Ilustrasi kekacauan internal di perusahaan AI milik Elon Musk, xAI, dengan latar belakang logo perusahaan.

Kekacauan di Internal xAI: 11 Cofounder Hengkang, IPO Makin Dekat

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • xAI, perusahaan AI Elon Musk, alami kekacauan internal parah dengan 11 cofounder hengkang.
  • Obsesi Musk menyamai Claude Anthropic jadi sumber masalah, banyak proyek dan saluran Slack dinamai Claude.
  • PHK massal kacau, karyawan dipecat tanpa pemberitahuan, rekrutmen terhambat SDM minim.
  • Keraguan terhadap kepemimpinan Musk muncul, karyawan nilai Musk tak paham AI.
  • Kontroversi Grok hasilkan gambar nonkonsensual dan janji bayar SPT pajak tak ditepati.
  • xAI jual daya komputasi ke Anthropic dan Google, dianggap tanda menyerah kalah dari rival.

Telset.id – Perusahaan AI milik Elon Musk, xAI, tengah dilanda kekacauan internal yang parah. Sebelas cofounder perusahaan telah hengkang, sementara persiapan IPO SpaceX yang baru merger dengan xAI semakin mendekat. Kondisi ini memicu keraguan besar terhadap kepemimpinan Musk di dunia kecerdasan buatan.

Menurut laporan Bloomberg, situasi di xAI sangat tegang. Perusahaan terus berusaha mengejar ketertinggalan dari rival utamanya, Anthropic. Obsesi pribadi Elon Musk membuat chatbot Grok harus setara dengan Claude milik Anthropic menjadi sumber utama masalah. Setiap kali Claude mendapatkan pembaruan, Musk langsung menuntut Grok untuk bisa menandinginya. Banyak proyek di xAI yang merujuk pada Claude, bahkan beberapa nama saluran Slack dinamai sesuai dengan chatbot rival tersebut.

“Tujuan jangka pendek kami adalah menyamai performa Claude,” tulis Michael Nicolls dalam memo kepada staf setelah diangkat menjadi presiden xAI, seperti dikutip Bloomberg. Pernyataan ini secara eksplisit menunjukkan bahwa mengejar Anthropic adalah misi utama perusahaan.

Kekacauan semakin menjadi setelah merger xAI dengan SpaceX. Aksi korporasi ini, yang diikuti dengan rencana IPO SpaceX yang bersejarah, menyebabkan puluhan karyawan memilih keluar. Operasi harian perusahaan menjadi kacau. Untuk merapikan keadaan, Musk menunjuk Michael Nicolls untuk memimpin xAI yang baru saja berganti nama menjadi SpaceXAI. Namun, tantangan yang dihadapi sangat berat.

Sebagai bagian dari rencana restrukturisasi, xAI berencana memangkas hingga 30 persen tenaga kerjanya pada Maret lalu. Proses PHK ini pun kacau. Banyak karyawan yang dipecat tanpa pemberitahuan resmi. Di sisi lain, upaya merekrut talenta baru juga bermasalah. Kandidat potensial sering kali tidak mendapat kabar setelah wawancara karena departemen SDM yang kekurangan staf tidak mampu menyelesaikan dokumen yang diperlukan.

Keraguan terhadap kepemimpinan Musk mulai muncul dari dalam. Beberapa karyawan percaya bahwa miliarder yang sukses membuat mobil dan roket ini tidak paham dengan AI. Mereka mengeluh bahwa menciptakan model bahasa besar (LLM) sangat berbeda dengan membuat perangkat keras. Proyek ambisius Musk, Macrohard, yang bertujuan menciptakan sistem agen AI yang bisa meniru seluruh perusahaan perangkat lunak, juga menuai skeptisisme dari para ahli.

Kontroversi lain semakin memperburuk moral karyawan. Awal tahun ini, Grok memicu kemarahan publik karena digunakan untuk menghasilkan jutaan gambar telanjang nonkonsensual dari orang sungguhan, termasuk anak-anak. Hal ini membuat beberapa karyawan merasa terganggu. Selain itu, xAI pernah berjanji akan membayar karyawan yang memberikan data SPT pajak mereka untuk melatih Grok, namun janji itu tidak pernah ditepati.

Puncak dari krisis kepercayaan ini adalah hengkangnya seluruh cofounder xAI. Pada Februari, beberapa mulai pergi saat Musk bersiap merger xAI dengan SpaceX. Tak lama setelah merger selesai, kesebelas cofounder xAI telah meninggalkan perusahaan. Ini adalah sinyal paling jelas bahwa arah perusahaan tidak lagi dipercaya oleh para pendirinya sendiri.

Dalam situasi yang semakin sulit, xAI mengambil langkah yang dianggap sebagai pengakuan kekalahan. Perusahaan menjual sebagian kelebihan daya komputasinya kepada Anthropic, rival yang coba mereka kejar. Ini adalah ironi yang nyata mengingat upaya putus asa Musk untuk meniru Claude. Perusahaan AI besar, termasuk Anthropic, memang kesulitan mencari kapasitas komputasi. xAI justru menjadi pengecualian langka karena model mereka hanya menggunakan 11 persen dari array komputasi mereka pada April lalu.

Selain ke Anthropic, xAI juga setuju menjual daya komputasi ke Google dan Reflection. Kesepakatan ini mengamankan pendapatan miliaran dolar, tetapi secara langsung menguntungkan pesaing terbesar xAI. Langkah ini dianggap sebagai tanda menyerah, bahwa xAI secara praktis mengakui tidak berada di level yang sama dengan pemain top industri dan hanya puas menjadi penjual perangkat keras, bukan pembangun model AI terbaik.

Kekacauan internal di xAI menunjukkan bahwa meskipun memiliki pendanaan dan ambisi besar, kesuksesan di bidang AI tidak bisa dibangun hanya dengan obsesi dan tekanan. Kepergian seluruh cofounder, PHK massal yang kacau, dan kontroversi etika menjadi bukti bahwa perusahaan ini sedang berada di titik kritis. Dengan IPO yang semakin dekat, masa depan xAI di bawah bayang-bayang Elon Musk masih menjadi tanda tanya besar.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.