Telset.id – Rencana ambisius Mark Zuckerberg membangun unit “Superintelligence” di Meta justru berujung pada krisis moral internal yang parah. Laporan dari Wired mengungkap bahwa moral karyawan di tim Applied AI, yang terdiri dari 6.500 staf dan dibentuk pada Maret lalu, kini berada di titik terendah akibat tugas-tugas yang dianggap “soul-crushing” atau menghancurkan jiwa.
Tiga karyawan yang berbicara secara anonim kepada Wired menggambarkan kondisi kerja yang suram. Mereka mengaku setiap pekan hanya diberi tugas-tugas busywork, seperti membuat teka-teki untuk menguji keandalan model AI Meta. “Ini benar-benar seperti gulag,” kata salah satu karyawan. “Kamu tiba-tiba tidak punya tujuan hidup, hampir tidak berinteraksi dengan siapa pun, hanya mengerjakan tugas-tugas ini setiap pekan.”
Ketegangan di internal Meta semakin memuncak. Dalam sebuah presentasi internal yang hanya dihadiri karyawan, seorang pekerja yang kecewa dikabarkan menyela jalannya acara. Ia menuduh seorang eksekutif AI Meta “menjadi budak perusahaan” dan mendorong rekan-rekannya untuk mengirim pesan kepadanya serta mengatakan “dia itu sampah.” Insiden ini menunjukkan betapa buruknya hubungan antara manajemen dan staf di tengah restrukturisasi besar-besaran.
Restrukturisasi yang berfokus pada AI ini telah menyebabkan ribuan karyawan dipecat, memaksa mereka yang tersisa untuk menanggung beban kerja tambahan. Situasi semakin tragis ketika seorang karyawan yang di-PHK langsung ditahan oleh agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) setelah pemecatan, sementara seruan rekan-rekannya kepada atasan tidak diindahkan. Peristiwa ini menambah daftar panjang krisis yang harus ditangani oleh Meta.
Sebagai bentuk perlawanan, lebih dari 1.600 karyawan telah menandatangani petisi yang menentang inisiatif baru yang dianggap sangat kejam. Inisiatif tersebut melibatkan pemasangan perangkat lunak di komputer kerja untuk melacak segala aktivitas karyawan, termasuk ketukan keyboard dan klik mouse. Data yang terkumpul kemudian akan digunakan untuk melatih AI. Langkah ini memicu kekhawatiran serius tentang privasi dan pengawasan di tempat kerja.
Di tengah kekacauan ini, Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, mencoba menenangkan staf melalui memo internal pada April lalu yang diperoleh Reuters. “Visi yang kami bangun adalah di mana agen kami terutama yang melakukan pekerjaan, dan peran kami adalah mengarahkan, meninjau, dan membantu mereka berkembang,” tulis Bosworth. Namun, pernyataan ini justru semakin memperkuat kekhawatiran karyawan bahwa mereka pada akhirnya akan digantikan oleh AI yang mereka kembangkan sendiri.
Masalah Meta tidak berhenti di situ. Perusahaan juga sedang berusaha keras mengendalikan krisis hubungan masyarakat terkait pengawasan lainnya. Wired melaporkan pekan lalu bahwa Meta diam-diam telah mengintegrasikan teknologi pengenalan wajah ke dalam kacamata pintarnya. Hal ini memicu kemarahan publik dan regulator, serta memperkuat citra perusahaan yang tidak peduli pada privasi pengguna.
Baca Juga:
Mark Zuckerberg sendiri akhirnya mengakui adanya “moral yang sangat rendah” di perusahaannya. Dalam sebuah memo pada Jumat lalu, ia mengakui bahwa “kami telah membuat kesalahan dan hampir pasti akan membuat lebih banyak lagi.” Ia berjanji untuk fokus memberikan stabilitas sebanyak mungkin ke depan. Namun, pengakuan ini datang di tengah skeptisisme tinggi dari para karyawan yang merasa dikhianati.
Zuckerberg juga berjanji bulan lalu bahwa gelombang PHK massal akan berhenti setidaknya selama tujuh bulan ke depan. Namun, upayanya untuk mengendalikan kekacauan ini dipertanyakan. Apakah janji stabilitas cukup untuk menyuntikkan semangat ke dalam divisi AI yang berada dalam kondisi katastropik? Banyak pihak meragukan efektivitasnya, terutama mengingat tugas AI yang soul-crushing terus berlanjut.
Dalam memo yang sama, Zuckerberg secara khusus membahas moral di tim Applied AI. Ia menyebut pekerjaan kasar (grunt work) yang dilakukan karyawan sebagai hal yang “kritis untuk memajukan model kami.” Pernyataan ini menunjukkan kesenjangan persepsi yang lebar antara manajemen puncak dengan staf di lapangan. Bagi para karyawan, pekerjaan itu bukanlah misi mulia, melainkan siksaan mingguan yang tak berarti.
Menariknya, publik di media sosial justru kesulitan untuk bersimpati pada nasib karyawan Meta. Seorang pengguna berkomentar, “Zuckerberg hanya bisa membangun spyware yang menghabiskan sumber daya negara karena mereka dengan sukarela mengambil uangnya. Sekarang tiba-tiba mereka merasa teraniaya karena sedikit tidak nyaman saat membangun kerajaan sampahnya? Ayolah.”
Komentar lain dari netizen menambahkan, “Jadi para karyawan ini baik-baik saja dengan menciptakan AI yang menghancurkan jiwa yang akan dipaksakan pada pekerja lain di perusahaan lain atau yang akan mengambil pekerjaan mereka, selama mereka merasa pekerjaan itu menantang?” Sentimen publik ini mencerminkan ironi di mana para pembangun teknologi disruptif justru mengeluhkan dampak disruptif dari pekerjaan mereka sendiri.
Krisis di Meta ini terjadi di tengah persaingan AI yang semakin ketat. Perusahaan seperti OpenAI, Google, dan Microsoft terus berlomba mengembangkan model AI yang lebih canggih. Sementara itu, Meta justru bergulat dengan masalah internal yang menggerogoti produktivitas dan inovasi. Jika tidak segera diatasi, ambisi Zuckerberg untuk menciptakan “Superintelligence” bisa menjadi bumerang yang menghancurkan perusahaannya sendiri.
Kasus ini juga menjadi pelajaran berharga bagi industri teknologi secara luas. Budaya kerja yang toksik, PHK massal yang brutal, dan pengawasan ketat terhadap karyawan bukanlah resep untuk menciptakan inovasi. Sebaliknya, hal itu justru memicu resistensi, menurunkan moral, dan pada akhirnya menghambat kemajuan. Meta kini harus menghadapi konsekuensi dari keputusan-keputusan kontroversial yang diambilnya.
Ke depan, Meta perlu melakukan introspeksi mendalam. Apakah perusahaan akan terus memaksakan visi Zuckerberg tanpa memedulikan kesejahteraan karyawan? Ataukah akan ada perubahan fundamental dalam pendekatan manajemen? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah Meta bisa bangkit dari krisis atau justru tenggelam lebih dalam dalam pusaran masalah yang diciptakannya sendiri.
Dengan berbagai tekanan yang ada, mulai dari PHK massal, pengawasan karyawan, integrasi pengenalan wajah, hingga tekanan regulasi dari Uni Eropa, masa depan divisi AI Meta tampak suram. Zuckerberg mungkin memiliki visi besar, tetapi tanpa dukungan dan semangat dari timnya, visi itu hanya akan tinggal angan-angan.





Komentar
Belum ada komentar.