Telset.id – CEO Microsoft Satya Nadella melontarkan kritik tajam terhadap sesama eksekutif teknologi atas cara mereka mempromosikan kecerdasan buatan (AI) yang dinilai terlalu jujur soal dampaknya terhadap masyarakat. Dalam wawancara dengan Wall Street Journal, Nadella menyoroti retorika yang membangun gelembung finansial AI.
Nadella menegaskan bahwa para eksekutif tidak bisa seenaknya menyatakan bahwa semua pekerjaan kerah putih akan hilang dan AI bisa menjadi senjata, sambil terus membangun pusat data besar-besaran. Ia secara spesifik merujuk pada klaim dari CEO OpenAI Sam Altman hingga CEO xAI Elon Musk yang kerap mempromosikan narasi akhir dari pekerjaan kantor.
Nadella Kritik Narasi PHK Massal AI
Alih-alih bersemangat mengumumkan PHK massal yang didorong AI, Nadella justru mendorong pendekatan yang memikirkan pekerja biasa. “Tidak, bagaimana kalau kita pikirkan tentang mengatur ulang pekerjaan?” ujar Nadella kepada WSJ. Kritik ini menjadi menarik karena Microsoft sendiri memiliki CEO AI, Mustafa Suleyman, yang baru-baru ini mengklaim AI akan segera melakukan sebagian besar ‘tugas profesional’.
Pendekatan PR Microsoft pun semakin bernuansa kemanusiaan. Tahun lalu, perusahaan mengambil langkah tak biasa dengan mengakhiri kontrak tertentu dengan Kementerian Pertahanan Israel, dengan alasan kekhawatiran penggunaan teknologi Microsoft dalam perang di Gaza. Langkah ini terjadi setelah Nadella sendiri yang memelopori kemitraan militer tersebut pada 2021.
Kepala cabang Microsoft di Israel bahkan dipaksa mundur pada Mei lalu setelah menghadapi pengawasan internal atas urusan bisnis dengan pejabat militer. Pergeseran etis dari pimpinan perusahaan ini sebagian besar didorong oleh tekanan dari pekerja tingkat bawah yang menekan eksekutif untuk membatalkan kontrak militer.
Baca Juga:
Etika AI dan Tekanan Pekerja
Pergeseran etis dari pimpinan Microsoft mengikuti jejak Anthropic, perusahaan AI di balik Claude. Awal tahun ini, Anthropic memenangkan hati publik lewat perseteruan dengan pemerintahan Trump yang membuat mereka tampil sebagai ‘pilihan etis’ bagi pengguna AI. Namun, hal itu ternyata hanya pencitraan belaka, karena kemudian terungkap bahwa militer AS telah menggunakan Claude untuk memilih target pengeboman dalam perang melawan Iran.
Pendekatan Microsoft mengikuti pola yang sama. Jika Nadella benar-benar peduli dengan dampak AI terhadap pekerja, ia memiliki kekuatan untuk mengendalikan upaya perusahaannya. Namun, yang dilakukannya hanyalah mengambil pendekatan pragmatis dalam hubungan masyarakat.
Seperti yang dikatakan Nadella sendiri: “Kami sekarang harus melakukan kerja keras untuk mendapatkan izin sosial.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa kritik Nadella lebih merupakan strategi PR daripada perubahan kebijakan fundamental.
Dalam konteks industri yang lebih luas, Review HyperX Cloud III menunjukkan bagaimana teknologi terus berkembang di berbagai sektor, sementara perdebatan etis AI masih terus bergulir.
Sementara itu, CMF Watch 3 Pro hadir sebagai contoh lain dari inovasi teknologi yang terus berlanjut di tengah hiruk-pikuk wacana AI.
Kritik Nadella ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran publik tentang dampak AI terhadap lapangan kerja dan masyarakat secara luas. Meskipun retorika para eksekutif teknologi mulai berubah, implementasi nyata dari perubahan tersebut masih perlu dibuktikan.





Komentar
Belum ada komentar.