📑 Daftar Isi

Ilustrasi ponsel dengan latar pink menampilkan aplikasi ChatGPT berdampingan dengan foto Scarlett Johansson

Kontroversi Suara Sky OpenAI dan Kasus Scarlett Johansson

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • OpenAI menggunakan suara mirip Scarlett Johansson untuk asisten suara Sky tanpa izin
  • Sam Altman sempat meminta izin namun ditolak oleh aktris tersebut
  • Johansson mengungkapkan kemarahan dan keterkejutannya dalam pernyataan resmi
  • OpenAI menarik suara Sky setelah menerima dua surat dari penasihat hukum Johansson
  • Kasus ini menimbulkan kekhawatiran tentang etika AI dan perlindungan hak suara
  • Insiden menjadi preseden penting bagi regulasi penggunaan suara dalam produk AI
  • Film 'Her' menjadi inspirasi dan konteks penting dalam kasus ini
  • Industri teknologi dan hiburan perlu merumuskan pedoman penggunaan suara AI

Telset.id – Kontroversi penggunaan suara mirip Scarlett Johansson oleh OpenAI untuk asisten suara ‘Sky’ menjadi sorotan besar di industri teknologi. Kejadian ini memicu pertanyaan serius tentang etika AI dalam meniru identitas seseorang, terutama setelah aktris tersebut secara tegas menolak memberikan izin penggunaannya.

Kasus ini bermula ketika Sam Altman, CEO OpenAI, menghubungi agen Scarlett Johansson untuk meminta izin menggunakan suaranya dalam pemasaran GPT-4 yang direncanakan rilis pada 2024. Johansson menolak tawaran tersebut, namun OpenAI tetap meluncurkan suara ‘Sky’ yang disebut hampir tidak bisa dibedakan dari suara aktris tersebut oleh teman dekat dan media.

Dalam pernyataannya pada Mei 2024, Scarlett Johansson mengungkapkan keterkejutannya. “Ketika saya mendengar demo yang dirilis, saya terkejut, marah, dan tidak percaya bahwa Tuan Altman akan menggunakan suara yang sangat mirip dengan suara saya sehingga teman-teman dekat dan media tidak bisa membedakannya,” ujarnya.

Konteks Film Her dan Hubungan dengan OpenAI

Kontroversi ini memiliki latar belakang yang menarik. Film ‘Her’ yang dibintangi Joaquin Phoenix dan Scarlett Johansson sebagai AI bernama Samantha, menjadi salah satu karya fiksi yang dianggap akurat menggambarkan hubungan manusia dan AI. Film tersebut dirilis sepuluh tahun sebelum insiden ini terjadi dan dianggap sebagai pendekatan yang dewasa terhadap kemungkinan hidup berdampingan antara manusia dan AI di masa depan.

Altman sebelumnya pernah menyebut bahwa film ‘Her’ menjadi salah satu inspirasi dalam pengembangan teknologi OpenAI. Ketika Johansson menolak tawaran tersebut, Altman tetap melanjutkan dengan suara ‘Sky’ yang nyaris identik, yang secara implisit menunjukkan bahwa teknologi yang diciptakan OpenAI setara dengan teknologi fiksi dalam film tersebut.

Johansson sebenarnya sempat mempertimbangkan tawaran Altman. Altman mengatakan bahwa suaranya “bisa menjembatani kesenjangan antara perusahaan teknologi dan kreator” serta “membantu konsumen merasa nyaman dengan perubahan besar mengenai manusia dan AI”. Namun setelah penolakan, OpenAI tetap meluncurkan suara yang kontroversial tersebut.

Perlu dicatat bahwa perkembangan AI yang semakin pesat memang menimbulkan berbagai kekhawatiran baru. Seperti yang dibahas dalam Studi AI Terbaru, kemampuan AI untuk berkembang secara mandiri masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti.

Dampak dan Tindak Lanjut Hukum

Scarlett Johansson kemudian mempekerjakan penasihat hukum dan mengirimkan dua surat kepada OpenAI. Setelah dua surat tersebut, OpenAI akhirnya setuju untuk menarik suara ‘Sky’. Keputusan ini diambil setelah tekanan hukum dan publik yang cukup besar.

Insiden ini menimbulkan kekhawatiran mendalam tentang potensi awal AI untuk menggantikan kemiripan aktor, yang bisa merusak karier dan mata pencaharian mereka. Kasus ini juga menjadi pengingat gelap bahwa deepfake semakin mudah dibuat, dan bukan hanya pengguna berbahaya, tetapi juga perusahaan AI dan eksekutif yang bisa dengan berani mengambil identitas orang lain untuk kepentingan mereka sendiri.

Kejadian ini menunjukkan bahwa regulasi dan etika dalam pengembangan AI masih perlu diperkuat. Industri hiburan dan teknologi harus bekerja sama untuk memastikan bahwa hak-hak kreator dan individu dilindungi dari penyalahgunaan teknologi yang semakin canggih.

Kontroversi ini juga membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana perusahaan teknologi memperlakukan hak suara dan identitas seseorang dalam pengembangan produk AI mereka. Kasus ini menjadi preseden penting bagi industri untuk lebih memperhatikan aspek persetujuan dan hak kekayaan intelektual dalam pengembangan teknologi suara AI.

Bagi para pengguna dan pelaku industri, kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya transparansi dan etika dalam pengembangan teknologi AI. Perusahaan teknologi perlu memastikan bahwa mereka tidak hanya fokus pada inovasi, tetapi juga menghormati hak-hak individu yang karyanya mungkin digunakan sebagai referensi atau inspirasi dalam pengembangan produk mereka.

Meskipun OpenAI telah menarik suara ‘Sky’, pertanyaan tentang bagaimana perusahaan AI lainnya akan memperlakukan hak suara dan identitas seseorang di masa depan tetap menjadi perhatian utama. Industri teknologi dan hiburan perlu duduk bersama untuk merumuskan pedoman yang jelas tentang penggunaan suara dan kemiripan seseorang dalam pengembangan produk AI.

[IMAGE]
A phone on a pink background showing the ChatGPT app next to a photo of Scarlett Johansson

Kasus suara ‘Sky’ ini menunjukkan bahwa teknologi AI yang semakin maju juga membawa tantangan etika yang kompleks. Perusahaan seperti OpenAI perlu lebih berhati-hati dalam mengembangkan produk yang menggunakan suara atau kemiripan seseorang, terutama tanpa persetujuan yang jelas dari individu yang bersangkutan.

Ke depannya, diharapkan akan ada regulasi yang lebih ketat tentang penggunaan teknologi suara AI. Industri kreatif dan teknologi harus menemukan keseimbangan antara inovasi dan perlindungan hak-hak individu, agar kasus serupa tidak terulang di masa depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.