Fidji Simo, eksekutif nomor dua OpenAI yang mundur karena cuti medis

Fidji Simo Mundur, OpenAI Cari Suksesor Baru Jelang IPO

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Fidji Simo mundur dari posisi nomor dua di OpenAI dan beralih menjadi penasihat paruh waktu
  • Keputusan diambil karena cuti medis yang lebih panjang dan berat dari perkiraan akibat kondisi neuroimun
  • Sam Altman harus mencari suksesor baru jelang IPO OpenAI yang bernilai USD 852 miliar
  • Simo sebelumnya fokus mengembangkan bisnis konsumen, namun pertumbuhan ChatGPT melambat
  • OpenAI kehilangan sejumlah eksekutif termasuk CMO Kate Rouch dan CPO Kevin Weil
  • Perusahaan mengubah kebijakan ekuitas dengan menghilangkan vesting cliff untuk menarik talenta

Telset.id – OpenAI kembali kehilangan eksekutif puncaknya. Fidji Simo, nomor dua di perusahaan pengembang ChatGPT tersebut, memutuskan mundur dari peran penuh waktu dan beralih menjadi penasihat paruh waktu. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Simo dalam memo internal kepada staf pada Kamis (2026).

Langkah Fidji Simo ini menjadi pukulan telak bagi OpenAI yang tengah bersiap melantai di bursa (IPO). Ia selama ini dikenal sebagai eksekutif kunci yang dipercaya mengelola operasional bisnis dan produk perusahaan. “Cuti medis saya ternyata lebih panjang dan lebih berat dari yang diperkirakan,” tulis Simo dalam memo tersebut, seperti dilaporkan Wall Street Journal.

Simo bergabung dengan dewan direksi OpenAI pada 2024 dan resmi menjabat sebagai CEO of Applications pada Mei 2025. Posisi ini merupakan jabatan baru yang langsung bertanggung jawab kepada CEO Sam Altman. Dalam peran tersebut, ia mengonsolidasikan operasional bisnis dan produk perusahaan.

Restrukturisasi itu membuat sejumlah eksekutif senior melapor langsung ke Simo, termasuk COO Brad Lightcap, CFO Sarah Friar, dan CPO Kevin Weil. Sementara itu, Sam Altman mundur ke belakang untuk fokus pada riset, komputasi, dan keamanan. Kondisi ini sempat digambarkan dalam artikel Sam Altman Santai di OpenAI.

Masalah Kesehatan dan Gelombang Kepergian Eksekutif

Kepergian Simo bukanlah yang pertama. Sebelumnya, pada April 2026, ia pertama kali mengungkapkan masalah kesehatannya saat mengambil cuti medis karena kambuhnya kondisi neuroimun. Dalam memo yang sama, ia juga mengumumkan bahwa Brad Lightcap beralih ke peran “proyek khusus” dan CMO Kate Rouch meninggalkan perusahaan untuk fokus pada pemulihan kanker.

Tak berhenti di situ, Kevin Weil juga telah meninggalkan OpenAI. Gelombang kepergian eksekutif ini membuat jajaran manajemen puncak OpenAI tampak menipis untuk perusahaan yang kini memiliki valuasi mencapai USD 852 miliar.

Saat ini, selain Altman, jajaran eksekutif yang tersisa termasuk Brad Lightcap, Sarah Friar, dan Greg Brockman yang menjabat sebagai presiden serta mengawasi strategi produk. Brockman sebelumnya telah resmi ditunjuk untuk peran strategis tersebut, sebagaimana diberitakan dalam artikel Greg Brockman Resmi memimpin strategi produk.

Satu nama lain yang patut diperhatikan adalah Denise Dresser. Ia bergabung pada Desember 2025 sebagai chief revenue officer, mengawasi strategi pendapatan global di segmen enterprise dan customer success. Dresser sebelumnya menjabat CEO Slack selama dua tahun dan menghabiskan 14 tahun di perusahaan induk Slack, Salesforce. Analis memperkirakan Dresser bisa mengambil peran yang lebih luas mengingat pengalamannya.

Dampak pada Strategi Bisnis dan IPO

Kepergian Simo menjadi tantangan serius bagi Sam Altman yang kini harus mencari suksesor baru. Ia selama ini dipandang sebagai kandidat kuat untuk mengambil tanggung jawab lebih besar setelah OpenAI go public. “Ini benar-benar celah yang harus diisi,” tulis laporan Wall Street Journal.

Simo sendiri selama menjabat fokus mengembangkan bisnis konsumen OpenAI. Namun, pertumbuhan ChatGPT mulai melambat pada akhir tahun lalu dan bahkan meleset dari target pendapatan internal. Kondisi ini mendorong OpenAI untuk lebih mengandalkan alat coding, area di mana perusahaan masih tertinggal dari Anthropic.

Kabar ini muncul di saat OpenAI tengah menghadapi tahun yang penuh tantangan menjelang IPO, termasuk persaingan ketat dengan Anthropic di segmen enterprise. Perusahaan juga harus menutup kesenjangan pasar dengan kompetitornya.

Perubahan Kebijakan Ekuitas Karyawan

Kepergian Simo juga terjadi di tengah perubahan pendekatan OpenAI terhadap ekuitas karyawan. Pada April 2025, perusahaan memperpendek vesting cliff dari standar industri 12 bulan menjadi 6 bulan. Kemudian pada Desember 2025, OpenAI menghilangkan vesting cliff sama sekali, sehingga ekuitas mulai vested sejak hari pertama kerja.

Langkah ini, yang digambarkan Simo sebagai cara untuk membiarkan karyawan “mengambil risiko” tanpa takut kehilangan ekuitas jika dipecat lebih awal, mencerminkan betapa agresifnya OpenAI membelanjakan dana untuk mempertahankan staf. Perusahaan diproyeksikan menghabiskan USD 6 miliar untuk kompensasi berbasis saham pada 2025 saja.

Meski demikian, tak satu pun dari kepergian eksekutif yang disebutkan terkait dengan kompensasi. Ekuitas Simo sendiri telah melewati masa vesting cliff jauh sebelum kebijakan berubah.

Dengan mundurnya Fidji Simo, OpenAI kini harus bergerak cepat mencari pemimpin baru yang mampu mengelola pertumbuhan perusahaan sekaligus mempersiapkan diri menuju IPO. Tantangan ini semakin berat mengingat persaingan di industri AI kian memanas, terutama dengan hadirnya pemimpin baru untuk super app ChatGPT seperti Thibault Sottiaux yang ditunjuk OpenAI baru-baru ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.