📑 Daftar Isi

Ilustrasi logo OpenAI dengan latar belakang dokumen hukum dan percakapan ChatGPT

NYT Tuduh OpenAI Bohong Soal Kemampuan Cari Data Pelatihan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • NYT dan Daily News tuduh OpenAI bohong soal kemampuan cari data pelatihan
  • Deposisi ungkap OpenAI punya 78 juta chat log dan alat deteksi regurgitasi
  • OpenAI sebelumnya klaim tidak bisa mencari korpus pelatihannya sendiri
  • Penggugat minta sanksi karena OpenAI diduga sembunyikan bukti
  • OpenAI bantah tuduhan dan sebut NYT coba akses privasi pengguna

Telset.id – The New York Times (NYT) dan The Daily News menuduh OpenAI berbohong tentang kemampuannya mencari data chat log pelanggan dan dataset pelatihan untuk karya berhak cipta milik mereka. Tuduhan ini menjadi eskalasi terbaru dalam gugatan hukum yang sudah berlangsung dua tahun terhadap perusahaan AI tersebut.

Gugatan diajukan dengan tuduhan bahwa OpenAI melanggar hukum hak cipta dengan melatih model AI generatifnya menggunakan konten NYT dan mereproduksi jurnalisme tersebut dalam output pengguna. Sepanjang proses persidangan, OpenAI berdalih tidak memiliki kemampuan untuk mencari korpus pelatihannya sendiri. Perusahaan juga berargumen bahwa mencari atau memproduksi koleksi percakapan ChatGPT yang masif akan menjadi beban teknis dan menimbulkan masalah privasi pengguna karena log harus diambil, diproses, dan dianonimkan.

Pihak penggugat mencari data tersebut untuk menentukan apakah jurnalisme berhak cipta mereka ada dalam dataset pelatihan OpenAI, serta apakah dan seberapa sering ChatGPT menghasilkan respons yang menggunakan atau mereproduksi konten mereka.

Deposisi Ungkap Fakta Baru

Dalam deposisi yang diperintahkan pengadilan pada April lalu, insinyur data privasi OpenAI, Vinnie Monaco, diduga mengungkapkan bahwa OpenAI sebenarnya telah melakukan pencarian dan evaluasi internal terhadap korpus pelatihannya untuk mencari karya jurnalistik berhak cipta. Pengungkapan ini secara langsung bertentangan dengan pernyataan sebelumnya yang dibuat oleh OpenAI di pengadilan.

Deposisi Monaco juga mengungkapkan bahwa, bahkan sebelum NYT mengajukan gugatan, OpenAI telah mengumpulkan basis data sekitar 78 juta percakapan ChatGPT yang telah dianonimkan. Basis data ini digunakan secara internal untuk menentukan seberapa besar pelanggaran yang dilakukan perusahaan terhadap karya orang lain.

Selain itu, OpenAI diduga menerapkan filter “Bloom” sebagai bagian dari seperangkat alat bernama “Project Giraffe”. Alat ini mendeteksi dan mencatat regurgitasi dalam output, dan diterapkan tidak lama setelah gugatan diajukan. Dua pengungkapan terakhir ini dinilai sangat signifikan oleh para penggugat.

Proses Discovery yang Bermasalah

Para penggugat awalnya meminta OpenAI untuk menyediakan sampel 120 juta chat log. Namun, OpenAI bernegosiasi untuk menurunkan sampel menjadi hanya 20 juta log. OpenAI akhirnya menyerahkan sampel tersebut ke pengadilan pada Desember lalu, tetapi diduga menyertakan begitu banyak redaksi sehingga sampel tersebut menjadi “tidak dapat digunakan” menurut pengadilan.

Para penggugat juga mengklaim bahwa OpenAI menghapus miliaran output ChatGPT setelah mereka mengajukan gugatan, yang secara langsung melanggar perintah penyimpanan pengadilan. Perusahaan AI tersebut juga diduga mengganti jutaan log dalam sampel yang diminta. Dengan kata lain, mereka menuduh OpenAI sengaja mempersulit akses terhadap informasi yang sebenarnya sudah dikumpulkan perusahaan.

“Jika OpenAI benar-benar percaya bahwa menyalin jurnalisme klien kami adalah adil dan legal, mereka tidak akan menyembunyikan kebenaran tentang hal itu,” kata Ian B. Crosby, kuasa hukum utama para penggugat, dalam sebuah pernyataan.

Kami juga pernah membahas bagaimana Startup AI lainnya beroperasi di New York, memberikan gambaran tentang lanskap industri yang lebih luas.

Tuntutan ke Pengadilan

Saat ini, NYT dan The Daily News meminta hakim untuk memberikan sanksi kepada OpenAI karena diduga menyembunyikan bukti dan mengganggu proses discovery. Mereka meminta pengadilan untuk mencegah OpenAI menggunakan sampel 20 juta chat log sebagai bukti, dengan alasan sampel tersebut tidak dapat diandalkan. Penggugat juga meminta pengadilan untuk menerima sebagai fakta bahwa log ChatGPT akan menunjukkan regurgitasi besar-besaran dan penggunaan konten penggugat.

Selain itu, mereka meminta pengadilan untuk mencegah OpenAI berargumen bahwa chat log yang disediakan tidak menunjukkan regurgitasi substansial, serta meminta OpenAI membayar biaya hukum karena penggugat harus mengejar bukti ini.

Di sisi lain, juru bicara OpenAI, Drew Pusateri, membantah tuduhan tersebut. Ia menuduh NYT mencoba mengakses percakapan pribadi pengguna saat kasus mereka melemah. “Saat kasus NYT melemah dan mereka terpaksa mencabut klaim terhadap kami, mereka terus berupaya menginvasi privasi orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan kasus ini, termasuk dengan membuat tuduhan palsu yang mencolok ini,” kata Pusateri. “Kami akan terus membela privasi pengguna kami dan prinsip-prinsip fair use yang sudah lama mapan.”

Untuk memahami konteks lebih luas tentang regulasi di New York, Anda dapat membaca artikel tentang Sensor AI yang dipasang di kota tersebut.

Kasus ini menjadi sorotan penting dalam industri AI, terutama terkait transparansi perusahaan dalam menggunakan data untuk pelatihan model. Jika tuduhan terbukti benar, hal ini dapat menjadi preseden hukum yang signifikan bagi perusahaan AI lainnya. Seperti yang kita lihat dalam pemberitaan tentang Waymo, perusahaan teknologi sering menghadapi tantangan regulasi dan hukum di New York.

Implikasi dari kasus ini sangat luas, tidak hanya bagi OpenAI tetapi juga bagi seluruh ekosistem AI. Keputusan pengadilan nantinya dapat menentukan bagaimana perusahaan AI mengelola data pelatihan dan transparansi mereka di masa depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.