Telset.id – CEO OpenAI Sam Altman dan CFO Sarah Friar dilaporkan berselisih pendapat mengenai waktu yang tepat untuk membawa perusahaan ke pasar modal. Altman disebut ingin mempercepat proses penawaran saham perdana (IPO), sementara Friar menganggap perusahaan belum siap.
Menurut laporan eksklusif dari The Information yang diterbitkan pada 6 April 2024, Altman secara pribadi mengungkapkan keinginannya untuk bisa melaksanakan IPO secepatnya pada kuartal keempat tahun ini. Ambisi ini berjalan beriringan dengan komitmennya untuk menginvestasikan dana sebesar 600 miliar dolar AS (sekitar Rp 9.500 triliun) dalam lima tahun ke depan untuk mengembangkan kemampuan kecerdasan buatan OpenAI.
Namun, di balik layar, CFO Sarah Friar dikabarkan mulai menyuarakan kekhawatiran. Friar dilaporkan telah menyampaikan kepada beberapa rekan kerjanya bahwa menurut penilaiannya, OpenAI belum memenuhi syarat untuk go public pada tahun 2026. Alasannya, persiapan terkait proses dan struktur organisasi perusahaan dinilai belum lengkap.
Kekhawatiran utama Friar adalah besarnya komitmen pengeluaran yang dijanjikan Altman dan risikonya terhadap kesehatan keuangan perusahaan. Prediksi dari kalangan luar menyebutkan bahwa sebelum mulai mencetak laba, OpenAI masih akan menghabiskan dana lebih dari 200 miliar dolar AS. Friar mempertanyakan apakah pendapatan perusahaan, yang disebutkan telah melambat pertumbuhannya, mampu menopang janji pengeluaran sebesar itu.
Ia juga meragukan apakah pembelian server AI di tahun-tahun mendatang benar-benar membutuhkan anggaran sefantastis 600 miliar dolar AS. Ketidakpastian ini memperkuat posisinya bahwa perusahaan perlu lebih berhati-hati dalam mengatur keuangan sebelum membuka diri ke publik melalui pasar saham.
Baca Juga:
Perbedaan pandangan ini muncul di tengah laporan bahwa OpenAI telah mengamankan komitmen investasi baru yang sangat besar, mencapai total 122 miliar dolar AS. Namun, belum jelas apakah suntikan dana segar ini dapat meredakan kekhawatiran Friar mengenai kelanjutan bisnis dan stabilitas keuangan jangka panjang perusahaan.
Perselisihan internal di tubuh manajemen OpenAI ini menyoroti tantangan klasik yang dihadapi perusahaan teknologi yang sedang berkembang pesat: tarik-menarik antara keinginan untuk berekspansi cepat dengan agresif dan kebutuhan untuk membangun fondasi yang kokoh serta berkelanjutan. Di satu sisi, tekanan kompetisi di industri AI yang sangat ketat mendorong percepatan. Di sisi lain, tuntutan transparansi dan akuntabilitas sebagai perusahaan publik memerlukan kematangan operasional.
OpenAI sendiri terus berinovasi dengan meluncurkan berbagai fitur baru untuk produk andalannya, ChatGPT, sambil juga berekspansi ke perangkat keras. Keputusan mengenai waktu IPO akan memiliki implikasi besar tidak hanya bagi internal perusahaan tetapi juga bagi lanskap industri AI secara global, mengingat posisi OpenAI sebagai salah satu pemain utama.




