📑 Daftar Isi

Mahasiswa memegang kepala sambil melihat lembar tugas di depannya.

Overreliance AI Bikin Mahasiswa Kehilangan Kemampuan Berpikir Kritis

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Laporan MIT peringatkan fenomena "cognitive surrender" akibat overreliance AI
  • Nilai ujian mahasiswa anjlok karena sulit mengerjakan soal tanpa bantuan AI
  • Dampak meliputi menurunnya berpikir kritis, daya ingat, dan rasa percaya diri
  • Administrator kampus dorong adopsi AI, pendidik justru khawatir
  • University of Chicago larang ponsel, tablet, dan laptop di kelas tahun pertama

Telset.id – Overreliance atau ketergantungan berlebihan pada AI generatif kini mulai menimbulkan dampak serius di dunia pendidikan. Mahasiswa yang terbiasa menyerahkan tugas berpikir mereka ke chatbot dilaporkan kehilangan kemampuan berpartisipasi dalam diskusi kelas, sementara nilai ujian anjlok karena mereka kesulitan mengerjakan soal tanpa bantuan teknologi tersebut.

Fenomena ini bukan sekadar soal nilai buruk. Dalam laporan tentang kondisi pendidikan yang dirilis bulan lalu, peneliti MIT memperingatkan bahwa tren tersebut mengarah pada apa yang mereka sebut sebagai “cognitive surrender” atau menyerahkan kemampuan kognitif. Kondisi ini secara efektif menggantikan agensi intelektual mahasiswa dengan output dari AI.

Laporan MIT menyebut bahwa semakin canggih teknologi berbasis AI, semakin besar pula kemungkinan dan godaan untuk menyerahkan tugas-tugas berpikir kepada mesin. Mahasiswa yang menjadi responden mengaku godaan terbesar muncul ketika mereka takut melewatkan tenggat waktu pengumpulan tugas.

Namun, laporan tersebut juga mencatat adanya sinyal awal bahwa ketergantungan berlebihan pada chatbot dapat menimbulkan sejumlah konsekuensi negatif yang signifikan. Dampak yang dimaksud mencakup menurunnya kemampuan berpikir kritis, melemahnya daya ingat, terkikisnya rasa percaya diri, serta melemahnya penguasaan materi.

A student holding their head while looking at a piece of paper.

Pembahasan mengenai AI di dunia pendidikan memang menjadi topik yang rumit. Pasalnya, para administrator kampus terus mendorong adopsi AI yang lebih besar, bukan sebaliknya. Dorongan ini muncul meski banyak pendidik yang menyaksikan langsung bagaimana mahasiswa yang bergantung pada AI justru kesulitan di dalam kelas dan merasa geram dengan situasi tersebut.

Dorongan Kampus dan Sikap Para Pendidik

Presiden University of Hawaii, Wendy Hensel, menyatakan bahwa pihaknya harus tetap mengikuti perkembangan AI, tetapi dengan cara yang bijaksana, etis, dan mengajukan pertanyaan yang tepat. Menurutnya, jawaban yang benar terhadap AI bukan sekadar menolak, dan pendekatan terhadap teknologi ini harus dilakukan dengan rasa ingin tahu serta pemahaman atas implikasinya.

Sejumlah studi terus bermunculan dan memperingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada chatbot AI dapat berdampak buruk bagi pendidikan. Salah satu temuan MIT pada tahun lalu menyebut bahwa mahasiswa tidak diajarkan untuk menginternalisasi apa yang mereka pelajari.

Peneliti MIT sekaligus salah satu penulis studi tersebut, Nataliya Kos’myna, menjelaskan bahwa pada dasarnya mahasiswa tidak melibatkan jaringan memori yang seharusnya membantu mereka mengingat materi. Hal ini menunjukkan bahwa proses belajar yang sesungguhnya tidak terjadi ketika tugas berpikir diserahkan sepenuhnya kepada AI.

Di sisi lain, administrator universitas berargumen bahwa mempersiapkan mahasiswa untuk masa depan yang didominasi AI tetap menjadi hal yang paling utama. Keyakinan ini berpotensi semakin mengikis kemampuan berpikir kognitif mahasiswa jika tidak diimbangi dengan pendekatan yang tepat.

Sejumlah pihak lain mengambil sikap yang jauh lebih tegas. Sekolah hukum University of Chicago, misalnya, mengumumkan bahwa mereka melarang penggunaan ponsel, tablet, bahkan laptop di dalam kelas untuk mata kuliah tahun pertama pada awal tahun ini. Langkah tersebut menjadi salah satu respons paling keras terhadap masuknya AI ke ruang kelas.

Kebijakan larangan perangkat di kelas menunjukkan bahwa sebagian institusi memilih untuk membatasi akses teknologi demi menjaga kualitas proses belajar. Sementara itu, institusi lain masih mencari keseimbangan antara mendorong literasi AI dan melindungi kemampuan berpikir mahasiswa.

Perdebatan mengenai sejauh mana AI boleh digunakan dalam pendidikan masih berlangsung. Di satu sisi, AI dianggap sebagai keterampilan yang perlu dikuasai untuk menghadapi dunia kerja. Di sisi lain, para pendidik khawatir bahwa penggunaan yang berlebihan justru melemahkan fondasi kemampuan berpikir yang seharusnya dibangun selama masa kuliah.

Perkembangan ini menjadi pengingat bahwa adopsi teknologi, termasuk di sektor pendidikan, perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang. Perubahan besar dalam cara kerja dan belajar akibat disrupsi digital pernah menjadi sorotan dalam laporan Hadapi Digital Disruption yang membahas kesiapan menghadapi transformasi teknologi.

Selain berdampak pada nilai akademik, ketergantungan pada AI juga memengaruhi cara mahasiswa berinteraksi dan berdiskusi. Kemampuan menyampaikan pendapat secara langsung di kelas menjadi salah satu korban dari kebiasaan menyerahkan tugas berpikir kepada mesin.

Fenomena ini menegaskan bahwa AI, meskipun menawarkan kemudahan, tetap memerlukan pengawasan dan pendekatan yang bijak dalam penggunaannya. Tanpa keseimbangan yang tepat, teknologi yang seharusnya membantu justru dapat menggerus kemampuan dasar yang menjadi inti dari proses pendidikan itu sendiri.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.