memutuskan mencoba sekali lagi melamar ke Everforth Apex. Ia berpikir mungkin masalahnya bukan pada AI, melainkan pada dirinya. Mungkin jika Riley berbicara dengan kandidat impian perusahaan, hasilnya akan berbeda.

Christopher kemudian membuat kandidat palsu bernama Don Dickner dengan résumé yang dipenuhi kualifikasi yang diambil dari postingan lowongan terbuka. Setelah lamaran diajukan, Riley langsung menghubunginya. Kali ini, AI recruiter berbicara dengan ChatGPT yang berperan sebagai Dickner selama 23 menit.

Keduanya membahas “peningkatan operasional berkelanjutan,” melindungi “pengalaman pelanggan di bawah tekanan volume,” dan menolak membiarkan “pengetahuan tribal menyimpang.” ChatGPT memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan dan anekdot pribadi untuk setiap kualifikasi. Di akhir wawancara, ChatGPT mengatakan memiliki “beberapa pertanyaan lagi yang ingin dijawab.”

Riley merespons dengan sopan bahwa pihaknya akan meninjau aplikasi dan menghubungi jika kandidat memenuhi kriteria. Christopher tidak pernah mendengar kabar dari Riley lagi.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana AI telah mengubah lanskap pencarian kerja secara fundamental. Di satu sisi, perusahaan menggunakan AI untuk menyaring ribuan lamaran demi efisiensi. Di sisi lain, kandidat menggunakan AI untuk menembus sistem yang sama. Hasilnya adalah ekosistem rekrutmen di mana interaksi manusia semakin berkurang, digantikan oleh percakapan antar-mesin yang menghasilkan data tanpa tujuan jelas.

Perkembangan teknologi AI yang pesat juga terlihat di berbagai bidang lain, termasuk komputasi kuantum dan layanan digital. Namun, kasus Christopher menjadi ilustrasi nyata bagaimana adopsi AI tanpa pengawasan manusia yang memadai dapat menciptakan situasi yang tidak produktif bagi semua pihak — baik pencari kerja maupun perusahaan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.