Telset.id – Industri streaming musik sedang berada di titik perubahan besar. Di tengah dominasi layanan streaming konvensional dan ancaman AI yang semakin nyata, muncul sebuah pendekatan baru dari sosok yang pernah berada di jantung industri ini. Mauhan M. Zonoozy, mantan Head of Innovation di Spotify, kini tengah membangun visi berbeda untuk masa depan musik melalui label perangkat lunaknya, A Vinyl Bar in Shibuya.
Zonoozy meninggalkan Spotify pada 2023 dan sejak itu mendirikan A Vinyl Bar in Shibuya, sebuah label rekaman sekaligus studio produksi yang merilis aplikasi musik interaktif seperti jetset.fm dan Stacks. Konsepnya unik: label ini memperlakukan aplikasi musik layaknya rilisan album, menciptakan “taman bermain musik digital” yang mengajak pengguna berpartisipasi aktif, bukan sekadar menekan tombol play.

## Musik adalah Kata Kerja
Misi Zonoozy sederhana namun mendalam: “memberdayakan lebih banyak orang untuk mengekspresikan diri mereka dengan musik”. Ia percaya bahwa platform musik besar berikutnya harus memberi pengguna sesuatu untuk dilakukan dengan musik, bukan hanya mendengarkannya.
“Streaming memang membuat musik jauh lebih mudah diakses, tapi interaksi dominannya masih sekadar menyortir folder dan menekan play,” ujar Zonoozy. “Ada satu generasi yang tumbuh bermain dengan musik melalui berbagai medium dan perangkat. Hubungan mereka dengan segala sesuatu terasa jauh lebih interaktif.”
Keyakinan ini lahir dari pengalamannya bertahun-tahun di Spotify. Meski mengaku mencintai perusahaan tersebut, Zonoozy merasa ada yang hilang: interaksi. Ia melihat celah antara aksesibilitas yang ditawarkan streaming dengan kebutuhan pengguna untuk terlibat aktif dengan musik.
## Bop: DJ Saku untuk Semua Orang
Proyek terbaru Zonoozy adalah Bop, sebuah aplikasi DJ saku yang saat ini masih dalam tahap beta. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk mencampur, mengacak, dan bermain-main dengan musik. Antarmukanya menyerupai workstation MPC, memungkinkan pengguna membuat remix lagu populer dengan menyeret dan meletakkan efek serta suara ke grid yang tersedia.

“Kami tidak berusaha menggantikan proses kreatif,” tegas Zonoozy. “Kami lebih fokus membangun instrumen dan cara baru untuk mengekspresikan diri.”
Meski alat serupa sebenarnya sudah ada — Spotify sendiri memiliki fitur mixing ala DJ — Zonoozy yakin masih ada ruang untuk layanan musik yang berfokus pada ekspresi pengguna. Ia melihat adanya kerinduan akan ekspresi kreatif dalam platform musik.
“Ada kerinduan akan ekspresi kreatif di platform musik,” katanya. “Mendengarkan musik sesuai cara seniman menciptakannya memang bagian besar, tapi memiliki Lego yang bisa dimainkan dan berinteraksi juga sangat penting.”
## Platform Lebih Besar di Depan Mata
Pertanyaan besarnya: apakah semua eksperimen ini akan mengarah pada platform musik yang lebih besar? Jawaban Zonoozy tegas: “Ada platform lebih besar di ujung terowongan, pasti. A Vinyl Bar in Shibuya sedang aktif membangunnya. Saya rasa platform itu tidak akan terlihat atau terasa seperti platform streaming yang pernah Anda lihat sebelumnya.”

Lalu bagaimana platform ini akan bersaing dengan pemain besar streaming musik? Zonoozy punya jawaban: “Kami percaya platform ini akan lebih partisipatif. Kami tidak membangun sesuatu yang menempatkan musik di latar belakang, kami ingin menempatkannya di latar depan.”
Petunjuknya sudah terlihat dari produk-produk yang ada. Zonoozy ingin menciptakan sesuatu yang lebih menyenangkan dan mudah didekati. “Saya rasa tidak ada yang akan menuduh kami membangun DSP (Digital Service Provider),” candanya.
Menariknya, Zonoozy mengambil banyak inspirasi dari industri game. Ia percaya bahwa media interaktif selalu selangkah lebih maju dalam mengeksplorasi batas-batas kreatif teknologi.
“Keyakinan pribadi saya, banyak petunjuk tentang arah media berasal dari dunia game,” ungkapnya. “Media interaktif selalu sedikit lebih maju dalam hal film dan musik karena lebih dekat dengan teknologi.”
## Sikap Terhadap AI
Ketika ditanya tentang AI, Zonoozy awalnya bercanda: “Yang saya suka dari AI? Ejaannya mudah.” Namun di balik candaan itu, ia memiliki pandangan yang seimbang tentang teknologi ini.
Zonoozy mengakui bahwa sulit membayangkan produk yang sepenuhnya bebas dari sentuhan AI. Namun ia percaya akan ada produk yang tidak sepenuhnya digerakkan oleh media generatif.

“AI adalah teknologi yang memungkinkan bagi kami, hanya saja bukan proposisi konsumen kami,” jelasnya. “Shibuya tidak membangun LLM atau meminta orang untuk memicu musik dan menunggu lagu selesai. Tapi kami menggunakannya sebagai co-pilot untuk coding dan pengembangan.”
Yang menarik, semua stem musik di layanan mereka diproduksi secara manual. “Saya tidak anti-AI. AI adalah infrastruktur luar biasa yang kuat untuk masa depan,” katanya. “Saya optimis teknologi dalam hal ini, AI akan menghasilkan penemuan dan kemajuan luar biasa. Tapi AI bukan tesis produk kami.”
Mengenai masa depan streaming secara spesifik, Zonoozy mengaku tidak tahu pasti. “Tingkat personalisasi ekstrem hingga konten khusus yang dibuat untuk Anda — saya tidak tahu di mana garis itu berakhir. Apakah itu dipersonalisasi, atau dibuat untuk Anda?”
Baca Juga:
## Visi Konservasi dan Inovasi
Di balik ambisinya membangun platform baru, Zonoozy ternyata memiliki kepedulian besar terhadap kelestarian industri musik. Ia menyadari bahwa perkembangan teknologi membawa tanggung jawab bagi semua yang bekerja di industri musik dan teknologi untuk menemukan cara yang mendukung industri, komunitas, dan yang terpenting, bentuk seni itu sendiri.
“Ada banyak hal baru dan keren yang bisa dilakukan dengan komputer yang semakin kuat di saku kita,” katanya. “Ini tanggung jawab kita semua yang bekerja di musik dan teknologi untuk mencari cara melakukannya yang mendukung industri, komunitas, dan lebih dari segalanya, bentuk seni.”
Zonoozy juga menyinggung salah satu layanan uniknya, borrowmyipod.com, yang memungkinkan pengguna mengkustomisasi iPod klasik dan memasukkan tautan playlist Spotify dan Apple Music mereka. Ini menunjukkan pendekatan nostalgis namun inovatif yang menjadi ciri khas A Vinyl Bar in Shibuya.
Dengan tim kecil yang terdiri dari “creative technologists”, Zonoozy telah merilis sejumlah platform musik interaktif di web dan mobile dalam waktu singkat. Namun baginya, ini baru permulaan. Visinya jelas: membangun komunitas pengguna yang lebih besar di sekitar platform musik yang lebih partisipatif.
“Langkah berikutnya dalam perjalanan kami adalah mengemas semua ini menjadi sesuatu yang berskala platform, dan kami benar-benar bisa menerapkannya serta membangun komunitas pengguna dan penggemar yang lebih besar di sekitarnya,” pungkasnya.
Industri streaming musik memang sedang berada di persimpangan. Di satu sisi, AI mengancam model bisnis yang ada. Di sisi lain, pengguna mulai jenuh dengan model “sortir folder dan tekan play”. Zonoozy menawarkan jalan tengah: musik sebagai pengalaman partisipatif, bukan sekadar komoditas konsumsi. Pertanyaannya sekarang, akankah visi ini mampu menggeser dominasi pemain besar yang sudah mapan? Waktu yang akan menjawab.





Komentar
Belum ada komentar.