📑 Daftar Isi

Ilustrasi kacamata pintar Meta Ray-Ban dengan teknologi pengenalan wajah dari Rank One Computing

Meta Terkait Perusahaan Pengintai untuk Smart Glasses

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • Meta memiliki lisensi rahasia dengan Rank One Computing untuk teknologi pengenalan wajah di kacamata pintar Ray-Ban dan Oakley.
  • Rank One Computing adalah perusahaan penginderaan wajah yang 80% pendapatannya dari klien pemerintah AS, termasuk US Marshals Service dan FBI.
  • Teknologi Rank One mampu mengenali wajah dari jarak 1 km dan mendeteksi liveness untuk mencegah spoofing.
  • Meta mengklaim sistem pengenalan wajah tidak pernah aktif untuk pengguna dan telah dihapus pada 5 Juni.
  • Algoritma Rank One memiliki bias demografis dengan tingkat kesalahan lebih tinggi pada wanita dan orang non-Eropa Timur.
  • Regulasi pengenalan wajah di AS masih longgar, menimbulkan risiko penyalahgunaan yang signifikan.

Telset.id – Meta diam-diam menjalin hubungan bisnis dengan Rank One Computing, perusahaan penginderaan wajah yang 80 persen pendapatannya berasal dari klien pemerintah AS. Lisensi tersebut, yang terungkap dalam dokumen yang diperoleh WIRED, memungkinkan Meta menggunakan teknologi pengenalan wajah dan deteksi liveness dari Rank One untuk kacamata pintar Ray-Ban dan Oakley miliknya. Fakta ini menimbulkan pertanyaan serius tentang batas antara teknologi konsumen dan pengawasan.

Rank One Computing bukanlah pemain baru di dunia pengawasan. Perusahaan yang berbasis di Denver ini telah memasok teknologi pengenalan wajah ke US Marshals Service untuk mengidentifikasi tahanan tanpa sidik jari saat transportasi, serta ke Naval Criminal Investigative Service. Teknologi mereka bahkan mampu mengenali wajah dari jarak satu kilometer, hasil pengembangan untuk US Special Operations Command. Tidak mengherankan jika kepemimpinan Rank One berasal dari jajaran senior penegak hukum dan intelijen, termasuk mantan kepala divisi biometrik FBI dan mantan wakil direktur CIA.

Lisensi yang diperoleh Meta tidak hanya mencakup pengenalan wajah, tetapi juga deteksi liveness untuk memastikan kamera melihat wajah asli, bukan foto atau topeng. Dengan kapasitas hingga 10 juta template wajah, lisensi ini tetap aktif. Kode yang ditinjau oleh WIRED menunjukkan bahwa sisa-sisa integrasi Rank One masih ada dalam versi aplikasi Meta AI yang dikirimkan ke jutaan konsumen pada bulan ini, meskipun dalam keadaan tidak aktif.

Meta mengklaim tidak pernah mengaktifkan sistem pengenalan wajah untuk pengguna kacamata pintarnya. Perusahaan bahkan menghapusnya sepenuhnya dari aplikasi pada 5 Juni, sehari setelah WIRED mengungkap sistem internal bernama NameTag yang dibangun secara diam-diam. Sistem ini terpasang di Meta AI App yang telah diunduh ke lebih dari 50 juta ponsel. Meski demikian, keberadaan teknologi Rank One dalam ekosistem Meta menimbulkan kekhawatiran tentang arah pengembangan produk konsumen.

Hubungan antara Meta dan Rank One masih diselimuti misteri. Meta menolak menjawab pertanyaan WIRED tentang kapan hubungan ini dimulai, alasan di balik lisensi, atau apakah kerja sama masih berlangsung. Rank One juga menolak berkomentar. Sikap tertutup ini justru memperkuat kekhawatiran tentang niat Meta dalam mengintegrasikan teknologi pengawasan ke produk konsumen.

Teknologi Pengintai di Tangan Konsumen

Rank One Computing didirikan pada 2015 oleh para insinyur yang sebelumnya membangun sistem pengenalan wajah di Noblis, lembaga riset nirlaba yang bekerja untuk badan intelijen AS. Perusahaan ini go public di Nasdaq pada Februari lalu. Dengan klien seperti US Marshals Service, sekolah-sekolah di West Virginia yang menggunakan perangkat lunak untuk memindai wajah terhadap database pelanggar seks, serta platform LexisNexis Lumen, Rank One jelas memiliki rekam jejak yang kuat di dunia pengawasan.

Fakta bahwa perusahaan ini juga memasok teknologi ke DataWorks Plus dan LexisNexis menunjukkan betapa luasnya jangkauan algoritma mereka. Polisi di seluruh AS menggunakan teknologi Rank One yang tertanam dalam produk vendor lain. Ini berarti, secara tidak langsung, Meta memiliki akses ke teknologi yang sama dengan yang digunakan oleh aparat penegak hukum.

Joseph Jerome, mantan pejabat kebijakan Meta Reality Labs, mengatakan ada sejarah panjang teknologi militer menjadi produk konsumen. “Itu bisa dibilang adalah cerita internet,” ujarnya. Namun, pernyataan ini tidak serta merta meredakan kekhawatiran tentang implikasi privasi dan etika. Sebaliknya, ini justru menegaskan pola yang berulang: teknologi yang awalnya dirancang untuk pengawasan, perlahan merembes ke pasar massal.

Masalah Akurasi dan Regulasi

Seperti sistem pengenalan wajah lainnya, teknologi Rank One tidak bekerja secara merata di semua kelompok demografis. Dalam pengujian oleh National Institute of Standards and Technology (NIST), versi algoritma Rank One menghasilkan tingkat kesalahan yang sangat bervariasi tergantung pada jenis kelamin dan negara kelahiran seseorang, yang digunakan NIST sebagai proksi untuk ras. Tingkat kesalahan terendah terjadi pada orang yang lahir di Eropa Timur, sementara tingkat kesalahan cenderung lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria.

Temuan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang bias algoritma. Jika Meta benar-benar mengintegrasikan teknologi ini ke produk konsumen, risiko diskriminasi dan kesalahan identifikasi bisa sangat besar. Bayangkan seorang wanita keturunan Asia Tenggara yang salah diidentifikasi sebagai penjahat karena algoritma yang bias. Ini bukan sekadar skenario fiksi ilmiah, melainkan konsekuensi nyata dari teknologi yang tidak sempurna.

Di AS, regulasi tentang pengenalan wajah masih longgar. Banyak negara bagian mewajibkan polisi untuk mendapatkan surat perintah sebelum mengakses data tersebut, dan semakin banyak negara bagian yang memasukkan perlindungan biometrik ke dalam undang-undang privasi konsumen umum mereka setiap tahun, kata Eric Null, direktur Privacy and Data Project di Center for Democracy and Technology. Namun, aturan ini belum mencakup produk konsumen secara memadai.

“Perusahaan yang berhadapan dengan konsumen jelas mendambakan akses ke teknologi pengenalan wajah yang canggih,” kata Null. “Dan tanpa pengawasan yang tepat, risiko teknologi ini menjadi produk konsumen yang umum sangat signifikan dan sebagian besar tidak terbatas.” Pernyataan ini menjadi peringatan keras bagi regulator dan publik.

Kekhawatiran tentang arah pengembangan produk Meta juga muncul dari isu internal perusahaan. Karyawan Meta Protes terkait tugas AI yang dianggap menguras jiwa, sementara yang lain memprotes hackathon AI di tengah PHK massal. Ketegangan internal ini bisa mempengaruhi keputusan strategis perusahaan ke depan.

Implikasi dari hubungan Meta dengan Rank One sangat luas. Jika Meta benar-benar mengintegrasikan teknologi pengenalan wajah ke kacamata pintar, maka miliaran orang di seluruh dunia bisa dipindai tanpa sepengetahuan mereka. Bayangkan berjalan di jalan, dan kacamata seseorang secara otomatis mengidentifikasi Anda, menampilkan data pribadi Anda, atau bahkan melaporkan lokasi Anda ke database tertentu. Ini bukan lagi skenario dystopian, melainkan kemungkinan yang sangat nyata.

Keberadaan teknologi Rank One dalam aplikasi Meta AI, meskipun tidak aktif, menunjukkan bahwa infrastruktur untuk pengenalan wajah massal sudah siap. Yang hilang hanyalah “saklar” yang akan mengaktifkannya. Dan dengan sikap Meta yang tertutup, publik tidak tahu kapan saklar itu akan dinyalakan.

Rank One sendiri memiliki kepemimpinan yang sangat dekat dengan aparat keamanan. CEO-nya, B. Scott Swann, sebelumnya mengepalai divisi FBI yang mengoperasikan database biometrik biro tersebut. Dewan direksinya mencakup mantan wakil direktur CIA untuk sains dan teknologi, mantan kepala cabang sains dan teknologi FBI, dan mantan pejabat Pentagon yang mendirikan kantor kemampuan khusus senilai miliaran dolar. Ini bukanlah perusahaan yang asing dengan dunia intelijen dan pengawasan.

Kolaborasi antara Meta dan Rank One juga menunjukkan bagaimana garis antara teknologi militer, penegakan hukum, dan konsumen semakin tipis. Perusahaan yang sama, dan algoritma yang sama, kini melayani kedua sisi. Ini adalah realitas baru yang harus dihadapi oleh regulator dan masyarakat.

Kekhawatiran tentang privasi dan keamanan data juga muncul di benua lain. EU Paksa Meta untuk membuka WhatsApp bagi chatbot AI pesaing, menunjukkan bahwa regulator Eropa sangat serius dalam mengawasi praktik Meta. Langkah serupa mungkin diperlukan untuk mengatur penggunaan teknologi pengenalan wajah.

Meta harus lebih transparan tentang rencananya dengan teknologi Rank One. Publik berhak tahu apakah data wajah mereka akan digunakan, bagaimana cara melindunginya, dan apa yang akan terjadi jika terjadi pelanggaran keamanan. Tanpa transparansi, kepercayaan publik akan terus terkikis.

Pada akhirnya, kasus ini adalah pengingat bahwa teknologi yang kita gunakan setiap hari bisa memiliki akar yang dalam di dunia pengawasan. Kacamata pintar yang tampak tidak berbahaya bisa menjadi alat pengawasan yang sangat kuat. Dan tanpa regulasi yang ketat, risiko penyalahgunaan sangat besar.

Kita semua harus lebih waspada dan kritis terhadap produk teknologi yang kita gunakan. Jangan biarkan kenyamanan dan kepraktisan mengalahkan hak kita atas privasi. Masa depan pengawasan massal mungkin sudah dimulai, dan kita harus siap menghadapinya.

Komentar

Belum ada komentar.