šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi akuisisi OpenAI terhadap Glass Imaging, pembuat kamera smartphone berbasis AI

OpenAI Akuisisi Glass Imaging Rp4,8 Triliun, Kunci Masuk Pasar Smartphone

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • OpenAI akuisisi Glass Imaging senilai lebih dari US$300 juta (sekitar Rp4,8 triliun)
  • Glass Imaging didirikan 2019 oleh Ziv Attar dan Tom Bishop, eks insinyur Apple pengembang Portrait Mode
  • Teknologi memakai neural networks untuk hasil foto lebih baik sejak shutter ditekan
  • OpenAI belum beri komentar resmi soal laporan akuisisi ini
  • Perkuat strategi perangkat keras OpenAI setelah akuisisi io milik Jony Ive senilai US$6,5 miliar

Telset.id – OpenAI resmi mengakuisisi pembuat kamera smartphone Glass Imaging dalam kesepakatan senilai lebih dari US$300 juta atau sekitar Rp4,8 triliun. Langkah ini menandai ekspansi agresif OpenAI ke perangkat keras, setelah sebelumnya dikabarkan tengah mengembangkan smartphone, earbuds, dan perangkat AI companion. Kabar akuisisi ini pertama kali dilaporkan The Wall Street Journal, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya.

Glass Imaging bukan perusahaan biasa. Perusahaan yang berbasis di Los Altos, California, ini didirikan pada 2019 oleh Ziv Attar dan Tom Bishop, dua mantan insinyur Apple yang sebelumnya memimpin tim pengembang Portrait Mode di iPhone. Sebelum diakuisisi, Glass Imaging telah mengumpulkan pendanaan sekitar US$30 juta dari sejumlah investor.

Teknologi yang dikembangkan Glass Imaging menjadi alasan utama di balik akuisisi ini. Alih-alih memakai AI untuk mengedit foto setelah gambar diambil, Glass Imaging menggunakan neural networks untuk mempelajari sistem kamera individual — termasuk perbedaan kamera di berbagai model smartphone — guna menghasilkan gambar yang lebih baik sejak tombol shutter ditekan. Pendekatan ini menjawab keterbatasan fisik ukuran kamera smartphone yang selama ini menjadi kendala utama.

OpenAI belum memberikan komentar resmi terkait laporan ini. Namun, jejak langkah perusahaan pembuat ChatGPT tersebut di ranah perangkat keras semakin terlihat. Pada 2025, CEO OpenAI Sam Altman dan desainer legendaris Apple Jony Ive mengungkapkan bahwa mereka bekerja sama dalam startup perangkat bernama io. OpenAI kemudian mengakuisisi perusahaan Ive tersebut dengan nilai US$6,5 miliar.

Kombinasi akuisisi Glass Imaging dan proyek io memperkuat sinyal bahwa OpenAI tidak lagi sekadar pemain perangkat lunak. Perusahaan ini bergerak menuju integrasi penuh antara model AI dan perangkat fisik yang akan dipakai konsumen sehari-hari. Bagi pengguna, artinya kualitas kamera smartphone berbasis AI bisa menjadi arena persaingan baru yang tidak lagi bergantung pada ukuran sensor semata.

Baca Juga:

Teknologi Kamera Berbasis Neural Network

Yang membedakan Glass Imaging dari pengembang kamera lain adalah cara mereka memakai kecerdasan buatan. Jika sebagian besar produsen smartphone mengandalkan AI untuk memperbaiki foto setelah proses pengambilan gambar, Glass Imaging justru menanamkan neural networks ke dalam proses akuisisi gambar itu sendiri. Sistem ini mempelajari karakteristik tiap kamera — mulai dari lensa, sensor, hingga pemrosesan sinyal — untuk menghasilkan gambar yang lebih tajam dan akurat sejak awal.

Pendekatan ini secara langsung menyasar keterbatasan fisik kamera smartphone. Lensa kecil pada ponsel membatasi jumlah cahaya yang bisa ditangkap, sehingga hasil foto sering kali kurang optimal di kondisi minim cahaya atau saat zoom. Dengan AI yang memahami perilaku tiap sistem kamera, Glass Imaging berupaya mengatasi batasan tersebut tanpa harus memperbesar ukuran modul kamera.

Latar belakang pendiri Glass Imaging memperkuat kredibilitas teknologi ini. Ziv Attar dan Tom Bishop bukan nama baru di industri fotografi komputasional. Keduanya pernah memimpin tim yang mengembangkan Portrait Mode di Apple, fitur yang mengubah cara pengguna smartphone memotret dengan efek bokeh. Pengalaman itu kini mereka bawa ke Glass Imaging untuk menghadirkan pendekatan baru dalam fotografi mobile.

Bagi OpenAI, akuisisi ini melengkapi strategi perangkat keras yang sedang dibangun. Perusahaan dilaporkan tengah menggarap sejumlah perangkat konsumen, termasuk smartphone, earbuds, dan AI companion devices. Kehadiran teknologi kamera Glass Imaging bisa menjadi fondasi penting bagi perangkat-perangkat tersebut, terutama jika OpenAI ingin bersaing di segmen yang selama ini dikuasai Apple dan Samsung.

Dampak bagi Pasar Smartphone dan Perangkat AI

Akuisisi senilai lebih dari US$300 juta ini menunjukkan keseriusan OpenAI dalam menguasai rantai nilai perangkat keras, bukan hanya model bahasa. Dengan menguasai teknologi kamera berbasis neural network, OpenAI berpotensi menghadirkan pengalaman visual yang berbeda pada perangkat buatannya nanti. Hal ini juga membuka peluang integrasi antara model AI multimodal milik OpenAI dan sistem kamera yang cerdas sejak tahap pengambilan gambar.

Langkah OpenAI ini juga menandai pergeseran lanskap kompetisi. Perusahaan yang sebelumnya dikenal lewat ChatGPT kini bersiap berhadapan langsung dengan pemain perangkat keras mapan. Akuisisi Glass Imaging menjadi sinyal bahwa OpenAI tidak ingin hanya menyediakan otak AI, tetapi juga tubuh fisik tempat AI itu bekerja.

Sejumlah isu tata kelola AI yang menyertai ekspansi OpenAI turut menjadi perhatian. Perusahaan ini pernah disorot klien besar soal penggunaan data untuk melatih model AI, serta terlibat perselisihan dengan Pentagon terkait batas penolakan AI militer. Ekspansi ke perangkat keras menambah lapisan baru dalam diskusi mengenai bagaimana AI seharusnya bekerja di perangkat konsumen sehari-hari.

Sampai berita ini diturunkan, OpenAI belum memberikan pernyataan resmi mengenai nilai dan detail akuisisi Glass Imaging. Namun, jejak akuisisi besar yang dilakukan OpenAI — termasuk pembelian io milik Jony Ive senilai US$6,5 miliar — menunjukkan pola yang konsisten: membangun ekosistem perangkat keras yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan.

Bagi industri smartphone, kehadiran OpenAI sebagai pemain baru melalui akuisisi Glass Imaging berpotensi mengubah standar kualitas kamera berbasis AI. Jika teknologi ini terbukti efektif, persaingan kamera smartphone tidak lagi hanya soal ukuran sensor atau jumlah lensa, tetapi juga seberapa pintar neural network yang bekerja di baliknya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.