Telset.id – Seorang jurnalis pemerintah di Cleveland.com mengungkapkan kemarahannya setelah artikel buatan kecerdasan buatan (AI) terbit menggunakan nama dan byline-nya tanpa sepengetahuan maupun persetujuannya. Insiden ini memicu pertanyaan serius tentang etika penggunaan AI di ruang redaksi dan hak kepemilikan nama seorang wartawan.
Kaitlin Durbin, reporter pemerintah untuk Cleveland.com, menyatakan bahwa dirinya sedang berlibur bulan madu ketika perusahaan tempatnya bekerja menerbitkan artikel yang dihasilkan oleh mesin dengan mencantumkan namanya sebagai penulis. Dalam unggahan di X pada 7 September, Durbin menegaskan bahwa artikel tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan liputan yang biasa ia kerjakan.
“Mencoba memahami bagaimana cerita ini bisa terbit dengan byline saya minggu lalu saat saya sedang berbulan madu. Saya tidak menulis atau meninjau satu kata pun dari artikel itu dan artikel itu juga tidak mengambil informasi dari pelaporan saya sebelumnya,” tulis Durbin. “Apakah Cleveland.com menganggap mereka kini memiliki nama saya?”
Artikel yang menjadi sumber masalah adalah berita lokal yang menginformasikan pembaca bahwa direktur hukum di Cuyahoga County, Ohio, akan mengundurkan diri dari jabatannya. Konten semacam itu jelas di luar bidang pelaporan Durbin yang selama ini fokus pada isu-isu pemerintahan.

Artikel AI dan Byline Bermasalah
Cleveland.com sendiri merupakan rumah digital dari The Plain Dealer, surat kabar terbesar di negara bagian Ohio. Artikel yang menuai kontroversi tersebut diproduksi oleh “Cleveland.com Express Desk,” sebuah inisiatif yang menurut perusahaan “menggunakan alat AI untuk membantu memproduksi konten.” Pihak koran mengklaim bahwa setiap artikel yang dihasilkan melalui mekanisme ini telah “ditinjau dan disunting oleh staf.”
Namun, pernyataan Durbin secara langsung membantah klaim tersebut. Ia menegaskan tidak pernah melihat, apalagi menyetujui, penerbitan artikel itu dengan namanya. Ketika dihubungi di luar jam kerja normal, Cleveland.com tidak memberikan tanggapan langsung atas permintaan komentar.
Setelah protes Durbin viral di media sosial, artikel kontroversial tersebut akhirnya diperbarui dengan menghapus nama Durbin dari byline. Pihak koran juga menambahkan catatan koreksi pada artikel tersebut.
“Catatan: Cerita ini telah diperbarui untuk mengoreksi byline,” demikian bunyi koreksi tersebut. “Byline seorang reporter ditambahkan ke cerita ini karena kesalahan.”
Baca Juga:
Latar Belakang Keputusan Cleveland.com
Kontroversi ini bukan yang pertama bagi Cleveland.com dalam kaitannya dengan penggunaan AI. Pada bulan Februari lalu, editor Cleveland.com, Chris Quinn, telah menerbitkan surat terbuka untuk para pembaca. Dalam surat tersebut, Quinn membahas langkah perusahaan untuk membentuk meja berita bertenaga AI.
Surat itu menobatkan AI sebagai “masa depan” jurnalisme dan mengkritik sekolah jurnalistik serta para pencari kerja di bidang tersebut karena dinilai kurang serius mengadopsi teknologi ini. “Kecerdasan buatan tidak buruk bagi ruang redaksi,” tulis Quinn dalam suratnya. “AI adalah masa depan mereka.”
Editor berpendapat bahwa AI hanya digunakan untuk mempercepat pekerjaan jurnalis sungguhan dan akan membebaskan mereka untuk melakukan lebih banyak pelaporan di lapangan. Pernyataan senada juga disampaikan oleh Leila Atassi, editor kepentingan publik dan advokasi di Cleveland.com dan The Plain Dealer, dalam wawancaranya dengan Columbia Journalism Review pada waktu itu.
Atassi menegaskan bahwa cerita yang diterbitkan oleh meja berita AI koran tersebut akan tetap menjadi “hasil kerja reporter sungguhan.” “Ini akuntabilitas yang nyata,” lanjut Atassi. “AI adalah asistennya, tapi AI bukanlah jurnalisnya.”
Saat ini, artikel yang memicu protes Durbin tidak lagi mencantumkan byline siapa pun. Kondisi ini membuat tidak jelas sumber pelaporan mana yang sebenarnya digunakan untuk menghasilkan artikel tersebut.
Kasus ini menambah daftar panjang persoalan etika seputar penggunaan AI di industri media. Sebelumnya, publik juga dihebohkan dengan praktik sejumlah perusahaan yang menggunakan AI untuk meniru jurnalis yang sudah dipecat, sebuah praktik yang jelas merugikan profesi wartawan. Di sisi lain, sejumlah pihak mulai mengembangkan teknologi AI untuk mengawasi kualitas jurnalisme, meskipun pendekatan semacam ini juga menuai perdebatan tersendiri.
Implikasi bagi Dunia Jurnalistik
Insiden yang menimpa Kaitlin Durbin menunjukkan adanya celah besar dalam prosedur editorial ketika AI dilibatkan dalam produksi konten. Klaim bahwa setiap artikel AI telah “ditinjau dan disunting oleh staf” terbukti tidak sepenuhnya akurat, setidaknya dalam kasus ini. Byline yang salah dipasang pada artikel yang tidak pernah dibaca oleh orang yang namanya tercantum merupakan bentuk pelanggaran etika jurnalistik yang serius.
Dari perspektif jurnalis, kasus ini menggarisbawahi pentingnya kontrol penuh atas nama dan reputasi profesional mereka. Byline bukan sekadar label penulis, melainkan representasi akuntabilitas dan integritas seorang wartawan terhadap setiap kata yang terbit. Ketika AI dapat menempatkan nama seseorang pada konten yang tidak pernah ia tulis, maka kepercayaan pembaca terhadap kredibilitas jurnalis tersebut ikut terancam.
Bagi industri media secara luas, kejadian ini menjadi pelajaran berharga bahwa adopsi teknologi AI harus diimbangi dengan pengawasan ketat dan prosedur yang jelas. Kegagalan Cleveland.com dalam menjaga akurasi byline menunjukkan bahwa otomatisasi proses editorial tanpa verifikasi yang memadai dapat menimbulkan masalah hukum dan reputasi yang serius.
Sementara itu, Durbin sendiri masih menunggu jawaban dari perusahaannya atas pertanyaan retorisnya yang cukup pedas: apakah Cleveland.com merasa memiliki nama para jurnalisnya? Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dari pihak manajemen Cleveland.com mengenai langkah perbaikan yang akan diambil untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.





Komentar
Belum ada komentar.