Telset.id – Meta baru saja mematenkan sistem kamera pada kacamata pintarnya yang mampu mengenali wajah, menganalisis ekspresi, hingga memutuskan momen apa yang layak direkam secara otomatis. Paten yang dipublikasikan pada Kamis dan pertama kali dilaporkan oleh 404 Media ini menggambarkan sistem yang mencari “titik menarik” dalam bidang pandang pengguna.
Bayangkan menghadiri pesta makan malam tanpa perlu mengeluarkan ponsel. Setelah acara selesai, kacamata Anda akan menyajikan koleksi foto dan klip video yang menampilkan pasangan Anda di seberang meja serta teman-teman yang tertawa bersama. Itulah gambaran sistem yang dipatenkan Meta untuk kacamata Meta-nya.
Filing paten tersebut mendeskripsikan kacamata berkamera yang menggunakan facial recognition, analisis ekspresi, dan informasi tentang hubungan Anda untuk mengidentifikasi orang-orang di sekitar serta menentukan momen mana yang mungkin ingin Anda abadikan. Kacamata tersebut bahkan bisa bertanya, “Saya telah membuat sorotan dari pesta makan malam malam ini. Apakah Anda ingin melihatnya?”
Saat Meta terus mendapat sorotan tajam atas “kacamata mesum”-nya, paten ini terdengar praktis bagi sebagian orang, tetapi juga berpotensi menjadi mimpi buruk privasi.

Cara Kerja Sistem Rekam Otomatis
Paten tersebut menjelaskan sistem yang mencari “titik menarik” dalam bidang pandang pengguna. Pada pesta makan malam, facial recognition dapat mengidentifikasi istri pengguna dan menempatkannya di tengah bingkai. Tamu lain bisa dipotong atau diburamkan di latar belakang.
Sistem kemudian dapat menganalisis ekspresi wajah. Jika dua orang mulai tertawa, misalnya, kacamata dapat mengenali reaksi tersebut dan mengarahkan ulang kamera untuk fokus pada mereka. Siapa yang masuk dalam bidikan akhir dapat bergantung pada hubungan pengguna dengan masing-masing orang.
Menurut laporan tersebut, informasi dari grafik sosial pengguna dapat membantu sistem menentukan teman atau anggota keluarga mana yang lebih menarik bagi pengguna dibandingkan orang lain di ruangan itu.
Paten tersebut juga menyebutkan data pelacakan mata. Melihat orang atau objek tertentu dapat membantu kacamata menentukan fokus, sementara stabilisasi dan pemotongan otomatis dapat meningkatkan hasil foto atau video yang dihasilkan.
Pengguna mungkin masih perlu memberikan perintah sebelum mengambil gambar atau merekam klip dalam beberapa contoh yang dijelaskan. Namun, sistem yang lebih besar akan menangani sebagian besar pengambilan keputusan: mengidentifikasi orang, menafsirkan apa yang mereka lakukan, dan mengurutkan hasilnya ke dalam koleksi yang dipersonalisasi.
Memori Episodik dan Pencarian Wajah
Paten Meta melampaui sekadar membuat sorotan video. Sistem ini juga menghubungkan momen yang baru diambil dengan kumpulan “memori episodik” yang terkait dengan pengguna.
Salah satu contohnya: “Apakah saya pernah bertemu pria berbaju T-shirt merah itu?” Sistem dapat mencari kiriman lama, komentar, foto, dan video sebelum mengambil gambar kelompok yang menunjukkan bahwa pengguna pernah bertemu dengannya di sebuah konferensi. Hal ini dapat membantu seseorang mengingat nama atau menemukan foto yang sulit mereka cari.
Namun, hal ini juga akan mengubah pertemuan santai di dunia nyata menjadi catatan yang dapat dicari. Meta memang telah mengeksplorasi facial recognition untuk kacamatanya sebelumnya.
Pada bulan Juni, Wired menemukan kode yang belum dirilis untuk fitur bernama NameTag di dalam aplikasi pendamping Meta AI. Jika diaktifkan, NameTag dapat mengubah wajah yang ditangkap kacamata menjadi tanda biometrik dan membandingkannya dengan sidik wajah yang tersimpan di ponsel pengguna.
Meta menghapus kode facial recognition tersebut setelah Wired menerbitkan investigasinya. Perusahaan mengatakan fitur itu tidak tersedia untuk konsumen. Paten yang baru diterbitkan ini menawarkan gambaran yang jauh lebih rinci tentang bagaimana facial recognition dapat bekerja bersama pembingkaian otomatis, analisis ekspresi, dan alat memori yang dipersonalisasi.

Kacamata Ray-Ban Meta saat ini menggunakan lampu penanda berwarna putih untuk menunjukkan kapan pengguna mengambil foto atau merekam video. Indikator itu cukup mudah dipahami ketika seseorang sengaja menekan tombol atau meminta kacamata untuk mulai merekam.
Namun, sistem yang menganalisis orang sebelum memutuskan apa yang akan direkam dapat membuat perbedaan itu semakin sulit dijelaskan. Bahkan jika perhitungan itu terjadi sebelum foto atau video disimpan, orang-orang yang berdiri di depan kamera tetap dinilai.
Mereka mungkin tidak tahu bahwa kacamata telah mengenali mereka, menghubungkan mereka dengan pengguna, atau memutuskan bahwa reaksi mereka cukup menarik untuk diabadikan. Kekhawatiran ini sudah menarik perhatian hukum.
Pada 12 Agustus, kelompok hak digital Jerman, HateAid, mengajukan pengaduan pidana terhadap Meta dan beberapa perusahaan yang menjual kacamatanya di Jerman. Isu privasi ini juga menjadi sorotan di berbagai negara, termasuk larangan penggunaan di ruang sidang Inggris.
Baca Juga:
Kacamata pintar Meta saat ini menjadi populer karena terlihat seperti Ray-Ban biasa dan memudahkan pengguna mendengarkan musik, bertanya cepat ke Meta AI, atau berbelanja tanpa meraih ponsel. Paten ini membayangkan memberi kacamata kendali yang jauh lebih besar atas kamera.
Meskipun pengguna mungkin menghargai momen-momen itu diabadikan untuk mereka, para tamu mungkin wajar bertanya kapan mereka setuju menjadi bagian dari rekaman tersebut. Paten ini juga muncul di tengah persaingan ketat di pasar kacamata pintar, termasuk dengan pemain AI lainnya yang terus berkembang.
Memiliki paten tidak menjamin Meta akan merilis semua ini. Perusahaan secara rutin mematenkan ide yang tidak pernah menjadi produk konsumen. Namun, facial recognition untuk kacamata Meta bukan sekadar kekhawatiran hipotetis, mengingat temuan kode NameTag dan respons Meta terhadap investigasi tersebut.
Yang jelas, paten ini menawarkan gambaran masa depan di mana kacamata pintar tidak hanya merekam, tetapi juga memahami konteks sosial, hubungan antarmanusia, dan momen yang layak diabadikan. Pertanyaannya, apakah dunia siap dengan tingkat pengawasan semacam itu?





Komentar
Belum ada komentar.