Ilustrasi seorang pria di meja kerjanya bersembunyi di balik laptop dan mengintip keluar

Karyawan Boros Token AI, Perusahaan Rugi Besar

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Karyawan Slash menghabiskan $80.000 token AI untuk membuat video game berkualitas rendah
  • Pekerja non-teknologi Accenture menggunakan token AI untuk tugas sederhana seperti konversi PDF ke PowerPoint
  • Fenomena tokenmaxxing merugikan perusahaan secara finansial
  • Perusahaan AI terpaksa menaikkan harga token untuk menutupi biaya operasional
  • Analis membandingkan strategi AI dengan model bisnis Uber yang rugi bertahun-tahun
  • Perlu pengawasan ketat dan panduan penggunaan AI yang jelas

Telset.id – Fenomena karyawan yang menggunakan token AI secara berlebihan untuk tugas-tugas tidak produktif mulai merugikan perusahaan secara finansial. Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa praktik yang disebut tokenmaxxing ini justru menggerus anggaran perusahaan tanpa memberikan hasil yang sepadan.

Perusahaan fintech Slash menjadi contoh nyata dari masalah ini. Perusahaan tersebut mendorong karyawannya untuk menggunakan alat coding AI sebanyak mungkin demi meningkatkan produktivitas dan menekan biaya. Namun, hasilnya justru sebaliknya. Seorang karyawan Slash menghabiskan dana token AI hingga $80.000 hanya untuk membuat video game berkualitas rendah bernama “brainrot shooter.”

Game first-person shooter tersebut digambarkan sebagai pengalaman yang sangat monoton, di mana pemain berlari menembak musuh yang terinspirasi dari meme internet viral. Slash bahkan memposting di media sosial, “Pls play it so we can write this off as a marketing expense,” sebagai upaya untuk membenarkan pengeluaran besar tersebut.

Fenomena serupa juga terjadi di perusahaan konsultan global Accenture. Menurut laporan 404 Media, pekerja non-teknologi di Accenture menggunakan anggaran AI perusahaan untuk tugas-tugas sederhana seperti mengonversi file PDF menjadi presentasi PowerPoint. Praktik ini dianggap sebagai pemborosan sumber daya yang sangat besar.

Kepala strategi AI Accenture, Justice Kwak, dalam pertemuan internal yang bocor mengatakan, “Kami melihat dari beberapa data internal bahwa sebenarnya bukan insinyur kami yang mendorong konsumsi token. Ini banyak dilakukan oleh non-insinyur yang melakukan beberapa perilaku tersebut.” Hal ini menunjukkan ironi yang mendalam di mana karyawan justru melakukan apa yang diperintahkan — menggunakan teknologi AI dengan segala cara — namun justru memperlihatkan betapa sedikit manfaat yang mereka peroleh.

Masalah ini semakin kritis karena perusahaan AI terpaksa menaikkan harga untuk menutupi biaya operasional yang sangat besar. Akibatnya, praktik malicious compliance di tempat kerja yang selama ini terjadi mungkin akan segera berakhir.

Para pendukung AI berargumen bahwa pendekatan ini mirip dengan strategi Uber yang beroperasi rugi selama bertahun-tahun untuk menghancurkan industri taksi. Namun, analis industri teknologi Ed Zitron mencatat perbedaan mendasar. Uber menghabiskan sekitar $32 miliar untuk mencapai kapitalisasi pasar $155 miliar. Sementara itu, jumlah tersebut “kurang dari setengah dari yang dikumpulkan Anthropic dalam enam bulan terakhir” saja.

Ilustrasi situasi ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini, yang menunjukkan seorang karyawan yang tampak bersembunyi di balik laptopnya, menggambarkan perilaku tidak produktif di tempat kerja.

Ilustrasi seorang pria di meja kerjanya bersembunyi di balik laptop dan mengintip keluar

Perusahaan yang mendorong penggunaan AI tanpa batas kini menghadapi konsekuensi finansial yang serius. Karyawan yang menggunakan token AI untuk tugas-tugas tidak penting seperti membuat game atau mengonversi file sederhana telah menghabiskan anggaran perusahaan dalam jumlah yang mencengangkan.

Di Slash, satu karyawan menghabiskan $80.000 dalam token AI untuk membuat game berkualitas rendah. Sementara di Accenture, pekerja non-teknologi menggunakan anggaran AI untuk tugas-tugas yang sebenarnya bisa dilakukan dengan alat yang lebih murah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun AI memiliki potensi besar, implementasinya yang tidak terkendali justru dapat menjadi beban finansial bagi perusahaan. Tanpa pengawasan yang ketat dan panduan penggunaan yang jelas, investasi AI yang mahal bisa berakhir sia-sia.

Perusahaan-perusahaan yang telah berinvestasi besar dalam AI kini harus mengevaluasi kembali strategi mereka. Mereka perlu memastikan bahwa penggunaan token AI benar-benar memberikan nilai tambah bagi bisnis, bukan sekadar menjadi sumber pemborosan.

Ilustrasi di atas menggambarkan betapa ironisnya situasi ini. Karyawan yang bersembunyi di balik laptopnya mencerminkan perilaku yang tidak produktif, sementara perusahaan terus menggelontorkan dana besar untuk teknologi yang belum terbukti efektif.

Analis industri menyarankan agar perusahaan lebih selektif dalam memberikan akses token AI kepada karyawan. Mereka juga perlu memberikan pelatihan yang memadai agar karyawan dapat memanfaatkan AI secara optimal untuk tugas-tugas yang benar-benar membutuhkan teknologi tersebut.

Dengan harga token AI yang terus meningkat, perusahaan tidak bisa lagi membiarkan praktik tokenmaxxing berlanjut tanpa pengawasan. Langkah-langkah pengendalian biaya dan audit penggunaan token AI menjadi semakin penting untuk menjaga kesehatan finansial perusahaan.

Fenomena ini juga menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan lain yang berencana mengadopsi AI secara besar-besaran. Mereka harus belajar dari kesalahan Slash dan Accenture agar tidak terjebak dalam jebakan biaya yang sama.

Kesimpulannya, dorongan untuk menggunakan AI secara berlebihan tanpa panduan yang jelas justru dapat merugikan perusahaan secara finansial. Perusahaan perlu menyeimbangkan antara inovasi dan efisiensi biaya agar investasi AI benar-benar memberikan manfaat yang diharapkan.

Bagi Anda yang tertarik dengan perkembangan AI dan dampaknya terhadap dunia kerja, artikel terkait tentang Amazon Investigasi Karyawan dan Amazon Investigasi Tiga Insinyur dapat memberikan wawasan tambahan tentang tantangan implementasi AI di perusahaan besar.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.