📑 Daftar Isi

Ilustrasi kakek nenek menggunakan AI untuk membuat buku cerita anak yang dipersonalisasi

Orang Tua Khawatir Kakek Nenek Pakai AI Bikin Buku Cerita Anak

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Kakek nenek menggunakan layanan AI seperti Imagitime, StoryWonderBook, dan Childbook.ai untuk membuat buku cerita anak personal
  • Orang tua khawatir foto anak mereka dimasukkan ke model AI tanpa izin dan berpotensi dibagikan ke pihak ketiga
  • Anak-anak justru bosan dengan buku AI karena ceritanya terlalu panjang dan bertele-tele
  • Peneliti Daozhi Xu dari Macquarie University menyebut buku AI kurang humor, karakter menarik, dan ketegangan dramatis
  • Kurangnya transparansi penyimpanan foto anak di platform AI menjadi masalah paling serius

Telset.id – Tren kakek dan nenek menggunakan AI untuk membuat buku cerita anak yang dipersonalisasi ternyata memicu kekhawatiran di kalangan orang tua. Para orang tua khawatir dengan implikasi privasi foto anak mereka yang diunggah ke platform kecerdasan buatan, sekaligus menilai kualitas cerita yang dihasilkan jauh di bawah buku karya penulis manusia.

Seperti dilaporkan Wired, para kakek dan nenek di Amerika Serikat mulai menggunakan layanan AI untuk membuat buku bergambar dengan cucu mereka sebagai tokoh utamanya. Meski niatnya dianggap manis, banyak orang tua yang tidak terkesan dan justru merasa terganggu dengan praktik ini.

Seorang orang tua mengungkapkan kekesalannya dalam sebuah unggahan Reddit yang dikutip Wired. Ia mengaku telah berulang kali menegaskan tidak mendukung karya seni yang dihasilkan AI dan melarang keras ibunya untuk memasukkan foto anaknya ke dalam model AI.

“Saya telah mengulangi berkali-kali bahwa saya tidak mendukung seni yang dihasilkan AI, dan menegaskan bahwa dia sama sekali tidak boleh memasukkan foto kami ke AI atau menggunakan informasi identitas kami dengan cara apa pun,” tulisnya.

Namun, sang nenek tetap membuat alur cerita berdasarkan pengalaman bersama cucunya dan memodelkan karakter dengan atribut serupa, bahkan menggunakan nama depan keluarga agar sang cucu “melihat keluarganya tercermin” dalam buku tersebut.

Seorang anak kecil sedang membaca buku cerita bergambar.

Industri Layanan Buku Cerita AI Bermunculan

Wired mencatat bahwa seluruh industri telah muncul untuk mendukung tren ini. Beberapa layanan seperti Imagitime, StoryWonderBook, dan Childbook.ai menawarkan cara mudah untuk memasukkan anak langsung ke dalam cerita imajinatif yang dihasilkan AI.

Menariknya, anak-anak pun tampaknya tidak terkesan dengan kreasi AI tersebut. Seorang ayah dengan anak berusia tujuh dan tiga tahun mengatakan kepada Wired bahwa kedua anaknya merasa “bosan” dengan buku yang dipersonalisasi AI yang mereka terima dari teman dan keluarga.

“Ceritanya terlalu panjang dan bertele-tele sehingga setelah satu kali membacanya, masing-masing anak saya bilang, ‘Ya, tidak apa-apa, mari baca Little Blue Truck’,” ujarnya, merujuk pada seri buku anak terlaris karya penulis Alice Schertle.

Peneliti: Kualitas Cerita AI Kurang Menarik

Daozhi Xu, peneliti di Macquarie University yang menerbitkan analisis tentang “ledakan buku anak AI,” mengatakan temuan ini tidak mengejutkan. Menurutnya, anak-anak tidak menyukai buku cerita hanya karena nama atau gambar mereka muncul di dalam cerita.

“Anak-anak tidak menyukai buku cerita hanya karena nama atau gambar mereka muncul dalam cerita; mereka menyukai buku karena ceritanya sendiri menarik,” kata Xu kepada Wired.

Xu menambahkan bahwa dibandingkan dengan buku karya penulis manusia, versi yang dihasilkan AI “sering kali kurang humor, karakter yang mudah diingat, dan ketegangan dramatis.”

Brandon Kirman, seorang komedian dan seniman, juga menceritakan pengalamannya kepada Wired. Orang tuanya memberikan buku yang dihasilkan AI tentang hal-hal yang mereka sukai saat bersama putrinya yang berusia empat dan dua tahun. Kirman menilai hadiah itu “berniat baik dari pihak mereka, tapi sangat mengkhawatirkan,” dan menambahkan bahwa anak-anaknya tampak kurang antusias dibandingkan saat membaca buku lain.

Masalah Privasi Foto Anak di Platform AI

Aspek paling berbahaya dari tren ini adalah kurangnya transparansi tentang bagaimana “foto anak-anak digunakan dan disimpan di platform AI,” kata Xu kepada Wired, yang berpotensi “dibagikan kepada pihak ketiga atau digunakan untuk melatih model AI.”

Kekhawatiran ini sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap keamanan data anak di era kecerdasan buatan. Platform AI yang digunakan tanpa pengawasan ketat dapat menyimpan data pribadi anak dalam jangka panjang tanpa sepengetahuan orang tua.

Meski niat para kakek nenek untuk menyenangkan cucu mereka patut diapresiasi, para ahli mengingatkan bahwa kualitas cerita dan keamanan data harus menjadi pertimbangan utama. Orang tua disarankan untuk berkomunikasi terbuka dengan anggota keluarga tentang batasan penggunaan AI yang melibatkan data anak-anak mereka.

Tren ini juga menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi AI semakin canggih, sentuhan manusia dalam bercerita tetap memiliki nilai yang tidak bisa digantikan. Buku cerita yang baik bukan hanya tentang personalisasi, tetapi tentang kualitas narasi yang mampu memikat imajinasi anak.

Sementara itu, berbagai platform AI terus bermunculan dengan tawaran kemudahan serupa. Para orang tua perlu lebih selektif dan kritis dalam memilih layanan yang digunakan keluarga mereka, serta memastikan kebijakan privasi yang jelas sebelum mengunggah data anak ke platform mana pun.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.